Korelasi Aktivitas Antioksidan Propolis Lebah Tetragonula laeviceps terhadap Inhibisi Enzim Tirosinase, Elastase dan Kolagenase Secara In Vitro
Abstract
Trend penuaan kulit muncul pada usia 20 tahun yang ditandai dengan permasalahan kulit seperti kerutan halus, hiperpigmentasi, dan pembesaran pori-pori. Faktor ekstrinsik merupakan pemicu utama penuaan karena hanya sekitar 3 % disebabkan oleh faktor intrinsik. Peremajaan kulit sebagai pencegahan dan pengobatan anti-penuaan melalui kosmetik mendorong pasar kosmetik Indonesia berkembang pesat, namun kontradiksi terjadi seiring makin tingginya penyitaan produk ilegal karena tidak memiliki nomor izin edar dan mengandung bahan berbahaya. Pengungkapan potensi bioprospeksi sumber daya hayati Indonesia, yaitu propolis lebah tanpa sengat sebagai bahan baku alami, memerlukan kajian ilmiah yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan korelasi antara metode ekstraksi dan variasi kepolaran pelarut dengan kandungan senyawa metabolit sekunder, serta korelasi antara aktivitas antioksidan dan aktivitas inhibisi enzim tirosinase, elastase, dan kolagenase pada propolis T. laeviceps.
Metode UAE dengan waktu yang lebih singkat menghasilkan rendemen ekstrak sekitar 42,93 ± 3,16 % lebih tinggi dibandingkan dengan metode maserasi klasik. Nilai total flavonoid dan total fenolik berkorelasi negatif kuat dengan nilai IC50 antioksidan, anti-tirosinase, anti-elastase, dan anti-kolagenase. Nilai IC50 antioksidan berkorelasi positif dengan nilai IC50 anti-tirosinase, anti-elastase, dan anti-kolagenase.. Ekstrak etil asetat UAE memiliki nilai TPC 127,04 ± 1,16 mg GAE/g, TPC 74,85 ± 1,09 mg QE/g, IC50 DPPH 76,32 ± 2,13 µg/ml, IC50 ABTS 192,35 ± 1,89 µg/ml, IC50 FRAP 3,07 ± 0,11 µg/ml, IC50 CUPRAC 13,55 ± 1,80 µg/ml, IC50 TBARS 20,37 ± 0,98 µg/ml, IC50 anti-tirosinase 100,39 ± 1,56 µg/ml, IC50 anti-elastase 185,60 ± 6,23 µg/ml, dan IC50 anti-kolagenase 77,53 ± 1,39 µg/ml, yang masing-masing lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak heksan, etanol, dan air pada perlakuan maserasi klasik dan UAE. Profil metabolit sekunder ekstrak propolis didominasi oleh golongan terpenoid, flavonoid, fenolik, dan asam lemak. Jenis senyawa umum yang ditemukan (1) terpenoid: golongan monoterpenoid (citral), diterpenoid (D,L-camphor, carvone,(9cis)-retinal), triterpenoid (botulin, ursolic acid, lupeol), dan sesquiterpenoid (caryophyllene oxide); (2) flavonoid: quercetin, apigenin, isorhamnetin, myricitrin, myricetin, mearnsitrin, taxifolin, dan kaempferol; (3) fenolik: syringic acid, 4- coumaric acid, dan methoxycinnamic acid; (4) asam lemak: a-linolenic acid, 13(S)-HOTrE, docosapentaenoic acid, pinolenic acid, eicosapentaenoic acid, arachidonic acid, palmitoleic acid, dan stearic acid; (5) vitamin: ergocalciferol dan nicotinic acid. Implikasi hasil bioaktivitas dan profil metabolit sekunder propolis T. laeviceps sebagai kandidat bahan alami untuk sediaan kosmetik dengan klaim antioksidan, agen pemutih, dan anti-penuaan.

