| dc.description.abstract | Ketahanan pangan merupakan salah satu aspek yang penting dalam menjamin kebutuhan pangan. Salah satu cemaran kimia yang dapat memengaruhi kemanan pangan adalah residu pestisida, sehingga residu harus berada di bawah batas maksimum yang telah ditentukan. Pada komoditas hortikultura seperti sayuran, kualitas menjadi prioritas. Namun, di lapangan penggunaan pestisida oleh petani seringkali tidak sesuai dengan anjuran. Penelitian sebelumnya pada tanaman kangkung menunjukkan bahwa residu profenofos dan imidakloprid yang diaplikasikan terakhir pada 3 hari sebelum panen (HSP), serta deltametrin pada 3 dan 7 HSP melebihi batas maksimum residu (BMR). Selain itu, rendahnya pengetahuan petani mengenai penggunaan pestisida dan residu dapat memengaruhi sikap dan tindakan dalam penggunaan pestisida. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan tindakan petani kangkung dalam pengaplikasian insektisida terkait dengan residu pestisida dan menganalisis kandungan residu tiga bahan aktif insektisida pada tanaman kangkung yang dipanen berdasarkan interval waktu aplikasi insektisida terakhir yang berbeda.
Kegiatan penelitian ini meliputi wawancara petani, penanaman kangkung dan aplikasi insektisida di rumah kaca dan analisis residu insektisida pada tanaman kangkung di laboratorium uji. Hasil analisis residu di laboratorium kemudian dibandingkan dengan BMR pada Standar Nasional Indonesia No. 7313:2024 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida pada Komoditas Pertanian Asal Tumbuhan. Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif yang ditampilkan dalam bentuk tabulasi dan grafik menggunakan Microsoft office excel 2019, dilanjutkan analisis menggunakan uji Chi-Square dengan taraf nyata 5% menggunakan perangkat SPSS.
Petani di Desa Ciaruteun Ilir dan Cijujung memiliki pengetahuan yang termasuk kategori kurang baik, sikap petani termasuk kedalam kategori baik dan tindakan petani termasuk kedalam kategori baik. Hubungan pengetahuan dan sikap petani menunjukan nilai p < 0,05 maka terdapat hubungan yang nyata, hasil tabulasi silang menunjukan bahwa pengetahuan baik dengan sikap baik sebanyak 11 petani. Hubungan pengetahuan dan tindakn petani menunjukan nilai p < 0,05 maka terdapat hubungan yang nyata, hasil tabulasi silang menunjukkan sebanyak 9 petani memiliki pengetahuan yang baik dengan tindakan yang baik.
Residu deltametrin yang diaplikasikan terakhir pada 3 HSP masih melebihi BMR, berbeda dengan profenofos dan klorantraniliprol yang berada di bawah BMR. Aplikasi terakhir pada 7 dan 14 HSP pada ketiga bahan aktif menunjukan residu berada di bawah BMR berdasarkan SNI. Kadar residu dari ketiga bahan aktif menurun seiring bertambahnya interval antara aplikasi terakhir dengan waktu panen. Perbedaan laju penurunan diduga dipengaruhi oleh waktu paruh dan dapat diakibatkan oleh sifat fisik-kimia pestisida. Selain itu, perbedaan waktu paruh menyebabkan laju degradasi berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. | |