| dc.description.abstract | Ikan hias neon tetra (Paracheirodon innesi) merupakan komoditas unggulan dalam perdagangan ikan hias internasional dan telah dibudidayakan secara intensif di Indonesia, dengan Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksinya. Namun, praktik budidaya jangka panjang dengan penggunaan induk yang terbatas dan berkerabat dekat telah memicu penurunan kualitas genetik populasi, yang tercermin dari rendahnya kinerja reproduksi induk, pertumbuhan benih yang lambat dan tidak seragam, serta meningkatnya mortalitas. Kondisi ini menuntut strategi pemuliaan yang tepat dan berbasis ilmiah untuk menjamin keberlanjutan produksi neon tetra.
Disertasi ini bertujuan mengevaluasi persilangan interpopulasi ikan neon tetra (Paracheirodon innesi) asal Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, untuk meningkatkan kinerja reproduksi dan mutu genetik pertumbuhan, melalui pendekatan pemuliaan yang terstruktur, meliputi karakterisasi sumber genetik, evaluasi persilangan interpopulasi, serta penerapan seleksi individu untuk perbaikan sifat pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahapan utama yang saling terkait, di mana hasil setiap tahap digunakan sebagai dasar perancangan strategi pada tahap berikutnya.
Tahap pertama dari rangkaian penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman morfometrik dan molekuler ikan neon tetra dari tiga lokasi sentra budidaya di Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat (Bojongsari, Curug, dan Pondok Petir). Pendekatan truss morfometrik (25 karakter pengukuran) yang dianalisis menggunakan principal component analysis (PCA) menghasilkan tujuh komponen utama dengan nilai eigen >1, yang mampu menjelaskan 74,38% variasi morfologi. Sementara itu, analisis penanda molekuler RAPD menggunakan tiga primer (OPB-10, OPC-05, dan OPW-02) menghasilkan 51 lokus polimorfik. Baik plot PCA maupun dendrogram RAPD menunjukkan pola pengelompokan yang sama, di mana populasi Bojongsari dan Pondok Petir memiliki kemiripan tinggi dan terpisah secara jelas dari klaster populasi Curug. Secara genetik, populasi Bojongsari menunjukkan tingkat polimorfisme dan heterozigositas tertinggi (58,82% dan 0,20), diikuti oleh Curug (49,02% dan 0,18) serta Pondok Petir (35,29% dan 0,14). Jarak genetik terjauh ditemukan antara populasi Curug dan Bojongsari (0,4138), sedangkan yang terdekat antara Pondok Petir dan Bojongsari (0,2883). Mengingat tingginya keragaman genetik dan jauhnya jarak genetik antara populasi Bojongsari dan Curug, keduanya merupakan kandidat induk yang potensial untuk digunakan dalam program pemuliaan melalui persilangan.
Tahap kedua bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas persilangan interpopulasi antara neon tetra asal Bojongsari dan Curug dalam meningkatkan kinerja reproduksi serta mutu genetik pertumbuhan benih generasi pertama (G1). Persilangan dilakukan secara resiprokal dengan sistem pemijahan berpasangan (1:1), dengan ulangan sebanyak 25 pasang induk. Parameter yang diamati meliputi keberhasilan pemijahan, fekunditas, derajat pembuahan, derajat penetasan, pertumbuhan benih, koefisien keragaman benih, serta estimasi nilai heterosis dan heritabilitas dalam arti luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan interpopulasi tidak menghasilkan efek heterosis positif, baik pada karakter reproduksi maupun pertumbuhan. Namun demikian, estimasi heritabilitas arti luas untuk karakter panjang tubuh tergolong moderat (H = 0,42), dengan prediks respons seleksi sebesar 0,13 cm per generasi. Hal ini menunjukkan bahwa komponen genetik aditif masih tersedia dan berpotensi dieksploitasi melalui program seleksi. Berdasarkan temuan tersebut, persilangan interpopulasi dinilai kurang efektif sebagai strategi utama perbaikan mutu genetik neon tetra, dan pendekatan seleksi direkomendasikan sebagai strategi lanjutan.
Penelitian dilanjutkan pada tahap ketiga dengan menerapkan seleksi individu pada populasi G1 untuk meningkatkan mutu genetik secara kumulatif. Seleksi difokuskan pada karakter pertumbuhan panjang tubuh sebagai karakter utama yang bernilai ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja reproduksi induk G1 dan mutu genetik pertumbuhan ikan neon tetra generasi kedua (G2) hasil seleksi. Induk ikan yang digunakan merupakan hasil seleksi dari tahapan penelitian sebelumnya, secara keseluruhan sebagai gene pool baru, dengan panjang total 3,37 ± 0,04 cm dan bobot tubuh 0,47 ± 0,08 g. Metode seleksi yang digunakan yaitu seleksi individu pada benih G2, dengan cut off seleski 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk neon tetra generasi pertama (G1) menghasilkan performa reproduksi yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, terutama pada parameter keberhasilan memijah dan fekunditas. Estimasi parameter genetik menghasilkan nilai diferensial seleksi (S) sebesar 0,31 cm, respons seleksi (R) sebesar 0,04 cm, heritabilitas nyata (h²) sebesar 0,13, dan genetic gain sebesar 1,5%. Meskipun heritabilitas nyata dan respons seleksi tergolong rendah, seleksi individu masih efektif dalam mengakumulasi gen-gen aditif yang menguntungkan. Hasil ini mengonfirmasi bahwa seleksi menghasilkan kemajuan genetik yang stabil dan terukur.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan mutu genetik ikan neon tetra budidaya di Kecamatan Bojongsari lebih efektif dicapai melalui pendekatan seleksi dibandingkan dengan persilangan interpopulasi. Kombinasi rendahnya keragaman genetik populasi dasar, kegagalan eksploitasi heterosis, serta keberhasilan seleksi menegaskan bahwa strategi pemuliaan neon tetra perlu difokuskan pada pemanfaatan varians genetik aditif. Populasi hasil seleksi dalam penelitian ini berpotensi menjadi populasi dasar yang lebih stabil untuk program pemuliaan jangka panjang, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas, kualitas benih, dan keberlanjutan industri ikan hias nasional. | |