Peran Tengkulak dalam Situasi Sosial dan Ekonomi Petani Pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak
Date
2026Author
BUTARBUTAR, PESALMEN
Nurulhaq, Muhammad Iqbal
Situmeang, Widya Hasian
Metadata
Show full item recordAbstract
Pala merupakan komoditas penting bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Fakfak, tidak hanya sebagai sumber pendapatan tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya yang melekat pada tanaman tahunan yang diwariskan turun-temurun serta dikelola di atas tanah ulayat marga. Petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey masih menghadapi keterbatasan akses modal, informasi harga, transportasi, dan kelembagaan pemasaran, sehingga menempatkan tengkulak sebagai aktor utama dalam sistem sosial-ekonomi petani. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran tengkulak dalam aktivitas ekonomi petani pala, situasi hubungan sosial antara petani dan tengkulak, faktor-faktor penyebab ketergantungan petani, serta dampak keberadaan tengkulak terhadap kondisi sosial dan ekonomi petani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang didukung analisis ekonomi sederhana, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, Focus Group Discussion, serta studi dokumentasi dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tengkulak berperan sebagai penyedia likuiditas prapanen melalui kasbon natura, agregator dan pemasar pascapanen, sekaligus penentu standar mutu pala. Hubungan petani dan tengkulak tidak bersifat statis, melainkan terbentuk, dipelihara, dan bertransformasi dari relasi jual beli menjadi relasi patron-klien yang ditopang oleh kepercayaan, bantuan ekonomi, rasa sungkan, loyalitas, dan utang budi; kehadiran tengkulak masa kini merupakan kelanjutan dari sistem pengepul-juragan yang telah berlangsung turun-temurun. Ketergantungan petani diperkuat oleh keterbatasan akses pembiayaan formal termasuk status tanah ulayat yang tidak dapat dijadikan agunan tingginya biaya logistik, lemahnya kelembagaan petani, dan asimetri informasi harga. Keberadaan tengkulak memberikan dampak ambivalen: membantu petani bertahan melalui kepastian pembelian dan bantuan darurat, tetapi sekaligus memperlemah posisi tawar, membatasi penguasaan nilai tambah, dan mempertahankan ketergantungan sosial-ekonomi dalam jangka panjang, sehingga ekonomi pala petani cenderung berputar sebagai sirkulasi tanpa akumulasi. Nutmeg is an important commodity for Indigenous Papuan (OAP) farmers in Fakfak Regency, serving not only as a source of income but also as part of a social and cultural identity embodied in a perennial crop inherited across generations and cultivated on communal (ulayat) clan land. Nutmeg farmers in the Weri-Saharey Transmigration Area still face limited access to capital, price information, transportation, and marketing institutions, which positions intermediaries as key actors in the farmers' socio-economic system. This study aims to analyze the role of intermediaries in nutmeg farmers' economic activities, the social situations between farmers and intermediaries, the factors driving farmers' dependence, and the impacts of intermediaries on farmers' social and economic conditions. A descriptive qualitative approach supported by simple economic analysis was employed, with data collected through observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions, and documentation and literature studies. The findings show that intermediaries act as providers of pre-harvest liquidity through in-kind credit, as post-harvest aggregators and marketers, and as determinants of nutmeg quality standards. The relationship between farmers and intermediaries is not static but is formed, maintained, and transformed from a trading relation into a patron-client relation sustained by trust, economic assistance, reluctance, loyalty, and moral indebtedness; present-day intermediaries represent a continuation of a long-standing, intergenerational collector-trader system. Farmers' dependence is reinforced by limited access to formal financing including the status of communal land that cannot serve as collateral high logistical costs, weak farmer institutions, and price information asymmetry. The presence of intermediaries produces ambivalent impacts: it helps farmers survive through purchase certainty and emergency assistance, yet simultaneously weakens their bargaining position, limits their control over added value, and sustains long-term socio-economic dependence, leaving the farmers' nutmeg economy circulating without accumulation.

