| dc.description.abstract | Aglaonema spp. merupakan tanaman hias daun bernilai ekonomi tinggi yang
memiliki keragaman fenotipik luas, terutama pada karakter pertumbuhan, warna
daun, dan respons fisiologis antarkultivar. Tingginya permintaan pasar terhadap
Aglaonema tidak diimbangi oleh kemampuan perbanyakan konvensional yang
memadai sehingga mikropropagasi in vitro menjadi alternatif strategis untuk
menghasilkan propagul dalam jumlah besar, seragam, dan bebas patogen.
Penelitian ini mengintegrasikan tiga pendekatan utama untuk peningkatan produksi
Aglaonema, yaitu optimasi kualitas pertumbuhan melalui aplikasi nanopartikel
SiO2, pengembangan metode karakterisasi fenotipik non-destruktif berbasis sensor
SPAD, dan peningkatan efisiensi perbanyakan massal melalui mikropropagasi in
vitro.
Percobaan pertama mengkaji pengaruh aplikasi foliar nanopartikel SiO2 pada
empat konsentrasi (0; 0,3; 0,6; dan 0,9 g L-1) terhadap 16 kultivar Aglaonema
menggunakan rancangan split plot dalam rancangan kelompok lengkap teracak.
Percobaan kedua menganalisis korelasi dan regresi antara indeks SPAD pada tiga
posisi pengukuran daun (pangkal, tengah, ujung, dan rata-rata) dengan kandungan
klorofil a, klorofil b, klorofil total, dan karotenoid, menggunakan 16 kultivar dalam
rancangan yang sama (percobaan 1) dengan tiga ulangan. Percobaan ketiga
mengkaji pengaruh sitokinin BAP (4, 6, dan 8 mg L-1 + NAA 0,5 mg L-1) dan TDZ
(0, 8, dan 16 mg L-1) terhadap induksi tunas empat kultivar Aglaonema (Adelia,
Red Borju, Tricolor, dan Sultan Brunei) secara in vitro dalam rancangan kelompok
lengkap teracak faktorial, dilanjutkan subkultur ke media IBA 0,5 mg L-1.
Hasil percobaan pertama menunjukkan aplikasi nanopartikel SiO2 mampu
menurunkan insidensi dan severitas OPT, meningkatkan pertumbuhan, serta
kualitas daun Aglaonema. Konsentrasi 0,3 g L-1 memberikan peningkatan tertinggi
pada tinggi tanaman, stomata density, rasio klorofil, dan karotenoid. Konsentrasi
0,6 g L-1 meningkatkan ketebalan epidermis, ketebalan mesofil, tebal daun, dan
kandungan klorofil. Konsentrasi 0,9 g L-1 meningkatkan panjang dan lebar daun,
indeks stomata, menurunkan insidensi serangan Lepidosaphes beckii hingga 2,22%,
antraknosa hingga 4,44%, serta menghasilkan severitas antraknosa terendah
(12,50%, kelas moderat resisten). Mekanisme ketahanan bekerja melalui aktivasi
asam salisilat secara biokimia dan deposisi silika pada epidermis secara fisik yang
mempersulit penetrasi patogen dan hama. Interaksi antara kultivar dan nanopartikel
SiO2 berpengaruh nyata terhadap lebar daun, ketebalan epidermis, mesofil, tebal
daun, indeks stomata, dan stomata density. Konsentrasi 0,9 g L-1 merupakan
perlakuan yang direkomendasikan untuk optimasi produksi Aglaonema komersial.
Hasil percobaan kedua menunjukkan indeks SPAD berkorelasi positif dan
signifikan dengan kandungan klorofil (r = 0,62-0,69; p < 0,001). Nilai SPAD bagian
tengah daun dan SPAD rata-rata menghasilkan akurasi estimasi tertinggi (R2 =
0,46-0,48 untuk klorofil total) sehingga keduanya direkomendasikan sebagai
protokol pengukuran standar. Pemisahan analisis berdasarkan kelompok warna
daun menghasilkan temuan yang memiliki implikasi praktis signifikan. Kultivar
hijau menghasilkan model regresi yang lebih kuat (R2 = 0,40-0,65) dibandingkan
kultivar non-hijau (R2 = 0,11-0,34), karena antosianin pada kultivar berdaun
berwarna menginterferensi pembacaan sensor SPAD. Estimasi karotenoid
menggunakan indeks SPAD menunjukkan keterbatasan mendasar dengan nilai R2
maksimum 0,33 pada seluruh kultivar, karena sensor SPAD tidak mendeteksi
karotenoid secara langsung.
Hasil percobaan ketiga menunjukkan bahwa konsentrasi BAP 8 mg L-1
menghasilkan persentase muncul tunas dan jumlah tunas tertinggi pada 60 HSK.
TDZ 8 mg L-1 merupakan konsentrasi optimal yang menghasilkan jumlah tunas
tertinggi pada 90 HSK (5,4 ± 3,6 tunas), sedangkan TDZ 16 mg L-1 menunjukkan
efek inhibisi. Faktor genotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah dan panjang tunas
pada perlakuan TDZ, dengan Red Borju menghasilkan jumlah tunas terbanyak dan
Adelia menghasilkan tunas terpanjang. Subkultur ke media IBA 0,5 mg L-1
menghasilkan proliferasi tunas tertinggi pada Red Borju dan Tricolor asal TDZ 8
mg L-1, masing-masing 13,7 ± 4,5 dan 14,0 ± 8,3 tunas. Kombinasi TDZ 8 mg L-1
pada fase induksi dilanjutkan subkultur ke media IBA 0,5 mg L-1 merupakan
protokol paling efisien untuk mikropropagasi Aglaonema, dengan Red Borju dan
Tricolor sebagai kultivar paling responsif.
Ketiga pendekatan dalam penelitian ini membentuk kerangka produksi
Aglaonema yang komprehensif dan saling melengkapi. Nanopartikel SiO2
meningkatkan kualitas dan ketahanan tanaman induk di lapangan, sensor SPAD
menyediakan alat seleksi tanaman induk yang cepat dan non-destruktif berdasarkan
status pigmen fotosintetik, sedangkan mikropropagasi in vitro memungkinkan
perbanyakan massal kultivar terpilih secara cepat, seragam secara genetik, dan
bebas patogen. Integrasi ketiga pendekatan ini berpotensi memutus tiga hambatan
utama dalam rantai produksi Aglaonema komersial di Indonesia dan membuka
peluang pengembangan protokol produksi tanaman hias bernilai ekonomi tinggi
yang lebih efisien dan berkelanjutan. | |