Show simple item record

dc.contributor.advisorBahruni
dc.contributor.advisorPurwawangsa, Handian
dc.contributor.authorHaino, Lichintya Maharani
dc.date.accessioned2026-07-20T13:54:57Z
dc.date.available2026-07-20T13:54:57Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175199
dc.description.abstractIndonesia memiliki kekayaan alam yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam guna mendorong ekonomi lokal dan mendukung upaya konservasi. Pengembangan wisata alam sering kali terhambat oleh keterbatasan infrastruktur serta kemampuan pengelolaan yang kurang efektif. Studi ini berfokus pada manajemen pengelolaan dua unit usaha di bawah naungan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Puncak Lestari, yaitu Bike Park dan Talaga Saat, yang menunjukkan perbedaan karakteristik operasional dan profil risiko meskipun berada dalam satu payung kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif terhadap model manajemen kedua lokasi wisata tersebut. Fokus utama analisis terletak pada elemen kolaborasi antar pemangku kepentingan, penerapan standar pelaksanaan, serta pengelolaan sumber daya manusia guna menentukan efisiensi dan efektivitas pengelolaan masing-masing lokasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dilaksanakan antara Juni hingga Agustus 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pihak pengelola, observasi lapangan secara langsung, kajian dokumen internal, survei kepuasan pengunjung dan analisis digital melalui google review untuk mengevaluasi kualitas layanan. Analisis dilakukan dengan membandingkan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan pada kedua lokasi. Perbedaan struktur kolaborasi memberikan keunggulan strategis yang berbeda, Talaga Saat unggul dalam mobilisasi sumber daya eksternal melalui jejaring yang luas, sementara Bike Park lebih efektif dalam kecepatan pengambilan keputusan. Meskipun kedua lokasi beroperasi tanpa standar prosedur tertulis dan sistem penilaian kinerja formal, operasional tetap berjalan efektif melalui pemahaman peran di lapangan dan kepemimpinan personal. Berdasarkan kualitas layanan, Bike Park menunjukkan manajemen yang lebih baik dibandingkan Talaga Saat yang menghadapi kompleksitas wisata massal. Dalam aspek SDM, kedua lokasi masih bersifat reaktif tanpa perencanaan pelatihan rutin, di mana efektivitas pengelolaan sangat bergantung pada umpan balik pengunjung dan instruksi lisan dibandingkan sistem kelembagaan yang terstruktur.
dc.description.abstractIndonesia possesses extraordinary natural wealth with significant potential for development into nature-based tourism destinations to stimulate local economies and support conservation efforts. However, sector growth is often hindered by infrastructure limitations and ineffective management. This study focuses on two business units under the auspices of the Forest Village Community Institution (LMDH) Puncak Lestari namely Bike Park and Talaga Saat which exhibit distinct operational characteristics and risk profiles despite sharing the same institutional framework. This research aims to conduct a comparative analysis of the functional management models at both sites. The primary analytical focus lies on elements of stakeholder collaboration, the implementation of operational standards, and human resource management to determine the efficiency and effectiveness of each location's governance. A mixed-methods approach, utilizing both qualitative and quantitative data, was conducted between June and August 2025. Data were gathered through in-depth interviews with management, direct field observations, internal document reviews, visitor satisfaction surveys, and digital sentiment analysis via Google Reviews to evaluate service quality. The analysis compares the functions of planning, organizing, actuating, and controlling at both sites. Findings reveal that differences in collaborative structures offer distinct strategic advantages: Talaga Saat excels in mobilizing external resources through extensive networking, whereas Bike Park is more effective in decision-making speed. Although both locations operate without written standard operating or formal performance appraisal systems, operations remain effective due to on-site role clarity and personal leadership. In terms of service quality, Bike Park demonstrates superior management compared to Talaga Saat, which faces the complexities of heterogeneous mass tourism. Regarding human resources, both sites remain reactive, lacking routine training plans; management effectiveness relies heavily on visitor feedback and verbal instructions rather than structured institutional systems.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Komparatis Manajemen Wisata Alam: Studi Kasus Bike Park dan Talaga Saat, Perhutanan Sosial LMDH Puncak Lestari, Jawa Baratid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordkolaborasiid
dc.subject.keywordSDMid
dc.subject.keywordstandar operasionalid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record