| dc.description.abstract | Percepatan pembangunan di Provinsi Jawa Timur telah meningkatkan
tekanan terhadap daya dukung lingkungan hidup (DDLH), yang ditandai oleh
ekspansi kawasan terbangun, konversi lahan pertanian, deforestasi, dan degradasi
kawasan hulu DAS. Kondisi ini menyebabkan penurunan kapasitas ekologis,
meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis, serta kesenjangan antara rencana
tata ruang dan kondisi biofisik aktual. Meskipun DDLH telah diamanatkan dalam
regulasi penataan ruang dan lingkungan hidup, implementasinya masih bersifat
normatif dan belum menjadi dasar operasional dalam pengambilan keputusan
spasial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model integrasi DDLH
sebagai ecological constraints dalam penataan ruang wilayah melalui pendekatan
yang mengintegrasikan System Dynamics, Spatial Dynamics Model berbasis
Cellular
Automata-Markov (CA-Makov), MICMAC, MACTOR, dan
MULTIPOL. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis dinamika penggunaan
lahan, mengidentifikasi variabel kunci dan aktor strategis, serta mengevaluasi
alternatif kebijakan dalam berbagai skenario pembangunan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan wilayah Jawa Timur
sangat dipengaruhi oleh sumber daya air, kemampuan lahan, jasa ekosistem,
ekoregion, variabilitas iklim, dan penegakan hukum. Tiga skenario kebijakan
dikembangkan, yaitu business as usual (BAU), gradual ecological adaptation
(GEA), dan progressive ecological control (PEC). Hasil simulasi menunjukkan
bahwa skenario PEC memberikan kinerja terbaik dalam menjaga keseimbangan
ekologis melalui pengendalian alih fungsi lahan, perlindungan kawasan lindung,
dan konservasi kawasan hulu DAS. Simulasi pola ruang RTRW Jawa Timur tahun
2043 juga menunjukkan peningkatan kawasan lindung secara signifikan pada
skenario PEC dibandingkan dengan skenario BAU dan GEA.
Penelitian ini menghasilkan model Ecological Constraints-Based Spatial
Planning yang menempatkan DDLH sebagai batasan ekologis operasional dalam
perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ruang. Kebaruan penelitian terletak
pada integrasi pendekatan sistem, dinamika spasial, analisis aktor, dan evaluasi
kebijakan ke dalam satu kerangka analitis yang mampu menghubungkan kapasitas
ekologis dengan keputusan tata ruang secara dinamis. Model ini menawarkan
transformasi paradigma dari demand-based spatial planning menuju Ecological
Constraints-Based Spatial Planning untuk mendukung pembangunan wilayah
yang berkelanjutan dan berkeadilan ekologis. | |