| dc.contributor.advisor | Iskandar, Budhi Hascaryo | |
| dc.contributor.advisor | Novita, Yopi | |
| dc.contributor.advisor | Kurniawati, Vita Rumanti | |
| dc.contributor.advisor | Uju | |
| dc.contributor.author | Wahab, Aulia Azhar | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-05T06:33:36Z | |
| dc.date.available | 2026-08-05T06:33:36Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177252 | |
| dc.description.abstract | Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu kontributor utama ekspor hasil perikanan Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir daya saing produk rajungan mengalami penurunan yang disebabkan oleh penurunan mutu hasil tangkapan, terutama pada tahap penanganan di atas kapal. Permasalahan umum yang dihadapi dalam perikanan skala kecil meliputi keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin, sanitasi yang kurang memadai, serta ketidakstabilan suhu selama proses penyimpanan. Selain itu, praktik perebusan rajungan di atas kapal menggunakan wadah terbuka berpotensi menimbulkan efek free surface yang dapat mengganggu stabilitas kapal dan membahayakan keselamatan awak. Kondisi ini menunjukkan perlunya suatu sistem terintegrasi yang mampu meningkatkan efisiensi penanganan, menjaga mutu produk, serta menjamin keselamatan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi Smart Crab Handling System (SCHS) sebagai sistem penanganan rajungan terintegrasi pada kapal penangkap rajungan skala kecil. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kapal dan praktik penanganan rajungan eksisting, merancang sistem penanganan rajungan berbasis palka pendingin hibrida es–termoelektrik/Peltier dengan pemantauan suhu berbasis Internet of Things (IoT), mengembangkan panci perebus bersirip peredam untuk mengurangi efek free surface, menganalisis pengaruh penerapan SCHS terhadap stabilitas kapal, serta mengevaluasi mutu rajungan berdasarkan parameter organoleptik, Angka Lempeng Total (ALT), dan Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N). Pendekatan yang digunakan adalah engineering design process yang meliputi observasi lapangan, wawancara, perancangan teknis, simulasi numerik, serta pengujian eksperimental. Analisis stabilitas kapal dilakukan menggunakan kurva lengan penegak (GZ), tinggi metasenter (GM), dan luas kurva stabilitas yang kemudian dibandingkan dengan kriteria International Maritime Organization (IMO). Sementara itu, mutu rajungan dianalisis melalui uji organoleptik, ALT, dan TVB-N. Kapal penangkap rajungan yang digunakan merupakan kapal bubu lipat berbahan kayu dengan dimensi relatif seragam, yaitu panjang 9,2–9,7 m, lebar 2,6–3,1 m, dan dalam 0,6–0,7 m. Kapal memiliki bentuk lambung U-bottom dan double pointed yang memberikan stabilitas transversal yang baik. Area kerja di atas kapal terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu buritan sebagai area navigasi, midship sebagai pusat operasi penangkapan, dan haluan sebagai area penanganan hasil tangkapan. Namun, keterbatasan ruang kerja dan fasilitas menyebabkan proses penanganan belum optimal. Smart Crab Handling System yang dikembangkan mengintegrasikan palka penyimpanan dengan sistem pendingin hibrida es–termoelektrik/Peltier yang dilengkapi sensor suhu berbasis Internet of Things (IoT), serta panci perebus yang dimodifikasi dengan penambahan sirip peredam untuk mengurangi pergerakan cairan. Sistem ini memungkinkan pemantauan suhu secara real time tanpa membuka palka, sehingga dapat menjaga stabilitas suhu dan mengurangi risiko kontaminasi. Stabilitas kapal menunjukkan bahwa penerapan SCHS tidak menurunkan kinerja stabilitas kapal. Nilai tinggi metasenter (GM), kurva GZ, dan parameter stabilitas lainnya tetap memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh IMO pada berbagai kondisi muatan. Modifikasi panci perebus terbukti mampu mengurangi efek free surface, sehingga meningkatkan keselamatan operasional selama proses perebusan di atas kapal. Dari aspek mutu, rajungan yang ditangani menggunakan SCHS menunjukkan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional. Nilai organoleptik berada pada kategori segar, sedangkan nilai ALT pada perlakuan SCHS cenderung lebih rendah. Nilai TVB-N pada kedua perlakuan masih berada jauh di bawah batas mutu dan tidak berbeda nyata secara statistik. Sistem pendinginan yang stabil berperan penting dalam mempertahankan kesegaran produk selama penyimpanan. | |
