Pengaruh Kekeringan Meteorologis Berdasarkan Indeks SPEI terhadap Produktivitas Padi di Jawa Barat
Abstract
Kekeringan meteorologis berpotensi mengancam ketahanan pangan, tetapi pengaruhnya terhadap produktivitas padi pada sistem pertanian beririgasi belum banyak dievaluasi menggunakan pendekatan yang mampu mengendalikan heterogenitas wilayah dan waktu secara simultan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik kekeringan spasiotemporal di Jawa Barat serta menganalisis pengaruhnya terhadap produktivitas padi menggunakan model panel two-way fixed effects (TWFE) pada data bulanan 27 kabupaten/kota periode 2018–2023. Kekeringan diukur menggunakan Standardized Precipitation Evapotranspiration Index skala tiga bulan (SPEI-3) yang dihitung berdasarkan metode FAO-56 Penman-Monteith dan dianalisis pada lag satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas kekeringan didominasi oleh faktor temporal bersama, dengan 82% variasi SPEI dijelaskan oleh efek waktu dan hanya 2,7% oleh perbedaan antarkabupaten. Setelah heterogenitas wilayah dan waktu dikendalikan secara simultan, model TWFE tidak menemukan pengaruh signifikan kekeringan terhadap produktivitas, luas panen, maupun produksi padi (ß = -0,021 dan p = 0,833). Analisis tambahan menggunakan Oceanic Niño Index (ONI) menunjukkan bahwa ENSO berperan sebagai variabel penekan, di mana El Niño menurunkan curah hujan sekaligus meningkatkan radiasi matahari sehingga dampak negatif kekeringan sebagian tertutupi apabila ENSO tidak dikendalikan secara eksplisit dengan ß = -0,091 dan p = 0,038 saat ONI dikontrol. Temuan ini konsisten dengan hipotesis bahwa infrastruktur irigasi teknis berperan dalam mengurangi transmisi kekeringan meteorologis ke produktivitas padi serta menegaskan pentingnya pengendalian guncangan iklim temporal dalam analisis dampak kekeringan pada wilayah yang didominasi pengaruh ENSO.

