Pemodelan Dan Estimasi Ambang Batas Banjir Menggunakan HEC-RAS 2D di Sub-DAS Cikalumpang
Abstract
Banjir yang kerap terjadi di Sub-DAS Cikalumpang semakin diperparah oleh
sedimentasi sungai, tingginya intensitas curah hujan, serta efek backwater dari
Rawa Danau, sementara model genangan banjir terpadu dan sistem ambang batas
berbasis curah hujan untuk kawasan ini belum tersedia. Penelitian ini bertujuan
memodelkan genangan banjir sekaligus menentukan ambang batas banjir sebagai
fondasi sistem peringatan dini melalui integrasi HEC-RAS 2D dengan SIG, dengan
memanfaatkan data DEMNAS, Esri Land Cover, serta data curah hujan CHIRPS
dan debit selama 25 tahun (2000–2024). Debit periode ulang dihitung
menggunakan distribusi Gamma, disimulasikan dalam HEC-RAS 2D, dan
divalidasi terhadap citra Sentinel-1, sedangkan ambang batas banjir ditetapkan
melalui pendekatan Indeks Presipitasi Anteseden (API). Hasil analisis
menunjukkan debit periode ulang berkisar antara 2,17 m³/detik (Qt2) hingga 7,41
m³/detik (Qt100), dengan luas genangan meluas dari 5,22 ha hingga 17,35 ha. Pola
genangan cenderung meluas ke arah hilir, dan Desa Kalumpang tercatat sebagai
wilayah dengan pertambahan genangan terbesar akibat topografi yang relatif datar,
kepadatan permukiman tinggi, serta pengaruh backwater dari Rawa Danau.
Validasi model terhadap citra Sentinel-1 menghasilkan indeks kesesuaian sebesar
64,4%, yang mengindikasikan tingkat kecocokan sedang. Analisis ambang batas
menghasilkan nilai ambang batas bawah 1 mm/hari dan ambang batas atas 58,1
mm/hari, yang disusun menjadi sistem peringatan dini empat tingkat. Penerapan
sistem ini direkomendasikan secara operasional kepada BBWS Cidanau-Ciujung
Cidurian dan BPBD Kabupaten Serang, didukung data DEM beresolusi lebih tinggi
serta mitigasi struktural berupa normalisasi sungai. Recurring floods in the Cikalumpang Sub-Watershed are exacerbated by
river sedimentation, high rainfall intensity, and the backwater effect from Rawa
Danau, yet an integrated flood inundation model and rainfall-based threshold
system are still unavailable. This study aimed to model flood inundation and
estimate flood thresholds as a basis for an early warning system by integrating
HEC-RAS 2D with GIS, using DEMNAS, Esri Land Cover, and 25 years (2000
2024) of CHIRPS rainfall and discharge data. Return period discharges were
calculated using the Gamma distribution, simulated in HEC-RAS 2D, and
validated against Sentinel-1 imagery, while flood thresholds were determined
using the Antecedent Precipitation Index (API) approach. Results showed that
return period discharges ranged from 2,17 m³/s (Qt2) to 7,41 m³/s (Qt100), with
inundated areas expanding from 5,22 ha to 17,35 ha. Inundation spread
predominantly toward the downstream area, with Kalumpang Village experiencing
the largest increase due to flat topography, dense settlements, and the backwater
effect from Rawa Danau. Model validation against Sentinel-1 imagery yielded a fit
index of 64,4%, indicating moderate agreement. Flood threshold analysis
established a lower threshold of 1 mm/day and an upper threshold of 58.1 mm/day,
which were combined into a four-level early warning system. The threshold system
is recommended for operational use by BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian and
BPBD Serang Regency, supported by higher-resolution DEM and structural
mitigation such as river normalization.

