Analisis Framing Pemberitaan Tambang Nikel Raja Ampat pada Media Online Indonesia
Abstract
Perkembangan komunikasi digital menjadikan media online sebagai sumber utama informasi yang membentuk pemahaman masyarakat terhadap berbagai isu, termasuk polemik pertambangan nikel di Raja Ampat. Penelitian ini bertujuan menganalisis framing pemberitaan pada Betahita.id, BBC.com, Kontan.co.id, dan Kompas.id menggunakan model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap media mengonstruksi realitas secara berbeda sesuai dengan karakteristik pemberitaan dan kebijakan redaksionalnya. Kompas.id dan Kontan.co.id lebih menekankan aspek kebijakan pemerintah, tata kelola pertambangan, dan ekonomi, sedangkan Betahita.id dan BBC.com lebih menonjolkan dampak ekologis serta perlindungan Raja Ampat sebagai kawasan konservasi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik media memengaruhi konstruksi pemberitaan terhadap isu lingkungan di ruang publik digital. Temuan penelitian menegaskan pentingnya literasi digital dalam memahami perbedaan framing media online. The development of digital communication has positioned online media as a primary source of information that shapes public understanding of various issues, including the nickel mining controversy in Raja Ampat. This study aims to analyze the framing of news coverage published by Betahita.id, BBC.com, Kontan.co.id, and Kompas.id using Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki's framing model. A qualitative approach with framing analysis was employed. The findings show that each media outlet constructs reality differently according to its editorial characteristics. Kompas.id and Kontan.co.id emphasize government policy, mining governance, and economic aspects, whereas Betahita.id and BBC.com focus on ecological impacts and the protection of Raja Ampat as a conservation area. These differences indicate that media characteristics influence how environmental issues are constructed in the digital public sphere. The findings highlight the importance of digital literacy in understanding different media framing.

