Evaluasi Sifat Dasar Kayu Jati Plus Perhutani (JPP) dan Jati Konvensional Sebagai Dasar Seleksi Pemuliaan Jati
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
S, Rahma Zafirah
Juniarti, Ulfah
Pratama, Rahadian
Wahyudi, Imam
Metadata
Show full item recordAbstract
Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis kayu tropis yang memiliki nilai ekonomi dan estetika tinggi. Namun produksinya di Indonesia terus mengalami penurunan akibat lambatnya pertumbuhan jati konvensional (JK) dan laju deforestasi yang tinggi. Sebagai respons terhadap ketimpangan antara pasokan dan permintaan, Perum Perhutani mengembangkan klon unggul Jati Plus Perhutani (JPP) melalui program pemuliaan pohon yang dimulai pada awal 1980-an. JPP mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan JK, dengan estimasi produksi kayu melebihi 200 m³ ha?¹ dalam rotasi 20 tahun. Meskipun demikian, masih terdapat pertanyaan ilmiah mengenai sejauh mana kualitas kayu JPP dapat menyamai atau mendekati JK pada berbagai kelas umur.
Penelitian ini bertujuan membandingkan karakteristik anatomi, sifat fisis, dan sifat mekanis kayu JPP dan JK, serta mengkaji pengaruh umur dan diameter terhadap kualitas kayu. Sampel diperoleh dari tegakan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Februari 2025. Sampel terdiri atas JPP dan JK umur 5, 12, 15, dan 20 tahun berupa hasil pengeboran (increment borer), serta log JPP dan JK umur 20 tahun dengan tambahan JK umur 70 tahun sebagai pembanding. Parameter yang diamati meliputi proporsi kayu teras, karakteristik visual dan makroskopis, warna kayu (CIELAB), sifat fisis (berat jenis, kerapatan, dan kadar air), sifat mekanis (MOE, MOR, tekan sejajar serat, kekerasan). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Tukey.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kayu teras JPP umur 20 tahun berkisar antara 70–78%, relatif setara dengan JK umur 20 tahun (74–79%), namun masih lebih rendah dibandingkan JK umur 70 tahun (86–88%). Karakteristik visual dan makroskopis JPP dan JK relatif serupa, dengan perbedaan utama berupa batas lingkaran tumbuh yang lebih tegas pada JK, terutama pada fase juvenil. Parameter warna (L*, a*, dan b*) tidak menunjukkan perbedaan nyata antar varietas, sedangkan variasi warna lebih dipengaruhi oleh posisi radial dan umur pohon. Nilai berat jenis JPP meningkat dari 0,49 pada umur 5 tahun menjadi 0,57–0,63 pada umur 20 tahun, sedangkan JK mencapai nilai sekitar 0,75. Meskipun terdapat perbedaan nyata secara statistik antara kedua varietas, berat jenis JPP pada umur 12–20 tahun menunjukkan kecenderungan semakin mendekati JK seiring bertambahnya umur. Pada sifat mekanis, JPP dan JK umur 20 tahun termasuk dalam kelas kuat II–III dan secara umum tidak menunjukkan perbedaan nyata dibandingkan JK umur 70 tahun pada hampir seluruh parameter yang diuji.
Secara keseluruhan, JPP umur 15–20 tahun menunjukkan potensi yang menjanjikan sebagai bahan kayu alternatif yang bersaing dengan JK untuk beberapa parameter meski belum seluruhnya dapat menyamai kayu jati tua. Hasil penelitian ini menjadi dasar fenotipik awal (baseline) untuk penelitian berbasis multi-omik dalam mendukung program pemuliaan jati yang lebih efisien dan berkelanjutan. Teak (Tectona grandis L.f.) is one of the most valuable tropical timber species because of its high economic and aesthetic value. However, teak production in Indonesia has declined due to the relatively slow growth of conventional teak (CT) and ongoing deforestation. To address the imbalance between timber supply and demand, Perum Perhutani developed Jati Plus Perhutani (JPP) through a tree breeding program initiated in the early 1980s. Although JPP grows faster than conventional teak and is estimated to produce more than 200 m³ ha?¹ within a 20-year rotation, its wood quality across different age classes remains uncertain.
This study compared the anatomical, physical, and mechanical properties of Perhutani Superior Teak (JPP) and conventional teak (CT), and evaluated the effects of age and stem diameter on wood quality. Wood samples were collected from plantations in Blora Regency, Central Java, in February 2025. The samples consisted of increment cores obtained from 5-, 12-, 15-, and 20-year-old JPP and CT trees, as well as logs from 20-year-old JPP and CT, with 70-year-old CT included as a reference. The evaluated parameters included heartwood proportion, visual and macroscopic characteristics, CIELAB wood color, physical properties (specific gravity, density, and moisture content), and mechanical properties (modulus of elasticity, modulus of rupture, compression parallel to the grain, and hardness). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Tukey's honestly significant difference (HSD) test.
The heartwood proportion of 20-year-old JPP (70–78%) was comparable to that of 20-year-old CT (74–79%) but lower than that of 70-year-old CT (86–88%). Visual and macroscopic characteristics were generally similar, although CT showed more distinct growth ring boundaries during the juvenile stage. No significant differences were found in wood color (L*, a*, and b*) between varieties, while color variation was mainly influenced by radial position and tree age. The specific gravity of JPP increased from 0.49 at age 5 to 0.57–0.63 at age 20, approaching that of CT (approximately 0.75). Although significant differences remained, JPP aged 12–20 years showed a clear trend toward CT with increasing age. The mechanical properties of 20-year-old JPP and CT were classified as Strength Class II–III and were generally comparable with those of 70-year-old CT.
Overall, JPP aged 15–20 years showed strong potential as an alternative timber resource, although it has not fully matched the quality of mature conventional teak. These findings provide a phenotypic baseline for future multi-omics research and support the development of more efficient and sustainable teak breeding programs.
Collections
- MF - Forestry [1611]

