| dc.contributor.advisor | Pulunggono, Heru Bagus | |
| dc.contributor.advisor | Chahyahusna, Affan | |
| dc.contributor.author | Rafli, Diaz | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-30T00:16:03Z | |
| dc.date.available | 2026-07-30T00:16:03Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176437 | |
| dc.description.abstract | Lahan pertanian yang dikelola secara intensif merupakan salah satu
penyumbang emisi gas rumah kaca. Alih fungsi lahan dari pertanian ke kawasan
terbangun berpotensi meningkatkan emisi CO2, khususnya pada tanah Inceptisol
yang rentan terhadap gangguan. Penelitian ini bertujuan mengukur dan
membandingkan fluks CO2 antara berbagai dosis pupuk hayati pada lahan pertanian
dan fluks pada lahan terbangun, serta menganalisis pengaruh sifat kimia-biologi
tanah terhadap fluks CO2. Penelitian dilaksanakan pada lahan pertanaman jagung
di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor, mewakili satu siklus tanam pada
Agustus 2025–Maret 2026. Fluks CO2 diukur setiap dua minggu menggunakan
Infrared Gas Analyzer (IRGA) LI-COR 830. Pemberian pupuk hayati
memengaruhi fluks CO2 pada lahan pertanaman jagung. Dosis 4 STD
menghasilkan emisi CO2 kumulatif tertinggi selama periode pengamatan 0–10
MST, yaitu sebesar 38 Mg ha?¹. Fluks CO2 yang dihasilkan berfluktuasi pada setiap
minggu setelah tanam (MST) dan cenderung meningkat seiring dengan
bertambahnya dosis pupuk hayati serta setelah dilakukan aplikasi pupuk (P < 0,05).
Secara umum, fluks CO2 pada lahan pertanian jagung lebih tinggi (26,5 Mg ha?¹
tahun?¹; P < 0,05) dibandingkan dengan lahan terbangun. Sementara itu, fluks CO2
pada lahan terbangun bagian luar lebih rendah (21 Mg ha?¹ tahun?¹; P < 0,05)
dibandingkan dengan bagian dalam. Kandungan C-organik, P dan K potensial, serta
total mikroba pada lahan pertanian lebih tinggi dibandingkan lahan terbangun
bagian luar, tetapi masih lebih rendah dibandingkan lahan terbangun bagian dalam.
Hubungan antara suhu udara maupun suhu tanah dengan fluks CO2 tergolong lemah
(R² < 0,1). Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan
karakteristik emisi CO2 antara lahan pertanian dan lahan terbangun, serta
memperlihatkan bahwa pemberian pupuk hayati memengaruhi dinamika fluks CO2
pada lahan pertanaman jagung.
Kata kunci: fluks CO2, inceptisol, lahan pertanian, lahan terbangun, pupuk hayati. | |
| dc.description.abstract | Intensively managed agricultural land is one of the major contributors to
greenhouse gas emissions. Land use conversion from agricultural to built-up areas
has the potential to increase CO2 emissions, particularly in Inceptisol soils, which
are susceptible to disturbance. This study aimed to measure and compare CO2 fluxes
under different biofertilizer application rates in agricultural land with those in built-
up land, and to evaluate the influence of soil chemical and biological properties on
CO2 fluxes. The study was conducted in a maize field at the Cikabayan
Experimental Farm, Dramaga, Bogor, representing one growing season from
August 2025 to March 2026. CO2 fluxes were measured every two weeks using a
LI-COR 830 Infrared Gas Analyzer (IRGA). Biofertilizer application significantly
affected CO2 fluxes in the maize field. The highest cumulative CO2 emission during
the 0–10 weeks after planting (WAP) was observed at the 4 STD biofertilizer rate,
reaching 38 Mg ha?¹. CO2 fluxes fluctuated throughout the observation period and
generally increased with increasing biofertilizer rates and following fertilizer
application (P < 0.05). Overall, CO2 fluxes from the maize field were significantly
higher (26.5 Mg ha?¹ year?¹; P < 0.05) than those from the built-up land. In the built-
up area, the outer section exhibited lower CO2 fluxes (21 Mg ha?¹ year?¹; P < 0.05)
than the inner section. Soil organic carbon, potential phosphorus (P) and potassium
(K), and total microbial populations in the agricultural land were higher than those
in the outer built-up area but lower than those in the inner built-up area. Air
temperature and soil temperature showed weak relationships with CO2 fluxes (R² <
0.1). Overall, the results indicate differences in CO2 emission characteristics
between agricultural and built-up land and demonstrate that biofertilizer application
influences the dynamics of CO2 fluxes in maize cultivation.
Keywords: biofertilizer, built-up land, agricultural land, CO2 flux, inceptisol. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Pengaruh Tutupan Lahan Terhadap Fluks Co2 Pada Lahan Terbangun Dan Pertanian Di Tanah Inceptisol Dramaga | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Skripsi | |
| dc.subject.keyword | biofertilizer | id |
| dc.subject.keyword | Built-up Area | id |
| dc.subject.keyword | agricultural land | id |
| dc.subject.keyword | CO2 flux | id |
| dc.subject.keyword | inceptisol | id |
| dc.subtype | Undergraduate Theses | |