Representasi Budaya Patriarki pada Film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”
Abstract
Film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” (2025) merupakan sebuah
film drama keluarga garapan sutradara Kuntz Agus yang diproduksi oleh Rapi
Films bersama Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Vortera Studios. Penelitian
ini bertujuan menganalisis representasi budaya patriarki, tekanan ekonomi, dan
konflik domestik dalam kehidupan keluarga urban di Indonesia. Metode yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif dan studi pustaka dengan pendekatan teori
representasi Stuart Hall serta semiotika Charles Sanders Peirce. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dinamika relasi kuasa dan dampak patriarki terepresentasikan
melalui penguasaan ruang fisik dan emosional yang melemahkan perempuan,
rapuhnya otoritas laki-laki saat ekonomi runtuh, munculnya krisis maskulinitas,
serta beban ganda dan isolasi psikologis pada istri. Film ini juga merepresentasikan
bantahan terhadap mitos bahwa ruang domestik selalu menjadi tempat perlindungan
yang aman, melainkan dapat berubah menjadi ruang traumatik yang menghasilkan
luka emosional lintas generasi akibat ketimpangan kuasa dan kerentanan ekonomi. The film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” (2025) is a family drama directed by Kuntz Agus and produced by Rapi Films in collaboration with Screenplay Films, Legacy Pictures, and Vortera Studios. This study aims to analyze the representation of patriarchal culture, economic pressure, and domestic conflict in the lives of urban families in Indonesia. This study employs a descriptive qualitative method and literature review, utilizing Stuart Hall’s representation theory and Charles Sanders Peirce’s semiotics. The results indicate that power dynamics and the impacts of patriarchy are represented through the mastery of physical and emotional spaces that weakens women, the fragility of male authority when the economy collapses, the emergence of a masculinity crisis, and the double burden and psychological isolation experienced by wives. This film also represents a contradiction to the myth that the domestic sphere is always a safe haven, showing instead that it can transform into a traumatic space that generates intergenerational emotional wounds due to power imbalances and economic vulnerability.

