Analisis Risiko Banjir di Wilayah Sungai Citarum Hulu
Abstract
Perubahan iklim meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi khususnya
banjir di DAS Citarum Hulu yang berdampak infrastruktur sumber daya air.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat risiko banjir serta
mengevaluasi infrastruktur pengendali banjir sebagai bentuk adaptasi. Analisis
risiko dilakukan menggunakan metode scoring dan overlay berbasis Sistem
Informasi Geografis (SIG) dengan menggabungkan parameter bahaya, kerentanan,
dan kapasitas adapatasi. Selanjutnya, dilakukan inventarisasi infrastruktur
pengendali banjir yang eksisting sebagai aksi adaptasi di wilayah dengan risiko
banjir tinggi. Infrastruktur kemudian dievaluasi dengan analisis curah hujan
rencana menggunakan metode Gumbel dan debit banjir rencana menggunakan
metode HSS Nakayasu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,86% wilayah
Cekungan Bandung yang mencakup 73 dari 85 kecamatan memiliki tingkat risiko
banjir tinggi yang dipengaruhi oleh kombinasi bahaya, kerentanan, dan kapasitas
adaptasi. Tingkat bahaya tinggi dipengaruhi oleh tingginya lahan terbangun,
topografi datar, tanah aluvial, dan aliran utama Sungai Citarum Hulu yang melewati
wilayah ini. Analisis kerentanan menunjukkan 76 kecamatan termasuk kategori
kerentanan sedang dan 30 kecamatan kategori rendah, sedangkan kapasitas adaptasi
secara umum berada pada kategori sedang di keseluruhan wilayah. Analisis curah
hujan rencana terus mengalami kenaikan mulai dari 87,69 mm pada periode ulang
2 tahun hingga 213,81 mm pada periode ulang 100 tahun yang diikuti dengan
peningkatan debit banjir rencana. Berdasarkan hasil evaluasi, kapasitas tampung
Kolam Retensi Andir diperkirakan telah terlampaui oleh debit banjir rencana pada
periode ulang 5 tahun. Sementara itu, batas kapasitas tampung Kolam Retensi
Cieunteung diperkirakan tercapai pada periode ulang 10 tahun, sedangkan Embung
Gedebage pada periode ulang 20 tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
infrastruktur pengendali banjir eksisting seperti embung dan kolam retensi dapat
mereduksi banjir, tetapi kapasitas tampungan beberapa infrastruktur belum
sepenuhnya mampu menampung debit banjir pada periode ulang tertentu. Climate change has increased the risk of hydrometeorological disasters,
particularly flooding, in the Upper Citarum River Basin, affecting water resources
infrastructure. This study aims to identify flood risk levels and evaluate existing
flood control infrastructure as an adaptation measure. Flood risk analysis was
conducted using a Geographic Information System (GIS) based scoring and overlay
approach by integrating hazard, vulnerability, and adaptive capacity parameters.
Furthermore, an inventory of existing flood control infrastructure was carried out
as an adaptation measure in areas with high flood risk. The infrastructure was then
evaluated using design rainfall analysis based on the Gumbel distribution and
design flood discharge analysis using the Nakayasu Synthetic Unit Hydrograph
(SUH) method. The results showed that 85,86% of the Bandung Basin area,
covering 73 of the 85 sub districts, was classified as having high flood risk,
influenced by the combination of hazard, vulnerability, and adaptive capacity. High
hazard levels were primarily associated with extensive built up land, flat
topography, alluvial soils, and the presence of the main channel of the Upper
Citarum River. Vulnerability analysis indicated that 76 sub districts were
categorized as having moderate vulnerability, while 30 sub districts were classified
as low vulnerability. In contrast, adaptive capacity was generally categorized as
moderate across the entire study area. The design rainfall increased from 87,69 mm
for the 2 year return period to 213, 81 mm for the 100 year return period, resulting
in a corresponding increase in design flood discharge. The evaluation revealed that
the storage capacity of Andir Retention Pond is expected to be exceeded by the
design flood discharge at the 5 year return period. Meanwhile, the storage capacity
of Cieunteung Retention Pond is projected to be reached at the 10 year return period,
whereas Gedebage Detention Pond is expected to reach its capacity at the 20 year
return period. These findings indicate that existing flood control infrastructure, such
as detention ponds and retention ponds, contributes to flood reduction, however the
storage capacity of several infrastructures is insufficient to accommodate design
flood discharge under certain return periods.

