Show simple item record

dc.contributor.advisorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.advisorMulya, Setyardi Pratika
dc.contributor.authorPutri, Hazel Minerva
dc.date.accessioned2026-07-16T22:54:45Z
dc.date.available2026-07-16T22:54:45Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174898
dc.description.abstractPerbedaan tingkat perkembangan wilayah dan interaksi spasial antarwilayah mencerminkan variasi fungsi wilayah dalam suatu sistem pembangunan. Kabupaten Bogor sebagai wilayah dengan karakteristik pembangunan yang heterogen menunjukkan perbedaan kondisi ekonomi, ketersediaan fasilitas, serta intensitas interaksi antar kecamatan. Namun, kajian yang mengintegrasikan tingkat perkembangan wilayah dan Interaksi Spasial untuk mengidentifikasi fungsi wilayah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat perkembangan wilayah, pola interaksi spasial, tipologi perkembangan dan mobilitas wilayah, serta kategori fungsi wilayah dan arahan pengembangannya di Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada 40 kecamatan di Kabupaten Bogor menggunakan metode skalogram, analisis Origin-Destination (OD), tipologi Klassen, dan decision tree. Hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa rata-rata Indeks Perkembangan Kecamatan (IPK) meningkat dari 14,72 pada tahun 2020 menjadi 15,72 pada tahun 2024. Meskipun demikian, tipologi perkembangan wilayah masih didominasi oleh kategori tertinggal sebanyak 22 kecamatan (55%), sedangkan kategori maju hanya berjumlah 6 kecamatan (15%). Analisis interaksi spasial menghasilkan total pergerakan sebesar 3.538.430 trip/hari dengan pola interaksi yang terkonsentrasi pada wilayah tengah hingga timur Kabupaten Bogor serta memiliki keterkaitan kuat dengan kawasan metropolitan di sekitarnya. Tipologi interaksi spasial menunjukkan terdapat 14 kecamatan sebagai pusat aktivitas utama, 2 kecamatan sebagai wilayah penerima, 1 kecamatan sebagai wilayah pengirim, dan 23 kecamatan sebagai wilayah perifer. Integrasi tipologi perkembangan dan tipologi interaksi spasial melalui pendekatan decision tree menghasilkan lima kategori fungsi wilayah, yaitu 8 kecamatan sebagai Pusat Pertumbuhan, 2 kecamatan sebagai Pusat Pelayanan, 1 kecamatan sebagai Wilayah Pengirim, 7 kecamatan sebagai Wilayah Perifer, dan 22 kecamatan sebagai Wilayah Perifer Tertinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan wilayah di Kabupaten Bogor tidak hanya tercermin dari dominasi wilayah tertinggal, tetapi juga dari rendahnya keterlibatan sebagian besar wilayah dalam sistem interaksi spasial. Konsentrasi fungsi wilayah pada sejumlah kecil pusat pertumbuhan dan dominasi wilayah perifer tertinggal mengindikasikan bahwa perkembangan ekonomi, pelayanan, dan mobilitas masih terpusat pada wilayah tertentu. Oleh karena itu, arahan pengembangan wilayah perlu difokuskan pada peningkatan pelayanan dasar, aksesibilitas, dan konektivitas untuk memperkuat integrasi wilayah dalam sistem aktivitas Kabupaten Bogor.
dc.description.abstractDifferences in regional development levels and interregional spatial interaction reflect variations in regional functions within a development system. Bogor Regency, characterized by heterogeneous development patterns, exhibits disparities in economic conditions, service facilities, and interaction intensity among its sub-districts. However, studies integrating regional development and interregional mobility to identify regional functions remain limited. This study aims to identify regional development levels, analyze spatial interaction patterns, classify development and spatial interaction typologies, and formulate regional function categories and development directions in Bogor Regency. The study covers 40 sub-districts in Bogor Regency and employs scalogram analysis, Origin-Destination (OD) analysis, Klassen typology analysis, and a decision tree approach. The scalogram analysis shows that the average Sub-district Development Index (Indeks Perkembangan Kecamatan/IPK) increased from 14.72 in 2020 to 15.72 in 2024. Nevertheless, regional development remains dominated by the underdeveloped category, comprising 22 sub-districts (55%), while only 6 sub-districts (15%) are classified as advanced. Spatial interaction analysis reveals a total movement of 3,538,430 trips per day, with interactions concentrated in the central and eastern parts of Bogor Regency and strongly connected to the surrounding metropolitan areas. Spatial interaction typology identifies 14 sub-districts as Main Activity Centers, 2 as Receiving Areas, 1 as a Sending Area, and 23 as Peripheral Areas. The integration of development and mobility typologies through a decision tree approach produces five regional function categories: 8 Growth Centers, 2 Service Centers, 1 Sending Area, 7 Peripheral Areas, and 22 Underdeveloped Peripheral Areas. The findings indicate that regional disparities in Bogor Regency are reflected not only in the dominance of underdeveloped areas but also in the limited participation of most sub-districts within the interregional spatial interaction system. The concentration of regional functions in a small number of growth centers and the dominance of underdeveloped peripheral areas suggest that economic activities, public services, and mobility remain concentrated in specific areas. Therefore, regional development strategies should prioritize improving basic services, accessibility, and connectivity to strengthen regional integration within the activity system of Bogor Regency.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Fungsi Wilayah Berdasarkan Tingkat Perkembangan dan Interaksi Spasial di Kabupaten Bogorid
dc.title.alternative
dc.typeSkripsi
dc.subject.keyworddecision treeid
dc.subject.keywordKlassen typologyid
dc.subject.keywordorigin-destinationid
dc.subject.keywordRegional developmentid
dc.subject.keywordscalogramid
dc.subtypeUndergraduate Theses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record