Streptomyces spp. Asal Tanah sebagai Penghasil Senyawa Bioaktif Antifungi Fitopatogen dan Analisis Genom Lengkapnya
Date
2026Author
Septiana, Andi Annisa
Wahyudi, Aris Tri
Astuti, Rika Indri
N, Abjad Asih
Metadata
Show full item recordAbstract
Banyak bakteri tanah diketahui mampu menghasilkan senyawa bioaktif
antimikrob atau antibiotik. Salah satu kelompok yang berpotensi adalah aktinomiset
rizosfer, yang dikenal sebagai penghasil utama senyawa bioaktif dengan berbagai
aktivitas biologis, termasuk aktivitas antifungi terhadap cendawan fitopatogen.
Aktinomiset dari genus Streptomyces diketahui menghasilkan sekitar 70% dari
seluruh senyawa antibiotik yang tersedia saat ini dan 60% dari senyawa antifungi
telah digunakan dalam pertanian. Penelitian sebelumnya telah berhasil mengisolasi
sejumlah isolat Streptomyces asal tanah rizosfer jagung di Nusa Tenggara Barat
(NTB), dan telah berhasil menyeleksi isolat Streptomyces yang memiliki aktivitas
antifungi fitopatogen. Namun, profil metabolit sekunder serta klaster gen
biosintetik yang berperan dalam biosintesis senyawa bioaktifnya masih belum
diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui senyawa bioaktif
antifungi fitopatogen yang dihasilkan oleh Streptomyces dan menganalisis klaster
gen biosintetiknya melalui pendekatan Whole Genome Sequencing (WGS) pada
isolat paling potensial.
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain uji aktivitas
antifungi terhadap cendawan fitopatogen Fusarium oxysporum dan Rhizoctonia
solani sebagai model. Uji antagonis dilakukan menggunakan metode dual culture.
Tiga isolat dengan aktivitas antifungi terbaik kemudian diekstraksi senyawa
bioaktif menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak kasar yang diperoleh kemudian
diuji aktivitas antifunginya menggunakan metode food poisoning. Ekstrak kasar
dengan aktivitas antifungi tertinggi dalam penghambatannya kemudian dilihat
profil metabolitnya menggunakan Liquid Chromatography-Tandem Mass
Spectrometry (LC-MS/MS) dan dianalisis menggunakan WGS untuk
mengidentifikasi klaster gen biosintetik yang terkait dengan produksi metabolit
antifungi. Anotasi genom dilakukan menggunakan eggNOG-mapper,
BlastKOALA (KEGG), dan antiSMASH.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat Streptomyces spp. NTB 38, NTB
42, NTB 72, dan NTB 95 memiliki penghambatan terhadap kedua cendawan uji
sedangkan isolat NTB 36 dan 60 hanya menghambat cendawan R. solani. Diantara
seluruh isolat, NTB 42 menunjukkan aktivitas antifungi tertinggi. Analisis LC–
MS/MS mengidentifikasi beberapa metabolit bioaktif secara putative pada ekstrak
NTB 42, dengan senyawa dioxapyrrolomycin sebagai salah satu metabolit dominan.
Analisis genom menunjukkan bahwa NTB 42 berkerabat dekat dengan
Streptomyces tendae berdasarkan ANI dan filogenomik. Anotasi COG dan KEGG
mengungkap keberadaan gen yang berperan dalam regulasi transkripsi,
metabolisme primer, dan biosintesis metabolit sekunder, sedangkan analisis
antiSMASH mengidentifikasi 30 biosynthetic gene clusters (BGCs) yang
menunjukkan kapasitas biosintesis metabolit sekunder yang tinggi. Integrasi hasil genome mining dan LC–MS/MS menunjukkan adanya klaster T1PKS,NI-siderophore yang
memiliki kemiripan parsial dengan klaster biosintesis pyrrolomycin A/B/C/D, yang
mengindikasikan keterkaitan antara potensi genetik NTB 42 dan biosintesis
dioxapyrrolomycin yang diduga berkontribusi terhadap aktivitas antifungi. Secara
keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Streptomyces sp. NTB 42
merupakan isolat rizosfer jagung lahan kering yang berpotensi sebagai sumber
metabolit bioaktif antifungi terhadap cendawan fitopatogen.

