Model Pengembangan Kinerja Usahatani Kubis melalui Entrepreneurial Orientation, Learning Orientation, dan Dynamic Capabilities di Kabupaten Karo
Date
2026Author
Sitorus, Nurmely Violita
Yusman
Nurmalina, Rita
Hartojo, Sri
Baga, Lukman Mohammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Usahatani kubis di Kabupaten Karo berperan penting dalam perekonomian rumah tangga petani, namun masih menghadapi permasalahan berupa rendahnya efisiensi alokatif dan ekonomi, ketidakstabilan pendapatan, serta tingginya kerentanan terhadap perubahan iklim, fluktuasi harga, dan serangan hama penyakit. Selain faktor teknis, kinerja usahatani juga dipengaruhi oleh perilaku dan kapasitas adaptif petani dalam merespons perubahan lingkungan usaha. Dalam konteks tersebut, entrepreneurial orientation (EO) mendorong inovasi, pengambilan risiko, dan sikap proaktif, sedangkan learning orientation (LO) memperkuat kemampuan petani memperoleh, berbagi, dan mengembangkan pengetahuan. Pengetahuan tersebut kemudian ditransformasikan menjadi keunggulan melalui dynamic capabilities (DC), yang memungkinkan petani mendeteksi perubahan, memanfaatkan peluang, dan menyesuaikan strategi usaha secara adaptif. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja usahatani kubis melalui efisiensi teknis, alokatif, ekonomi, dan pendapatan; menguji pengaruh EO dan LO terhadap kinerja usahatani dengan mediasi DC; serta mengidentifikasi prioritas pengembangan untuk mengoptimalkan kinerja usahatani kubis di Kabupaten Karo.
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, karena Kabupaten Karo merupakan salah satu sentra produksi kubis terbesar di Indonesia. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive pada dua kecamatan utama penghasil kubis, yaitu Kecamatan Simpang Empat dan Kecamatan Merek. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik multistage cluster sampling dengan pendekatan equal allocation untuk menjaga keterbandingan antarwilayah penelitian. Berdasarkan perhitungan ukuran sampel menggunakan rumus Cochran dan penyesuaian non-response, diperoleh jumlah sampel sebanyak 173 responden yang tersebar pada sepuluh desa penelitian. Distribusi sampel dilakukan secara proporsional di Kecamatan Simpang Empat dan di Kecamatan Merek. Data yang digunakan merupakan data primer yang meliputi karakteristik petani, output, input biaya produksi dan variabel EO, LO, DC. Analisis produksi usahatani dilakukan menggunakan stochastic frontier analysis (SFA) yang kemudian dilanjutkan dengan analisis efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi usahatani kubis. Pendapatan usahatani dianalisis melalui struktur biaya dan penerimaan usahatani, sedangkan hubungan antar variabel EO, LO, DC, dan kinerja usahatani dianalisis menggunakan partial least square-structural equation modeling (PLS-SEM). Selain itu, penelitian ini juga menggunakan importance performance map analysis (IPMA) untuk merumuskan model pengembangan kinerja usahatani kubis melalui penguatan konstruk prioritas LO, EO, dan DC di Kabupaten Karo.
Kinerja usahatani kubis di Kabupaten Karo menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,82 mengindikasikan bahwa petani telah mampu mengelola penggunaan input produksi secara relatif baik untuk menghasilkan output, meskipun masih terdapat peluang peningkatan efisiensi teknis sebesar 18%. Sementara itu, rata-rata efisiensi alokatif sebesar 0,66 menunjukkan bahwa petani belum sepenuhnya mampu mengalokasikan penggunaan input sesuai dengan struktur harga yang berlaku sehingga masih terdapat peluang penghematan biaya produksi sebesar 34% tanpa mengurangi tingkat output. Selanjutnya, rata-rata efisiensi ekonomi sebesar 0,53 mengindikasikan bahwa secara keseluruhan petani belum mampu mencapai tingkat biaya minimum dalam menghasilkan output yang sama, sehingga masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan efisiensi melalui perbaikan aspek teknis maupun alokatif. Dari sisi kinerja finansial, rata-rata pendapatan bersih sebesar Rp10.761.501 per hektar dan nilai R/C rasio sebesar 1,35 menunjukkan bahwa usahatani kubis masih layak diusahakan dan memberikan keuntungan ekonomi bagi petani. Hasil pengujian PLS-SEM menunjukkan bahwa EO dan DC berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani, sedangkan LO tidak berpengaruh langsung secara signifikan. Meskipun demikian, EO dan LO terbukti berpengaruh terhadap kinerja melalui mediasi DC, yang menunjukkan bahwa kapabilitas dinamis berperan sebagai mekanisme penting dalam mentransformasikan orientasi strategis petani menjadi peningkatan kinerja usahatani. DC merupakan determinan yang paling dominan terhadap kinerja usahatani, diikuti oleh EO, sedangkan model penelitian memiliki daya jelaskan yang kuat dengan nilai R² sebesar 0,748, yang menunjukkan bahwa 74,8% variasi kinerja usahatani dapat dijelaskan oleh EO, LO, dan DC. Hasil IPMA menunjukkan bahwa peningkatan kinerja usahatani kubis di Kabupaten Karo perlu diprioritaskan pada dimensi innovativeness karena memiliki tingkat kepentingan tinggi namun performanya belum optimal (concentrate here). Dimensi risk-taking dan seizing perlu dipertahankan (keep up the good work), sedangkan proactiveness, intraorganizational knowledge sharing, dan sensing cukup dikembangkan secara bertahap (low priority). Sementara itu, commitment to learning, open-mindedness, dan reconfiguring (possible overkill) menunjukkan kinerja yang memadai sehingga alokasi sumber daya dapat dioptimalkan untuk mendukung dimensi yang lebih prioritas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kubis telah efisien secara teknis, namun efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomi masih belum efisien, sehingga tantangan utama terletak pada kemampuan petani mengalokasikan penggunaan input secara efisien sesuai struktur harga. Hasil PLS-SEM menunjukkan bahwa EO dan DC berpengaruh signifikan terhadap kinerja usahatani, sedangkan LO berpengaruh tidak langsung melalui mediasi DC. Temuan ini menegaskan bahwa kinerja usahatani ditentukan oleh orientasi strategis petani yang didukung kapabilitas dinamis dalam mengidentifikasi peluang, mengintegrasikan, dan mengonfigurasi sumber daya. Selain itu, hasil IPMA menunjukkan bahwa peningkatan kinerja perlu diprioritaskan pada dimensi innovativeness, sementara risk-taking dan seizing dipertahankan karena telah menunjukkan kinerja yang baik. Dengan demikian, peningkatan kinerja usahatani kubis tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pengembangan inovasi dan kapabilitas dinamis melalui penetapan prioritas pengembangan berbasis bukti empiris.

