Framing Isu Kebijakan Publik dalam Konten Mata Rakyat pada YouTube Astronacci
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
MultimediaAuthor
MIQDAD
Priatna, Wahyu Budi
Metadata
Show full item recordAbstract
Astronacci merupakan kanal YouTube edukasi finansial yang dipimpin oleh Dr. Gema Goeyardi dengan lebih dari satu juta pelanggan dan aktif membahas isu ekonomi, pasar, serta kebijakan publik melalui segmen Mata Rakyat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi framing isu kebijakan publik dalam lima video Mata Rakyat yang tayang pada periode 15 Maret 2025 hingga 21 Januari 2026, serta membandingkan pola pembingkaian berdasarkan jenis isu yang dibahas, baik lokal maupun global. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menerapkan teori framing Robert N. Entman dan Pan dan Kosicki secara setara. Data dikumpulkan melalui dokumentasi video, transkrip narasi, dan tangkapan layar, kemudian dianalisis menggunakan elemen framing Entman yang meliputi pendefinisian masalah, penyebab masalah, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian, serta struktur framing Pan dan Kosicki yang mencakup sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian menunjukkan lima karakter framing yang berbeda, yaitu apologetik-pragmatis pada video Danantara, sinis-realis pada video Perang Dunia 3, apologetik-naratif pada video The Fishing Game, teknokratis-empiris pada video Purbaya, dan konspiratif-prediktif pada video Tariff War. Temuan utama penelitian adalah adanya pola inversi struktural, yaitu perbedaan strategi framing berdasarkan posisi geografis isu. Pada isu lokal, kreator cenderung menyamarkan aktor penyebab dan membingkai kebijakan pemerintah secara lebih defensif, sedangkan pada isu global kreator secara eksplisit menyebut aktor penyebab dan menyampaikan kritik yang lebih tajam, namun minim menawarkan solusi kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konteks geografis isu memengaruhi cara kebijakan publik dibingkai di media digital sehingga satu kreator dapat menggunakan pola framing yang berbeda terhadap isu lokal dan global. Temuan ini memperkaya kajian framing media digital serta memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi media kritis dan studi komunikasi kebijakan publik. Astronacci is a financial education YouTube channel led by Dr. Gema Goeyardi with more than one million subscribers and actively discusses economic, market, and public policy issues through its Mata Rakyat segment. This study aims to analyze the construction of public policy framing in five Mata Rakyat videos published between March 15, 2025, and January 21, 2026, and to compare framing patterns based on the types of issues discussed, including both local and global issues. The research employs a descriptive qualitative approach using the framing theories of Robert N. Entman and Pan and Kosicki as equally important analytical frameworks. Data were collected through video documentation, narrative transcripts, and screenshots, and analyzed using Entman’s framing elements, namely problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and treatment recommendation, as well as Pan and Kosicki’s framing structures, including syntactic, script, thematic, and rhetorical dimensions. The findings reveal five distinct framing characteristics: apologetic-pragmatic in the Danantara video, cynical-realist in the World War III video, apologetic-narrative in The Fishing Game video, technocratic-empirical in the Purbaya video, and conspiratorial-predictive in the Tariff War video. The study’s main finding is a pattern of structural inversion, referring to differences in framing strategies based on the geographical position of an issue. In local issues, the creator tends to obscure the actors responsible and frame government policies more defensively, whereas in global issues the creator explicitly identifies responsible actors and delivers sharper criticism while offering limited collective solutions. This study concludes that the geographical context of an issue influences how public policies are framed in digital media, allowing the same creator to employ contrasting framing patterns toward local and global issues. These findings contribute to the development of digital media framing studies, critical media literacy, and public policy communication research.

