Prioritas Risiko Kegagalan Produksi terhadap Keselamatan Kerja dan Lingkungan Berbasis Failure Mode and Effect Analysis
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Fitri, Novi Nurul
Prasetya, Dimas Ardi
Suri, Wiranda Intan
Metadata
Show full item recordAbstract
PT Han Young Indonesia sebagai perusahaan manufaktur bahan perekat menghadapi tingginya tingkat kegagalan produksi yang berpotensi menimbulkan kerugian, risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi potensi failure mode berdasarkan aspek 4M+1E, menganalisis tingkat risiko menggunakan Risk Priority Number (RPN), dan menyusun rekomendasi pengendalian risiko berbasis kerangka HIRADC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 jenis kegagalan produksi yang teridentifikasi dipengaruhi oleh faktor manusia, material, metode, dan lingkungan. Dua failure mode dengan prioritas risiko tinggi yakni bau produk berbeda dari biasanya (RPN 107,25) dan korosi pada kemasan menyebabkan gumpalan (RPN 94,5). Setiap risiko diberikan hierarki pengendalian yang sesuai, mulai dari eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, administrasi, hingga alat pelindung diri (APD), sehingga risiko dapat dikelola secara sistematis dan terstruktur. PT Han Young Indonesia, as an adhesive material manufacturing company, faces a high rate of production failures that potentially lead to losses, Occupational Health and Safety (OHS) risks, and environmental pollution. The study aims to identify potential failure modes based on the 4M+1E aspects, analyze the risk level using the Risk Priority Number (RPN), and develop risk control recommendations based on the HIRADC framework. The results show that 10 identified types of production failures are influenced by human, material, method, and environmental factors. Two failure modes with high-risk priority are product odor different from usual (RPN 107.25) and corrosion on packaging causing clumping (RPN 94.5). Each risk is assigned an appropriate control hierarchy, ranging from elimination, substitution, engineering controls, administrative controls, to personal protective equipment (PPE), so that risks can be managed systematically and structurally.

