| dc.description.abstract | Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era media baru telah menggeser paradigma komunikasi dakwah secara fundamental. Generasi Z sebagai iGeneration yang tumbuh dalam ekosistem digital menuntut pendekatan syiar yang lebih personal dan berbasis pada pengalaman emosional, sehingga model dakwah konvensional yang otoritatif sering kali memicu resistensi. Fenomena ekonomi perhatian dan terbatasnya attention span anak muda di Instagram memaksa institusi dakwah untuk merumuskan ulang strategi pesan yang tidak sekadar mengandalkan estetika visual, melainkan pada kekuatan naskah dan retorika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penyusunan naskah narasi konten dakwah di Instagram Reels @Goodcircleid melalui elemen Digital Storytelling (DST) Lambert & Hessler, serta menganalisis pilar retorika digital para talent.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Mei 2026 di ruang siber akun @Goodcircleid serta melalui observasi di Studio Good Circle. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam bersama informan tim internal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling (mencakup Leadership Team, Scriptwriter/Editor, Tim Produksi, Talent Management, dan Talent) serta 1 informan eksternal yaitu follower instagram @Goodcircleid, serta observasi digital terhadap unggahan video Reels periode Februari hingga Mei 2026. Data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumen naskah dan studi literatur. Teknik analisis data menerapkan model Miles, Huberman yang terdiri atas kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data mendalam dibantu menggunakan perangkat lunak analisis kualitatif NVivo melalui tahapan open, axial, dan selective coding.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa @Goodcircleid secara efektif mengintegrasikan elemen Digital Storytelling dan segitiga retorika Aristoteles ke dalam format video pendek. @Goodcircleid secara konsisten menerapkan sudut pandang (Point of View) sebagai "sahabat perjalanan”, menyusun A Dramatic Question berbasis validasi keresahan batin pada tiga detik pertama, mengutamakan prinsip ekonomi (Economy) melalui pemadatan draf materi teologis ke dalam framework, serta menjaga tempo (Pacing) dan karakter vokal (The Gift of Your Voice). Pada aspek retorika digital, pilar Ethos dibangun secara ketat melalui standarisasi latar belakang pendidikan untuk menjamin validitas sanad ilmu, pilar Pathos dikonstruksi lewat visualisasi temperatur warna hangat (warm tone shot) dan empati, sedangkan pilar Logos diperkuat oleh argumen rasional, analogi logis, dan dalil Al-Qur'an serta Hadis. Sinergi antara kecakapan teknis multimedia dan keahlian narator ini berhasil membangun ekosistem pembelajaran agama yang tidak menghakimi bagi Generasi Z di era digital. | |