| dc.description.abstract | Disertasi ini mengkaji relasi patron–klien dalam tata niaga garam rakyat di Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, sebagai kelembagaan informal yang terbentuk dalam kondisi pasar tidak sempurna. Garam rakyat Madura menempati posisi strategis dalam ekonomi kelautan dan pesisir nasional, namun petambak tetap rentan terhadap oligopsoni, fluktuasi harga, dan tekanan impor, sementara subsektor Perikanan dan Industri Makanan–Minuman terus berkembang dalam struktur PDB Indonesia (BPS 2024; KKP 2024). Di tengah kegagalan pasar pada dimensi informasi, mutu, pembiayaan, dan risiko, pengepul lokal berperan sebagai patron yang menyediakan package-deal pembiayaan musim, teknologi, jaminan serap, dan perlindungan risiko, sekaligus mereproduksi keterikatan penjualan dan asimetri kekuasaan. Pertanyaan pusat penelitian adalah bagaimana relasi patron–klien memediasi mekanisme pasar garam rakyat dan apakah dampak ekonominya bersih menguntungkan petambak terikat dibanding petambak tidak terikat. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan dinamika patron–klien, faktor pembentuk ikatan, dampak produksi dan pemasaran, serta implikasi kebijakan tata niaga garam rakyat dalam satu rantai analitis.
Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan desain kuasi-perbandingan lintas-seksi pada 200 petambak (100 per kabupaten) pada musim produksi 2024. Data primer dikumpulkan melalui survei terstruktur, wawancara mendalam, observasi lapangan, dan diskusi pakar kontekstual; data sekunder melengkapi konteks produksi, kebijakan, dan makro tata niaga. Analisis deskriptif-kualitatif digunakan untuk memetakan mekanisme pasar dan dinamika patron–klien; regresi logit biner untuk menguji faktor pembentuk ikatan per kabupaten; uji Mann–Whitney dan pengukuran dampak ekonomi per Ha/musim untuk membandingkan petambak terikat (Y=1) dan tidak terikat (Y=0); serta Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk merumuskan hierarki kendala dan agenda perbaikan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan dua jalur reproduksi ketergantungan: di Sampang dominasi keterikatan historis (penilaian karung, loyalitas sosial; Hist OR = 87,07), sedangkan di Pamekasan dominasi keterikatan produktif-adaptif (geomembran, kekerabatan, akses pasar; Geo OR = 76,93; RF OR = 14,99; Akses OR = 834,23). Dampak produksi dan pemasaran bersifat net positive asymmetric: manfaat protektif patron secara agregat melebihi biaya subordinatif (RC ratio = 1,36; proporsi dampak terhadap pendapatan 10,2% di Sampang dan 28,1% di Pamekasan), namun perbedaan terikat–tidak terikat signifikan terutama di Kabupaten Pamekasan, sehingga keterikatan di Kabupaten Sampang lebih bersifat protektif-sosial daripada transformatif produktif.
Kebaruan penelitian ini terletak pada Teori Reproduksi Ketergantungan Adaptif (TRKA) dan konsep ketergantungan timbal balik asimetris yang menjelaskan reproduksi institusi informal patron–klien dalam pasar garam rakyat Madura, bukan sebagai relasi tradisional statis melainkan spektrum evolusi kelembagaan dari pola historis menuju pola produktif-adaptif. Secara metodologis, penelitian mengintegrasikan logit, Mann–Whitney, pengukuran dampak, dan ISM dalam satu rantai analitis yang menghubungkan market failure, pembentukan patron, mekanisme pasar, dampak ekonomi, dan implikasi kebijakan. Secara kebijakan, penelitian merumuskan Agenda Perbaikan Patron Adaptif Produktif, yang menegaskan bahwa reformasi tata niaga tidak tepat mengarah pada eliminasi pengepul, melainkan perbaikan fungsi patron disertai transparansi transaksi, alternatif pembiayaan dan teknologi tanpa keterikatan total, serta pembukaan akses pasar hulu sebagai intervensi prioritas setelah fondasi kelembagaan terpenuhi. Agenda ini mengarahkan Kabupaten Sampang sebagai wilayah intervensi prioritas dan Kabupaten Pamekasan sebagai benchmark evolusi patron produktif-adaptif, sambil menegaskan bahwa meskipun dampak patron bersih menguntungkan petambak terikat, posisi tawar dan otonomi pemilihan pembeli tetap lemah sehingga keterikatan belum bersifat emansipatoris. | |