| dc.contributor.advisor | Tinaprilla, Netti | |
| dc.contributor.advisor | Fariyanti, Anna | |
| dc.contributor.author | Nazri, Faiz Alfian | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-06T02:55:23Z | |
| dc.date.available | 2026-08-06T02:55:23Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177357 | |
| dc.description.abstract | Peternakan sapi perah memiliki peran krusial dalam menyediakan kebutuhan susu nasional, namun produksi susu domestik terus mengalami tren penurunan hingga hanya mencapai 787.374 ton pada tahun 2023. Penurunan ini mengakibatkan produksi nasional hanya mampu memenuhi 21% dari total konsumsi masyarakat, sehingga pemerintah harus mengimpor 79% sisanya untuk menutupi kekurangan pasokan tersebut. Kesenjangan yang signifikan ini berakar pada kondisi struktural industri susu di Indonesia yang 90% pasokannya didominasi oleh peternakan rakyat skala kecil dengan tingkat produktivitas yang masih rendah dan belum beroperasi pada skala ekonomi yang efisien.
Rendahnya produktivitas tersebut tercermin di Kabupaten Bandung Barat, yang merupakan kabupaten dengan populasi sapi perah tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Mayoritas peternak di sentra produksi utama seperti Kecamatan Lembang masih bergantung pada metode pemerahan konvensional secara manual yang padat karya dan tidak efisien. Metode konvensional ini memicu berbagai persoalan kompleks, mulai dari tingginya porsi biaya tenaga kerja di tengah minimnya minat generasi muda, laju pemerahan yang sangat lambat, hingga kehilangan potensi output susu harian dan tingginya risiko kualitas higienitas akibat kontak manual.
Sebagai respons terhadap kendala operasional tersebut, mekanisasi melalui adopsi teknologi milking machine (mesin perah) menjadi solusi strategis karena secara teoritis mampu memangkas waktu kerja hingga 40% dan meningkatkan produksi susu hingga 20%. Meskipun Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang telah memfasilitasi adopsi ini melalui skema kredit, penerapannya masih belum merata akibat tingginya biaya investasi awal dan terbatasnya kapasitas teknis peternak skala kecil. Terdapatnya kesenjangan antara potensi teoretis teknologi dan realitas rendahnya produktivitas di lapangan mendorong penelitian ini untuk mengkaji secara komprehensif apakah penggunaan milking machine secara nyata mampu meningkatkan efisiensi teknis serta memberikan peningkatan keuntungan bagi usaha peternakan di Kecamatan Lembang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi usahaternak sapi perah di Kecamatan Lembang; (2) menganalisis pengaruh penggunaan teknologi milking machine terhadap efisiensi teknis usahaternak sapi perah di Kecamatan Lembang; (3) menganalisis perubahan keuntungan secara parsial akibat adopsi teknologi milking machine di Kecamatan Lembang.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dari bulan November 2025 hingga April 2026. Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner terhadap 124 peternak sapi perah yang dipilih melalui clustered purposive sampling. Sampel tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu 56 peternak yang telah mengadopsi mesin perah dan 68 peternak yang masih menggunakan metode manual. Analisis data menggunakan fungsi produksi Transcendental Logarithmic (translog) dengan Maximum Likelihood Estimation (MLE), Stochastic Meta-Frontier (SMF) untuk mengukur tingkat efisiensi dan kesenjangan teknologi antar kelompok, serta analisis anggaran parsial untuk menghitung perbandingan dampak finansialnya.
Hasil analisis fungsi produksi menggunakan model Transcendental Logarithmic (translog) menunjukkan bahwa jumlah produksi susu sapi perah di Kecamatan Lembang secara signifikan dipengaruhi oleh tiga variabel utama: jumlah sapi laktasi, pemberian vitamin, dan penggunaan tenaga kerja. Temuan menarik terlihat pada variabel tenaga kerja yang memiliki nilai elastisitas negatif (-0,2519), yang mengindikasikan bahwa sistem manual telah memasuki tahap irasional akibat adanya pengangguran terselubung (disguised unemployment) serta pemborosan waktu dalam manajemen kandang. Secara keseluruhan, total nilai elastisitas produksi mencapai angka 1,0108 yang berarti usaha peternakan di wilayah tersebut beroperasi pada kondisi increasing return to scale, sehingga peternak masih memiliki ruang untuk meningkatkan hasil produksi secara proporsional melalui optimalisasi input pendukung.
Evaluasi terhadap efisiensi teknis membuktikan bahwa peternak yang mengadopsi teknologi milking machine beroperasi jauh lebih efisien dibandingkan peternak manual. Kelompok pengguna mesin perah mencatat skor Meta-Technical Efficiency (MTE) sebesar 0,9928 dengan Technology Gap Ratio (TGR) mencapai angka maksimal (1,0000), yang menegaskan bahwa mereka telah menyentuh batas produksi paling optimal (meta-frontier). Sebaliknya, kelompok peternak konvensional hanya mencapai nilai MTE sebesar 0,7836, yang bermakna bahwa mereka kehilangan 21,64% potensi produktivitas aktualnya karena terhambat oleh batasan biologis tenaga manusia. Analisis lanjutan juga menemukan bahwa inefisiensi teknis ini dapat ditekan secara signifikan oleh lamanya pengalaman beternak dan keikutsertaan dalam program pelatihan atau pendampingan, sementara faktor usia yang semakin tua justru meningkatkan inefisiensi.
