Evaluasi Klinis Pemberian Kombinasi Ketamin-Xylazine dan Ketamin-Acepromazine pada Kucing Jantan
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Nurtaufiqa, Alyaa
Widyananta, Budhy Jasa
Rahma, Anisa
Metadata
Show full item recordAbstract
Anestesi pada kucing memerlukan pemilihan protokol untuk menghasilkan sedasi dan analgesia yang memadai dengan gangguan fisiologis seminimal mungkin. Penelitian ini bertujuan menganalisis respons kucing jantan berdasarkan onset, durasi anestesi, frekuensi denyut jantung, frekuensi respirasi, dan suhu tubuh setelah pemberian kombinasi ketamin–acepromazine atau ketamin–Xylazine. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder pada kucing dengan premedikasi atropin sulfat sebelum pemberian kombinasi anestesi. Parameter diamati setiap 15 menit selama 60 menit setelah induksi anestesi. Data onset dan durasi dianalisis menggunakan independent t-test atau Mann–Whitney test, sedangkan tanda vital dianalisis menggunakan repeated measures ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa frekuensi denyut jantung, frekuensi respirasi, dan suhu tubuh berubah signifikan selama periode anestesi (p<0,05), tetapi pola perubahannya relatif serupa pada kedua kelompok (p>0,05). Hanya frekuensi respirasi yang berbeda signifikan antarkelompok (p=0,036), dengan nilai lebih rendah pada kelompok ketamin–xylazine. Kombinasi ketamin–xylazine menghasilkan onset lebih cepat (8,3 ± 1,95 menit) dan durasi lebih lama (57,7 ± 11,52 menit) dibandingkan ketamin–acepromazine (10,7 ± 3,74 menit dan 29,1 ± 7,25 menit). Kedua kombinasi mempertahankan tanda vital dalam batas klinis yang dapat diterima; ketamin–acepromazine berpotensi lebih sesuai untuk prosedur singkat, sedangkan ketamin–xylazine untuk prosedur yang memerlukan durasi anestesi lebih lama.

