| dc.contributor.advisor | Pravitasari, Andrea Emma | |
| dc.contributor.advisor | Sulistyantara, Bambang | |
| dc.contributor.author | Wicaksono, Satrio Adi | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-07T01:14:33Z | |
| dc.date.available | 2026-08-07T01:14:33Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177509 | |
| dc.description.abstract | Lada (Piper L. Nigrum) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda, dengan jejak awal masuknya tanaman ini ke Indonesia pada abad ke-16. Kabupaten Belitung dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di mana hingga kini komoditas tersebut tetap menjadi unggulan daerah. Namun, produktivitas dan luas perkebunan lada mengalami penurunan akibat berkurangnya minat petani, sehingga banyak yang meninggalkan usaha lada dan memicu konversi lahan menjadi pertambangan timah ilegal. Di sisi lain, sektor pariwisata Kabupaten Belitung menghadapi tantangan berupa fluktuasi kunjungan wisatawan, yang diperparah oleh pandemi COVID-19 serta keterbatasan variasi dari produk wisata. Kondisi ini menegaskan perlunya perencanaan strategis yang tidak hanya menjaga keberlanjutan perkebunan lada, tetapi juga mendorong diversifikasi produk wisata. Perencanaan agrowisata menjadi strategi penting untuk mengintegrasikan kedua sektor tersebut dalam memperkuat daya tarik di Kabupaten Belitung, khususnya di Kecamatan Membalong.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi sebaran perkebunan lada, (2) menilai kesesuaian dan ketersediaan lahan, (3) menganalisis pengembangan wilayah menggunakan analisis skalogram, serta (4) menentukan wilayah prioritas untuk perencanaan kawasan agrowisata. Metode penelitian meliputi survei lapangan, analisis kesesuaian dan ketersediaan lahan dengan table matching, analisis skalogram, serta metode Simple Additive Weighting (SAW).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19 perkebunan lada yang tersebar di Kecamatan Membalong, dengan Desa Simpang Rusa memiliki jumlah terbanyak, yaitu enam perkebunan. Analisis kesesuaian lahan didominasi kelas S3 (75%) dan sebagian kecil kelas S2 (13%) yang mengindikasikan bahwa tingkat kesesuaian masih bersifat marginal. Lahan potensial terdiri dari lima jenis tutupan, yaitu belukar, hutan lahan kering, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran, dan tanah terbuka dengan pertanian lahan kering campuran merupakan yang terluas (65%), dan Desa Lassar memiliki potensi lahan terbesar. Hasil overlay menunjukkan bahwa terdapat 13 dari 19 kebun berada di lahan potensial tersebut.
Hierarki wilayah dibagi menjadi tiga tingkatan: Desa Pulau Seliu, Padang Kandis, dan Gunung Riting berada pada tingkat pertama; Desa Perpat dan Mentigi pada tingkat kedua. Hasil tersebut juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian spasial antara pengembangan infrastruktur pariwisata dan distribusi sumber daya perkebunan lada. Berdasarkan hasil skoring dengan metode SAW, Desa Simpang Rusa ditetapkan sebagai prioritas utama perencanaan pembangunan agrowisata. Secara keseluruhan, budidaya lada di Kecamatan Membalong masih memerlukan peningkatan, dengan ketersediaan lahan yang sesuai sebagai aset penting dan pengembangan infrastruktur terintegrasi sebagai faktor kunci dalam mendukung perencanaan agrowisata berbasis lada yang berkelanjutan. | |
| dc.description.abstract | Pepper (Piper L. Nigrum) in the Bangka Belitung Islands Province has a long history dating back to the Dutch colonial era, with its initial introduction to Indonesia in the 16th century. Belitung Regency is recognized as one of the main centers of pepper plantations in the province, where the commodity has remained a regional flagship. However, both productivity and plantation area have declined due to decreasing farmer interest, leading many to abandon pepper cultivation and convert land into illegal tin mining. On the other hand, the tourism sector in Belitung Regency has faced challenges, including fluctuating tourist arrivals exacerbated by the COVID-19 pandemic and limited diversification of tourism products. These conditions highlight the need for strategic planning that not only ensures the sustainability of pepper plantations but also promotes the diversification of tourism products. Agrotourism planning has thus emerged as a crucial strategy to integrate both sectors in strengthening the attractiveness of Belitung Regency, particularly in Membalong Subdistrict.
This study aimed to: (1) identify the distribution of pepper plantations, (2) assess land suitability and availability, (3) analyze regional development using scalogram analysis, and (4) determine priority areas for agrotourism planning. The research methods included field surveys, land suitability and availability analysis using table matching, scalogram analysis, and the Simple Additive Weighting (SAW) method.
The findings revealed 19 pepper plantations scattered across Membalong Subdistrict, with Simpang Rusa Village having the most, totaling 6 plantations. Land suitability analysis indicated that the area was dominated by class S3 (75%) and a smaller portion of class S2 (13%), suggesting marginal suitability. The potential land consisted of five cover types: shrubland, dryland forest, dryland farming, mixed dryland farming, and open land, with mixed dryland farming being the largest (65%). Lassar Village was identified as having the greatest land potential. Overlay analysis showed that 13 out of 19 plantations were located on potential land.
Regional hierarchy was divided into three levels: Pulau Seliu, Padang Kandis, and Gunung Riting were classified at the first level; Perpat and Mentigi at the second level. The results also revealed spatial mismatches between tourism infrastructure development and the distribution of pepper plantation resources. Based on SAW scoring, Simpang Rusa Village was designated as the top priority for agrotourism development planning. Overall, pepper cultivation in Membalong Subdistrict still requires improvement, with suitable land availability serving as a key asset and integrated infrastructure development as a critical factor in supporting sustainable pepper-based agrotourism planning. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Potensi Perkebunan Lada dan Infrastruktur Wilayah
untuk Perencaanaan Agrowisata di Kecamatan Membalong Kabupaten Belitung | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Agrowisata | id |
| dc.subject.keyword | infrastruktur wilayah | id |
| dc.subject.keyword | kesesuaian lahan | id |
| dc.subject.keyword | Ketersediaan Lahan | id |
| dc.subject.keyword | Perkebunan lada | id |
| dc.subtype | Theses | |