Kemosensitivitas Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Oryzalin dan Kolkisin serta Evaluasi Sitologi, Anatomi, dan Morfo-Agronomi
Date
2026Author
Wardah, Siti Nur Asiyah
Sobir
Aisyah, Syarifah Iis
Tambunan, Ika Roostika
Metadata
Show full item recordAbstract
Garlic (Allium sativum L.) is an important horticultural commodity;
however, low national production has caused Indonesia to remain dependent on
imports. Local garlic generally has relatively smaller bulbs and cloves than
imported garlic. Polyploidization induction using oryzalin and colchicine has the
potential to increase variation and improve the traits of local garlic. This study
aimed to analyze the chemosensitivity of garlic cloves of the Lumbu Putih, Lumbu
Hijau, and Lumbu Kuning varieties to polyploidization induction and to evaluate
their cytological, anatomical, and morpho-agronomic traits. Induction was carried
out using oryzalin and colchicine at concentrations of 0, 100, and 200 µM. Lumbu
Putih and Lumbu Hijau cloves were soaked for 1 day, whereas Lumbu Kuning
cloves were soaked for 3, 5, and 7 days. Chemosensitivity was analyzed based on
tissue viability and sprouting ability. Ploidy level was analyzed using
flowcytometry and chromosome observation. Anatomical variables included
stomatal size, stomatal density, and chloroplast number. Morpho-agronomic
variables included plant height, stem diameter, leaf chlorophyll index, root weight,
whole-plant fresh weight, bulb diameter, bulb weight, and number of cloves.
The chemosensitivity response of garlic differed among varieties and
mutagen treatments. Lumbu Putih and Lumbu Hijau cloves showed high tissue
viability after mutagen soaking, although their growth responses varied among
treatments. For Lumbu Kuning, longer soaking duration reduced tissue viability and
growth ability, particularly under colchicine treatment. Evaluation of the first
generation showed that Lumbu Putih and Lumbu Hijau remained diploid, and
mutagen treatment did not significantly affect their anatomical characters. Morpho
agronomic characters of Lumbu Putih did not differ significantly after induction,
whereas Lumbu Hijau showed increased stem diameter and root weight under 100
µM colchicine. For Lumbu Kuning, mixoploid plants were formed, and the highest
proportion was obtained following treatment with 200 µM oryzalin for 3 days. The
mixoploid group had the highest anatomical variability and number of chloroplasts
in guard cells. The treated diploid group had higher stem diameter, bulb diameter,
whole-plant fresh weight, and bulb weight than the control and mixoploid groups.
Ploidy level analysis in the second generation showed that all Lumbu
Kuning progenies derived from first-generation mixoploid plants were detected as
diploid, indicating the occurrence of diplontic selection. The morpho-agronomic
characters of second-generation Lumbu Putih and Lumbu Hijau plants derived from
polyploidization-induced plants did not differ significantly from their respective
controls. The diploid progeny group of Lumbu Kuning showed higher chlorophyll
content and stem diameter than the control and the progeny group derived from
mixoploid plants. Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan komoditas hortikultura penting,
tetapi produksi nasional yang rendah menyebabkan Indonesia masih bergantung
pada impor. Bawang putih lokal umumnya memiliki ukuran umbi dan siung relatif
kecil dibandingkan bawang putih impor. Induksi poliploidisasi menggunakan
oryzalin dan kolkisin berpotensi meningkatkan keragaman dan memperbaiki
karakter bawang putih lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemosensitivitas
siung bawang putih varietas Lumbu Putih, Lumbu Hijau, dan Lumbu Kuning
terhadap induksi poliploidisasi serta mengevaluasi karakter sitologi, anatomi, dan
morfo-agronomi. Induksi dilakukan menggunakan oryzalin dan kolkisin pada
konsentrasi 0, 100, dan 200 µM. Siung Lumbu Putih dan Lumbu Hijau direndam
selama 1 hari, sedangkan Lumbu Kuning direndam selama 3, 5, dan 7 hari.
Kemosensitivitas dianalisis berdasarkan viabilitas jaringan dan daya tumbuh. Level
ploidi dianalisis menggunakan flowcytometry dan pengamatan kromosom. Peubah
anatomi meliputi ukuran stomata, densitas stomata, dan jumlah kloroplas. Peubah
morfo-agronomi meliputi tinggi tanaman, diameter batang, klorofil, bobot akar,
bobot basah tanaman utuh, diameter umbi, bobot umbi, dan jumlah siung.
Respons kemosensitivitas bawang putih berbeda antarvarietas dan
antarperlakuan mutagen. Siung Lumbu Putih dan Lumbu Hijau memiliki viabilitas
jaringan yang tinggi pasca-perendaman dalam mutagen, meskipun daya tumbuhnya
bervariasi antarperlakuan. Pada Lumbu Kuning, peningkatan durasi perendaman
menurunkan viabilitas dan daya tumbuh, terutama pada kolkisin. Evaluasi generasi
pertama menunjukkan bahwa Lumbu Putih dan Lumbu Hijau tetap terdeteksi
sebagai diploid, serta perlakuan mutagen tidak menyebabkan perubahan nyata pada
karakter anatomi. Karakter morfo-agronomi Lumbu Putih tidak menunjukkan
perubahan nyata akibat perlakuan induksi, sedangkan Lumbu Hijau menunjukkan
peningkatan diameter batang dan bobot akar pada perlakuan kolkisin 100 µM.
Lumbu Kuning menunjukkan respons sitologi berupa terbentuknya tanaman
miksoploid, dengan proporsi tertinggi dari perlakuan oryzalin 200 µM selama 3
hari. Kelompok miksoploid Lumbu Kuning memiliki keragaman anatomi tertinggi
dan jumlah kloroplas sel penjaga tertinggi. Kelompok diploid Lumbu Kuning hasil
perlakuan induksi memiliki diameter batang, diameter umbi, bobot basah tanaman
utuh, dan bobot umbi lebih tinggi dibandingkan kontrol dan kelompok miksoploid.
Analisis konfirmasi level ploidi generasi kedua menunjukkan bahwa seluruh
turunan Lumbu Kuning asal tanaman generasi pertama miksoploid terdeteksi
sebagai diploid, yang mengindikasikan terjadinya diplontic selection. Karakter
morfo-agronomi Lumbu Putih dan Lumbu Hijau generasi kedua asal tanaman hasil
induksi poliploidisasi tidak menunjukkan perubahan nyata dibandingkan kontrol.
Kelompok turunan diploid Lumbu Kuning memiliki nilai klorofil dan diameter
batang lebih tinggi dibandingkan kontrol dan kelompok turunan miksoploid.
Collections
- MF - Agriculture [4087]

