ADAPTASI BUDIDAYA PERTANIAN PETANI TRANSMIGRAN BERDASARKAN PERSEPSI ATAS KETERSEDIAAN AIR (Studi Kasus Satuan Pemukiman 2 sampai 4 di Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara)
Date
2026Author
NUR, HARI YATI
Saputra, Henry Kasmanhadi
Situmeang, Widya Hasian
Metadata
Show full item recordAbstract
Having enough water is an important part of horticultural farming for transmigrant farmers in transmigration settlement units. The purpose of this study is to: (1) Analyze the differences between the original environmental conditions and the current residence, and (2) Identify transmigrant farmers' perceptions of water availability in horticultural farming in the Transmigration Area, South Morotai District. This research uses a descriptive qualitative approach with a case study method, descriptive interviews supported by qualitative data through questionnaires and observations. The respondents consisted of 30 transmigrant farmers engaged in horticultural farming and 3 informants from the village authorities. The results of the study show that South Morotai has a very wet environmental characteristic, evenly distributed rainfall, long sunlight hours, and high temperatures, but there are constraints in access to water usage. Javanese farmers who have been farmers for generations tend to keep farming, focusing on horticultural crops like chili and tomatoes so they can make the most of water usage. Ketersediaan air yang cukup menjadi bagian yang penting dalam usaha tani hortikultura bagi petani transmigran di satuan pemukiman transmigrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menganalisis perbedaan kondisi lingkungan asal dengan tempat tinggal, (2) mengidentifikasi persepsi petani transmigran terhadap ketersediaan air pada usaha hortikultura di Kawasan Transmigrasi, Kecamatan Morotai Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, wawancara deskriptif didukung data kualitatif dengan metode kuesioner dan observasi. Responden terdiri dari 30 orang petani transmigran yang berusaha tani hortikultura dan 3 informan dari perangkat desa. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Morotai Selatan karakteristik lingkungan sangat basah, curah hujan merata, dan lama penyinaran serta suhu yang tinggi tetapi terkendala akses dalam penggunaan air. Petani Jawa yang turun-temurun menjadi seorang petani membuat persepsi petani mengarah untuk terus mengusahakan tetap bertani dengan fokus pada komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat agar bisa secara optimal dalam penggunaan air.