| dc.description.abstract | Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a high-value fisheries commodity and one of the major contributors to Indonesia’s fisheries export sector. However, in recent years, the competitiveness of blue swimming crab products has declined due to quality deterioration of the catch, particularly during onboard handling. Common problems faced in small-scale fisheries include limited cold storage facilities, inadequate sanitation, and unstable temperature conditions during storage. In addition, the onboard boiling practice using open containers may generate a free surface effect, which can disturb vessel stability and endanger crew safety. These conditions indicate the need for an integrated system that can improve handling efficiency, maintain product quality, and ensure operational safety. This study aimed to develop and evaluate the Smart Crab Handling System (SCHS) as an integrated blue swimming crab handling system for small-scale crab fishing vessels. Specifically, this study aimed to identify the characteristics of existing vessels and onboard crab handling practices, design a crab handling system based on a hybrid ice–thermoelectric/Peltier cooling fish hold equipped with Internet of Things (IoT)-based temperature monitoring, develop a finned boiling pan to reduce the free surface effect, analyze the influence of SCHS implementation on vessel stability, and evaluate crab quality based on organoleptic parameters, Total Plate Count (TPC), and Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N). The approach used in this study was the engineering design process, which included field observation, interviews, technical design, numerical simulation, and experimental testing. Vessel stability was analyzed using the righting arm curve (GZ), metacentric height (GM), and the area under the stability curve, which were then compared with the criteria of the International Maritime Organization (IMO). Meanwhile, crab quality was analyzed through organoleptic testing, TPC, and TVB-N. The crab fishing vessel used in this study was a wooden collapsible trap vessel with relatively uniform dimensions, namely 9.2–9.7 m in length, 2.6–3.1 m in breadth, and 0.6–0.7 m in depth. The vessel had a U-bottom and double-pointed hull form, which provided good transverse stability. The working area on board was divided into three main sections: the stern as the navigation area, the midship as the main fishing operation area, and the bow as the catch handling area. However, limited working space and handling facilities caused the onboard handling process to remain suboptimal. The developed Smart Crab Handling System integrates a storage fish hold with a hybrid ice–thermoelectric/Peltier cooling system equipped with Internet of Things (IoT)-based temperature sensors, as well as a modified boiling pan with damping fins to reduce liquid movement. This system enables real-time temperature monitoring without opening the fish hold, thereby maintaining temperature stability and reducing the risk of contamination. The vessel stability analysis showed that SCHS implementation did not reduce the vessel’s stability performance. The metacentric height (GM), GZ curve, and other stability parameters still met the criteria established by the IMO under various loading conditions. The modified boiling pan was also shown to reduce the free surface effect, thereby improving operational safety during the onboard boiling process. In terms of quality, crabs handled using SCHS showed better quality than those handled using the conventional method. The organoleptic scores remained within the fresh category, while the TPC values in the SCHS treatment tended to be lower. The TVB-N values in both treatments remained far below the quality limit and were not statistically different. Stable cooling conditions played an important role in maintaining product freshness during storage. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | SMART CRAB HANDLING SYSTEM PADA KAPAL PENANGKAP RAJUNGAN | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | sistem penanganan rajungan | id |
| dc.subject.keyword | pendingin hibrida | id |
| dc.subject.keyword | internet of things | id |
| dc.subject.keyword | Stabilitas Kapal | id |
| dc.subject.keyword | mutu hasil tangkapan | id |
| dc.subject.keyword | perikanan skala kecil | id |
| dc.subtype | Dissertations | |