Disertasi a.n Ratnawaty Fadilah (P0602222030)
Date
2026Author
Fadilah, Ratnawaty
Kusmana, Cecep
Sutjahjo, Surjono Hadi
Sulistiono
Machfud
Metadata
Show full item recordAbstract
Pulau-pulau kecil menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem yang menopangnya. Di banyak wilayah pulau kecil, peningkatan produksi pangan sering dilakukan melalui pengembangan ruang produksi untuk udang dan bandeng. Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan, menjadi representasi untuk memahami bagaimana perubahan ekosistem mangrove memengaruhi produktivitas perikanan dan ketahanan pangan di pulau kecil. Dalam empat dekade terakhir, lebih dari 70% hutan mangrove di Pulau Tanakeke telah dikonversi menjadi tambak udang dan bandeng sehingga komposisi kawasan pasang surut berubah menjadi sekitar 40% mangrove dan 60% tambak.
Peningkatan produksi yang diharapkan dari konversi mangrove ternyata hanya bersifat sementara. Setelah beberapa tahun, produktivitas tambak mulai menurun, dan pada saat yang sama hasil tangkapan perikanan juga semakin berkurang, sehingga manfaat ekonomi yang diharapkan tidak lagi dapat dipertahankan. Perubahan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah hilangnya mangrove hanya mengurangi luas tutupan vegetasi, atau turut melemahkan fungsi-fungsi ekologis yang selama ini menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan masyarakat pulau?
Untuk menjawab pertanyaan besar tersebut, penelitian ini menggunakan sudut pandang mangrove, perikanan, dan ketahanan pangan sebagai satu sistem sosial-ekologi yang saling berkaitan. Pendekatan ini digunakan untuk menelusuri bagaimana perubahan integritas ekosistem mangrove memengaruhi kualitas lingkungan, produktivitas perikanan, kesejahteraan masyarakat, hingga ketahanan pangan rumah tangga. Penelitian dilakukan di enam desa di Pulau Tanakeke dengan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan analisis biofisik, sosial-ekonomi, ketahanan pangan, keberlanjutan, identifikasi aktor dan faktor kunci, serta penyusunan strategi pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan.
Penelitian ini membuktikan bahwa berkurangnya integritas ekosistem mangrove tidak hanya mengubah tutupan lahan, tetapi juga melemahkan proses-proses ekologis yang menopang sistem pangan perikanan di Pulau Tanakeke. Dampak tersebut terjadi secara berantai, mulai dari penurunan kualitas tanah dan perairan, mengganggu struktur trofik, menurunkan produktivitas perikanan tangkap maupun budidaya, dan pada akhirnya meningkatkan kerentanan sosial-ekonomi masyarakat.
Ironisnya, meskipun ruang produksi terus bertambah, sekitar 92,85% rumah tangga masih mengalami kerawanan pangan. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan produksi tanpa menjaga fungsi ekosistem tidak mampu mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Sebaliknya, kawasan dengan integritas mangrove yang lebih baik mampu mempertahankan kualitas lingkungan, produktivitas perikanan, dan ketahanan sistem pangan yang lebih tinggi. Degradasi
mangrove telah membawa Pulau Tanakeke dalam kondisi social-ecological trap, yaitu kondisi ketika degradasi ekosistem dan kerentanan sosial-ekonomi saling memperkuat sehingga masyarakat semakin bergantung pada eksploitasi sumber daya, yang pada akhirnya mempercepat kerusakan ekosistem itu sendiri dan semakin mempersempit pilihan untuk keluar dari kondisi tersebut.
Analisis MICMAC, MACTOR, dan keberlanjutan mengidentifikasi bahwa kesehatan mangrove, konektivitas hidrologi, tata kelola kelembagaan, koordinasi multipihak, dan pengendalian konversi mangrove merupakan faktor pengungkit utama yang menentukan keberlanjutan sistem. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan strategi pengelolaan melalui lima pilar, yaitu penguatan tata kelola, pengendalian degradasi dan konversi mangrove, pemulihan integritas ekosistem, pengembangan perikanan dan budidaya ramah lingkungan, serta penguatan penghidupan masyarakat pesisir.
Kebaruan utama penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka analisis yang menjelaskan keterkaitan antara integritas ekosistem mangrove, produktivitas trofik, produktivitas perikanan, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan pangan pada pulau kecil. Kerangka ini mengungkap mekanisme bagaimana degradasi maupun pemulihan mangrove memengaruhi kualitas lingkungan, produktivitas perikanan, kesejahteraan masyarakat, hingga ketahanan pangan melalui interaksi sosial-ekologi. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya mengkaji aspek biofisik, sosial-ekonomi, atau tata kelola secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan seluruh dimensi tersebut dalam satu kerangka sistem yang utuh sebagai dasar penyusunan strategi pengelolaan mangrove berkelanjutan.
Penelitian ini menegaskan bahwa ketahanan pangan masyarakat pulau kecil merupakan hasil interaksi antara integritas ekosistem mangrove dan produktivitas perikanan, sehingga bersifat ecosystem dependent. Dengan demikian, keberlanjutan sistem pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem mempertahankan fungsi-fungsi ekologis yang menopang produktivitas perikanan dan penghidupan masyarakat. Temuan ini memperluas perspektif pengelolaan mangrove dengan menempatkan integritas ekosistem sebagai fondasi pembangunan pangan berkelanjutan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

