Evaluasi Tata Kelola Pelestarian Lanskap Sejarah di Kota Pusaka Bogor
Date
2026Author
Andini, Raisha Azzahra Nur
Arifin, Hadi Susilo
Nurhayati
Metadata
Show full item recordAbstract
Kota Bogor telah memiliki identitas Kota Pusaka sejak tahun 2012 dan telah
melakukan berbagai upaya dalam pelestarian dan pengelolaan pusaka. Kota Bogor
memiliki jejak-jejak peradaban sejarah yang telah menjadi aset pusaka kota dalam
membentuk identitas Bogor di masa kini. Sesuai dengan amanat peraturan
mengenai Kota Pusaka, Kota Pusaka Bogor perlu menerapkan aspek keberlanjutan
agar identitas lanskap sejarah Kota Bogor tetap lestari dan program Kota Pusaka
tetap dijalankan. Seluruh kegiatan program Kota Pusaka yang telah dilakukan Kota
Bogor perlu mendapatkan evaluasi sehingga identitas Kota Bogor sebagai Kota
Pusaka dapat berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi lanskap pada setiap Kawasan
Pusaka, menganalisis tata kelola dan kelembagaan Kota Pusaka Bogor,
menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat, serta menyusun rekomendasi
strategi tata kelola pelestarian lanskap sejarah yang berkelanjutan dan partisipatif.
Kondisi lanskap dianalisis berdasarkan aspek lanskap, pemanfaatan, serta integritas
dan autentisitas. Tata kelola dianalisis melalui kebijakan, dokumen perencanaan,
struktur kelembagaan, pembagian peran, dan koordinasi antarinstansi. Persepsi dan
partisipasi masyarakat dianalisis secara deskriptif setelah melalui uji validitas dan
reliabilitas. Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan penilaian
lima pakar terhadap lima faktor keberlanjutan, 16 objektif tindakan pelestarian, dan
delapan alternatif Kawasan Pusaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan Kawasan Pusaka memiliki
karakter lanskap sejarah yang berbeda dengan sebaran 34 Cagar Budaya dan 453
Objek Diduga Cagar Budaya. Akan tetapi, kondisi lanskap Kawasan Pusaka di Kota
Bogor menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan, penurunan kualitas fisik,
dan belum meratanya penguatan fungsi pelestarian. Tata kelola pelestarian telah
didukung peraturan dan dokumen perencanaan daerah, tetapi belum dilengkapi
pedoman operasional Kota Pusaka, sinkronisasi kebijakan yang konsisten, serta
mekanisme koordinasi dan evaluasi yang efektif. Masyarakat memiliki kepedulian
dan keinginan berpartisipasi yang tinggi, tetapi keterlibatannya masih terhambat
oleh keterbatasan akses informasi, fasilitas pendukung, dan wadah partisipasi yang
terstruktur. Berdasarkan hasil analisis AHP, rekomendasi strategi tata kelola
pelestarian lanskap sejarah di Kota Pusaka Bogor diprioritaskan pada faktor
kebijakan, sosial, ekologi, kelembagaan, dan ekonomi. Kelima prioritas tersebut
diwujudkan dalam strategi: (1) penguatan konsistensi kebijakan dan pengendalian
pemanfaatan ruang Kawasan Pusaka; (2) peningkatan partisipasi masyarakat
melalui edukasi dan fasilitasi pelestarian; (3) penataan elemen lanskap sejarah
berbasis karakter Kawasan Pusaka; (4) pemberdayaan komunitas berbasis
kelembagaan kolaboratif; serta (5) pengembangan wisata sejarah dan interpretasi
kawasan. Kelima strategi ini saling berkaitan dan direkomendasikan sebagai satu
kesatuan tata kelola yang terintegrasi dalam Guideline Kota Pusaka Bogor. Bogor has held Heritage City status since 2012 and undertaken various
heritage preservation and management efforts. Historical traces have become urban
heritage assets shaping its present-day identity. In accordance with regulations
concerning Heritage Cities, Bogor Heritage City needs to incorporate sustainability
principles to preserve Bogor’s historical landscapes and ensure implementation of
the Heritage City Program. All activities undertaken under the program need to be
evaluated to support sustainability of Bogor’s identity as a Heritage City.
This study aimed to analyze the landscape conditions of each Heritage Area,
examine the governance and institutional arrangements of Bogor Heritage City,
assess community perceptions and participation, and formulate recommendations
for sustainable and participatory historical landscape preservation governance
strategies. Landscape conditions were analyzed based on landscape aspects,
utilization, integrity, and authenticity. Governance was examined through policies,
planning documents, institutional structures, the division of roles, and interagency
coordination. Community perceptions and participation were analyzed
descriptively after validity and reliability testing. The Analytical Hierarchy Process
(AHP) was conducted based on assessments by five experts of five sustainability
factors, 16 preservation-action objectives, and eight Heritage Area alternatives.
The results showed that the eight Heritage Areas have different historical
landscape characteristics, with 34 designated Cultural Heritage assets and 453
Suspected Cultural Heritage Objects distributed throughout the city. However, the
landscape conditions of Bogor’s Heritage Areas face pressures from land-use
change, declining physical quality, and uneven implementation of preservation
efforts. Preservation governance has been supported by regulations and regional
planning documents, but it still lacks an operational guideline for the Heritage City,
consistent policy alignment, and effective coordination and evaluation mechanisms.
The community demonstrated a high level of concern and willingness to participate,
although its involvement remains constrained by limited access to information,
inadequate supporting facilities, and the absence of structured participation
platforms. Based on the AHP results, the recommended historical landscape
preservation governance strategies for Bogor Heritage City were prioritized
according to policy, social, ecological, institutional, and economic factors. These
five priorities were translated into the following strategies: (1) strengthening policy
consistency and controlling spatial utilization within Heritage Areas; (2) increasing
community participation through education and preservation facilitation; (3)
organizing historical landscape elements based on the character of each Heritage
Area; (4) empowering communities through collaborative institutional
arrangements; and (5) developing heritage tourism and area interpretation. These
five strategies are interconnected and are recommended as an integrated governance
framework within the Bogor Heritage City Guideline.
Collections
- MF - Agriculture [4087]

