Show simple item record

dc.contributor.advisorSlamet, H. R. Margono
dc.contributor.advisorTjitropranoto, Prabowo
dc.contributor.advisorAsngari, Pang S.
dc.contributor.advisorSaragih, Bungaran
dc.contributor.advisorPadmowihardjo, Soedijanto
dc.contributor.authorSoemardjo
dc.date.accessioned2010-03-29T04:44:18Z
dc.date.available2010-03-29T04:44:18Z
dc.date.issued1999
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/1746
dc.description.abstractBerbagai usaha pemerintah untuk mencapai swasembada pangan nasional telah dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai subsidi harga dasar produk pertanian, subsidi pupuk dan faktor input produksi lainnya, pembangunan infrastruktur irigasi, serta prasarana transportasi. Disamping itu, berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan fasilitas penyuluhan sudah dilakukan, sehingga pada tahun 1984 Indonesia mengikrarkan diri sebagai negara berswasembada beras. Namun, kondisi swasembada beras tersebut tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras lagi. Ketika dana pemerintah dari sumber minyak bumi semakin menurun, berbagai subsidi terutama bagi sektor pertanian makin dikurangi dan penggalian sumberdana pemerintah daerah makin lebih diintensifkan, maka lalu diterapkan pengembangan otonomi daerah. Besarnya peranan pusat terhadap pembangunan di daerah seperti yang terjadi selama ini cenderung telah membuat kemandirian (otonomi politik) daerah menjadi lambat dan kurang berkembang. Dari uraian itu diketahui adanya masalah bagaimana mempersiapkan sumberdaya manusia pertanian, khususnya petani setelah otonomi daerah tersebut makin diintensifkan ? Masalah tersebut semakin mendesak ketika globalisasi ekonomi (AFTA) tahun 2003 dan kesepakatan APEC tahun 2020 dan kini krisis moneter yang berkepanjangan saat ini. Sejauhmana kesiapan sumberdaya manusia pertanian (tingkat kemandirian petani) itu saat ini ? Faktor-faktor apa saja yang berperan penting dalam proses pengembangan kesiapan petani menghadapai berbagai tuntutan di era globalisasi ekonomi tersebut, sehingga dapat dijadikan dasar dalam perumusan konsep intervesi pembangunan pertanian? Bagaimana model penyuluhan yang tepat dan efektif bagi upaya pengembangan kemandirian petani di era globalisasi tersebut? Bagaimana kedinamisan penyuluh berperan mengembangkan kemandirian petani menghadapi persaingan bebas ii yang makin ketat di era globalisasi ekonomi ini? Berbagai dugaan menyatakan bahwa pola pengembangan sumberdaya manusia yang dilakukan selama ini masih kurang berhasil membuat petani menjadi mandiri, siap menyongsong era globalisasi itu, bahkan untuk mempertahankan swasembada beras sekalipun tidak mampu karena sangat tergantung pada dukungan dari pusat.
dc.languageid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleTransformasi Model Penyuluhan Pertanian Menuju Pengembangan Kemandirian Petani (Kasus di Jawa Barat)id
dc.typeDissertation
dc.subject.keywordSwasembada pangan
dc.subject.keywordSwasembada beras 1984
dc.subject.keywordKebijakan pemerintah
dc.subject.keywordSubsidi pertanian
dc.subject.keywordSubsidi pupuk
dc.subject.keywordInfrastruktur irigasi


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record