Manajemen Risisko Rantai Pasok Rumput Laut di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara
Abstract
Rumput laut memiliki peran penting secara ekonomi, ekologi dan sosial dalam mendukung rantai pasok yang inklusif di kawasan konservasi dan pariwisata Wakatobi, namun masih dihadapkan pada tekanan lingkungan, kendala geografi, dan ketidakpastian pasar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) menganalisis struktur dan tata kelola rantai pasok rumput laut, (2) menganalisis dan memetakan risiko rantai pasok rumput laut, dan (3) merumuskan manajemen risiko rantai pasok rumput laut di Wakatobi. Metode untuk analisis struktur dan tata kelola rantai pasok menggunakan kerangka Food Supply Chain Network (FSCN), sementara metode untuk identifikasi, pengukuran dan perumusan manajemen risikonya menggunakan metode Delphi. Penelitian ini melibatkan 47 orang narasumber, yaitu 30 petani yang ditentukan secara random berkriteria, empat pengolah (kelompok usaha bersama-Kube) ditentukan secara purposive, empat pengumpul lokal dan tiga retailer (outlet) yang ditelusuri secara snowball, serta enam stakeholder dari unsur pemerintahan, lembaga keuangan, dan akademisi yang ditensukan secara purposive.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan struktur rantai pasok rumput laut terdiri atas petani sebagai produsen, pengumpul lokal sebagai pengonsolidasi pasokan dan penentu harga bagi petani, kube sebagai pemberi nilai tambah melalui pengolahan dan pengemasan produk olahan, dan retailer sebagai pengonstruksi citra produk dan persepsi konsumen. Rantai pasok rumput laut menempatkan petani sebagai penerima harga (price taker) dengan tata kelola bersifat buyer-driven chain, yang aktor hilir sebagai pengendali harga, standar mutu dan akses pasar. Koordinasi secara horizontal menunjukkan adanya ikatan namun pola hubungan masih bersifat kooperatif sekaligus kompetitif, sementara koordinasi secara vertikal menghasilkan integrasi informasi meskipun masih terdapat asimetri informasi yang memengaruhi rantai pasok rumput laut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat 32 sumber risiko rantai pasok rumput laut, dengan prioritas risiko pada fluktuasi harga jual, gangguan hama dan penyakit, serta fluktuasi pasokan yang tinggi. Manajemen risiko rantai pasok diarahkan pada pendekatan mitigasi secara adaptif sesuai dimensinya. Pengelolaan risiko proses melalui penggunaan bibit unggul, penerapan SOP secara ketat, dan perawatan mesin dan peralatan secara preventif. Penanganan risiko kontrol melalui penguatan mekanisme koordinasi, revitalisasi kelembagaan, dan integrasi informasi pasar yang real-time. Manajemen risiko penawaran melalui penerapan mekanisme stok penyangga, diversifikasi pemasok, dan adaptasi teknis terhadap perubahan kondisi laut. Mitigasi risiko permintaan melalui pencatatan data pasar untuk peramalan yang andal, perluasan pemasaran digital, serta diversifikasi produk dan pasar. Manajemen risiko eksternal melalui pengolahan limbah rumput laut, akses pinjaman modal tanpa anggunan, dan pendampingan kebijakan guna melindungi posisi tawar petani. Seaweed plays a vital economic, ecological, and social role in supporting an inclusive supply chain within the conservation and tourism framework of Wakatobi. However, its development remains challenged by the environmental pressures, geographical constraints, and market uncertainty. This study aims to (1) analyze the structure and governance of the seaweed supply chain, (2) identify and map seaweed supply chain risks, and (3) formulate risk management strategies for the seaweed supply chain in Wakatobi. The structure and governance of the supply chain were examined using the Food Supply Chain Network (FSCN) framework, while risk identification, measurement, and management formulation were conducted through a three-round Delphi method. The panel consisted of 47 experts, consisting of 30 farmers selected through random criterion-based sampling, four processors (joint business groups/Kube) determined purposively, four local collectors and three retailers traced through snowball sampling, as well as six stakeholders from government, financial institutions, and academia selected purposively.
The findings reveal that the structure of the seaweed supply chain comprises farmers as producers, local collectors as supply consolidators and price setters for farmers, processors (kube) as value enhancers through product processing and packaging, and retailers as constructors of product image and consumer perception. The seaweed supply chain positions farmers as price takers within a buyer-driven chain, with downstream actors controlling prices, quality standards, and market access. Horizontal coordination indicates the presence of linkages, though relationships remain simultaneously cooperative and competitive, while vertical coordination generates information integration despite persistent information asymmetry affecting the seaweed supply chain. The study further identifies 32 sources of supply chain risk, with priority risks including price fluctuations, pest and disease outbreaks, and high supply volatility. Supply chain risk management is directed toward adaptive mitigation approaches tailored to each dimension. Process risk management involves the use of superior seedlings, strict implementation of standard operating procedures, and preventive equipment maintenance. Control risk handling emphasizes strengthening coordination mechanisms, revitalizing institutions, and integrating real-time market information. Supply risk management includes the application of buffer stock mechanisms, supplier diversification, and technical adaptation to changing marine conditions. Demand risk mitigation is achieved through systematic market data recording for reliable forecasting, expansion of digital marketing, and diversification of products and markets. External risk management encompasses seaweed waste processing, facilitation of unsecured capital loans, and policy support to safeguard farmers’ bargaining position.
Collections
- MF - Economic and Management [3275]

