Model Bisnis Multiusaha Perhutanan Sosial di KPH II Pematang Siantar dan KPH IX Panyabungan
Date
2026Author
Syaiful, Syufriandi
Bahruni
Trison, Soni
Darusman, Dudung
Metadata
Show full item recordAbstract
Perhutanan sosial telah memperluas akses legal masyarakat terhadap kawasan hutan, tetapi legalitas tersebut belum otomatis menghasilkan unit usaha yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan. Persoalan utama di tingkat tapak terletak pada kemampuan kelompok mengubah potensi hasil hutan bukan kayu, agroforestri, jasa lingkungan, dan produk olahan menjadi nilai yang dapat dipasarkan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model bisnis multiusaha perhutanan sosial yang layak, adaptif, dan implementatif di KPH II Pematang Siantar dan KPH IX Panyabungan. Penelitian dilakukan pada KUPS Muara Baimbai dan KUPS Perempuan Sejati di Serdang Bedagai yang mewakili lanskap pesisir, serta KTH Antunu Jaya dan KTH Sampean Jaya di Mandailing Natal yang mewakili lanskap daratan. Penelitian menggunakan pendekatan campuran dengan penekanan kualitatif yang didukung data kuantitatif. Potensi wilayah dan peluang pasar dianalisis menggunakan Location Quotient dan Shift-Share Analysis, kelayakan usaha dianalisis melalui NPV, BCR, dan IRR, model bisnis dipetakan menggunakan Business Model Canvas, strategi dirumuskan melalui SWOT, IFE/EFE, dan QSPM, sedangkan penerimaan sosial dianalisis berdasarkan kuesioner terhadap 183 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serdang Bedagai memiliki prospek pada jasa lingkungan pesisir, paket edukasi konservasi, dan produk turunan mangrove, tetapi masih memerlukan peningkatan mutu layanan, promosi digital, standardisasi produk, kemasan, dan perluasan pasar. Di Mandailing Natal, kulit manis, aren, kencur, dan lempuyang memiliki prospek pengembangan, sedangkan buah-buahan lebih sesuai sebagai pendukung keragaman agroforestri. Unit pesisir relatif kuat pada proposisi nilai, tetapi lemah pada hubungan pelanggan dan saluran pemasaran, sedangkan unit daratan memiliki basis lahan dan komoditas yang memadai, tetapi menghadapi kendala kelembagaan, kesinambungan produksi, mutu pascapanen, pencatatan usaha, dan kepastian pasar. Instrumen persepsi masyarakat memiliki nilai alfa Cronbach 0,893; persepsi terhadap program perhutanan sosial berada pada kategori sedang, sedangkan persepsi terhadap kelestarian dan manfaat hutan berada pada kategori tinggi. Model yang dihasilkan terdiri atas portofolio usaha prioritas, desain model bisnis, strategi penguatan, dukungan sosial, dan tata kelola implementasi berbasis Integrated Area Development. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi analisis potensi pasar, diagnosis model bisnis, prioritas strategi, penerimaan sosial, dan tata kelola implementasi dalam satu alur adaptif-kontekstual. Keberhasilan multiusaha perhutanan sosial ditentukan oleh kesesuaian portofolio usaha dengan ekosistem, kapasitas kelompok, peluang pasar, dukungan sosial, dan konfigurasi aktor pada setiap unit pengelolaan di tapak.
Collections
- DF - Forestry [365]