Dari perspektif kelayakan ekonomi, analisis anggaran parsial mengonfirmasi bahwa transisi dari metode padat karya menuju mekanisasi ini sangat menguntungkan secara finansial. Penggunaan mesin perah terbukti mampu menekan biaya operasional melalui penghematan upah tenaga kerja sebesar Rp346.403,92 dan biaya vaselin/pelicin ambing sebesar Rp100.880,65 per bulan. Meskipun adopsi ini memunculkan struktur biaya tetap yang baru seperti penyusutan mesin, pemeliharaan rutin, dan beban listrik, pengeluaran tersebut berhasil tertutupi oleh lonjakan penerimaan susu yang mencapai Rp6.346.212,30 per bulan akibat peningkatan volume produksi dan kualitas harga jual. Secara akumulatif, peternak yang beralih menggunakan milking machine menikmati total peningkatan keuntungan bersih sebesar Rp5,024,390.70 setiap bulannya, yang memperkuat bukti bahwa inovasi ini sangat layak untuk diterapkan. | |
| dc.description.abstract | Dairy farming plays a crucial role in fulfilling national milk requirements. However, domestic milk production has faced a continuous downward trend, reaching a mere 787.374 tons in 2023. This decline means national output can only satisfy 21% of total public consumption, forcing the government to import the remaining 79% to cover the deficit. This substantial gap is rooted in the structural dynamics of the Indonesian dairy industry, where 90% of the supply is dominated by smallholder operations that struggle with low productivity and sub-optimal economies of scale. Such productivity challenges are distinctly evident in West Bandung Regency, the region holding the largest dairy cattle population in West Java Province. Most farmers in primary production centers like Lembang District still rely on traditional, manual milking methods that are highly labor-intensive and inefficient. This conventional approach creates a complex set of issues, ranging from an inflated labor cost burden amid a declining interest from younger generations, to sluggish milking rates, lost daily milk output, and elevated hygiene risks associated with manual handling.
Mechanization via the adoption of milking machines provides a strategic solution to these operational bottlenecks. Theoretically, this technology has the potential to cut labor time by up to 40% and increase milk yields by 20%. While the North Bandung Dairy Farmers Cooperative (KPSBU Lembang) has facilitated access to this equipment through credit schemes, its implementation remains inconsistent due to steep initial investment costs and the constrained technical capacity of small-scale farmers. The evident disparity between the theoretical promise of mechanization and the reality of low field productivity forms the rationale for this study, which aims to comprehensively investigate whether utilizing milking machines tangibly improves technical efficiency and farm profitability in Lembang District.
Accordingly, the specific objectives of this research are (1) to analyze the determinants influencing dairy farm production in Lembang District; (2) to examine the impact of milking machine adoption on the technical efficiency of these dairy operations; and (3) to evaluate the partial changes in profitability resulting from the technological shift.
The study was conducted in Lembang District, West Bandung Regency, spanning from November 2025 to April 2026. Primary data were gathered using interviews and structured questionnaires from 124 dairy farmers selected through stratified random sampling. The sample comprised two distinct strata: 56 farmers who had adopted milking machines and 68 who maintained manual methods. The analytical framework incorporated a Transcendental Logarithmic (Translog) production function estimated via Maximum Likelihood Estimation (MLE), a Stochastic Meta-Frontier (SMF) model to evaluate efficiency levels and technology gaps across groups, and a partial budget analysis to quantify comparative financial impacts.
Results from the Translog production function model reveal that milk yield in the study area is significantly determined by three main variables: the number of lactating cows, vitamin supplementation, and labor usage. Notably, the labor variable demonstrated a negative elasticity (-0,2519), indicating that the manual milking system has entered the irrational stage of production, largely driven by disguised unemployment and time misallocation in farm management. Overall, the sum of production elasticities reached 1,0108, confirming that regional dairy enterprises operate under increasing returns to scale. This implies that farmers still possess the structural capacity to proportionally scale up their output by optimizing supportive inputs.
The technical efficiency evaluation demonstrates that farmers utilizing milking machines operate with vastly superior efficiency compared to manual milkers. The machine-adopter group achieved a Meta-Technical Efficiency (MTE) score of 0,9928 alongside a maximum Technology Gap Ratio (TGR) of 1,0000, confirming that they are operating precisely on the optimal production boundary (meta-frontier). The conventional group, however, only secured an MTE of 0,7836, translating to a 21,64% loss in potential productivity constrained by the biological limits of human labor. Further estimations suggest that technical inefficiency can be substantially mitigated by accumulated farming experience and active participation in extension or training programs, whereas advancing farmer age is positively correlated with higher inefficiency.
The partial budget analysis verifies that the transition from labor-intensive practices to mechanization is highly lucrative regarding financial viability. Deploying a milking machine actively depresses operational expenditures, yielding monthly savings of IDR 346.403,92 in labor wages and IDR 100.880,65 in teat lubricants. Even though the technology introduces a new fixed-cost structure which encompassing machine depreciation, routine maintenance, and electricity consumption. These novel expenses are comprehensively offset by a substantial spike in milk revenues. Specifically, revenue expanded by IDR 6.346.212,30 per month, driven by enhanced production volumes and improved milk quality premiums. Cumulatively, adopters of the milking machine generate an additional net profit of IDR 5.024.390,70 monthly, providing robust empirical evidence that this technological intervention is highly feasible and economically rewarding. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Pengaruh Milking Machine Terhadap Efisiensi Produksi Usaha Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Lembang | id |
| dc.title.alternative | The Influence of Milking Machine on the Production Efficiency of Dairy Cattle Farming in Lembang, Bandung Barat Regency | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | efisiensi produksi | id |
| dc.subject.keyword | milking machine | id |
| dc.subject.keyword | Peternakan Sapi Perah | id |
| dc.subject.keyword | stochastic meta-frontier (SMF) | id |
| dc.subject.keyword | fungsi produksi | id |
| dc.subtype | Theses | |