Show simple item record

dc.contributor.advisorGunanti
dc.contributor.advisorNoviana, Deni
dc.contributor.advisorWibowo, Deny Setyo
dc.contributor.authorAnugrah, Rizki Ading
dc.date.accessioned2026-07-14T14:14:25Z
dc.date.available2026-07-14T14:14:25Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174632
dc.description.abstractSyok septik merupakan kondisi kegawatdaruratan yang ditandai dengan hipoperfusi sistemik akibat respons imun berlebihan terhadap infeksi yang dapat menyebabkan disfungsi multiorgan termasuk jantung. Penelitian ini bertujuan menilai perubahan karakteristik dan fungsi jantung babi (Sus scrofa domestica) yang mengalami syok septik berdasarkan ekokardiografi M-mode dan elektrokardiografi (EKG), serta mengevaluasi efektivitas terapi resusitasi cairan kristaloid dan norepinefrin. Sembilan ekor babi jantan berusia 12 - 16 minggu berbobot 40 - 60 kg dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol tanpa terapi (K0), resusitasi cairan Ringer-laktat (K1) dan norepinefrin (K2). Syok septik diinduksi menggunakan infus endotoksin E. coli (lipopolisakarida 0111 : B4) hingga tercapai mean arterial pressure (MAP) < 60 mmHg dan skor SOFA = 2. Pemeriksaan ekokardiografi dan EKG dilakukan pada tiga titik waktu: pre shock, septic shock dan post therapy. Data dianalisis menggunakan Two-way ANOVA dan uji emmeans pada selang kepercayaan 95%. Hasil ekokardiografi menunjukkan bahwa syok septik menyebabkan penurunan LVIDd, EDV, SV dan CO pada seluruh kelompok yang mencerminkan gangguan pengisian ventrikel akibat hipovolemia dan vasodilatasi sistemik. Pada fase post therapy, resusitasi cairan (K1) meningkatkan EDV dan SV yang menunjukkan perbaikan preload sesuai prinsip Frank–Starling, sedangkan norepinefrin (K2) menghasilkan peningkatan ejection fraction (EF) dan fractional shortening (FS) yang lebih besar, mencerminkan peningkatan fungsi sistolik melalui mekanisme inotropik dan vasokonstriksi. Analisis statistik menunjukkan bahwa variabel interventricular septum systole (IVSs) berbeda nyata antar waktu pengamatan (p = 0,01), mengindikasikan bahwa IVSs sensitif terhadap perubahan hemodinamik selama syok septik dan respons terapi. Hasil EKG menunjukkan bahwa faktor perlakuan berpengaruh signifikan terhadap durasi kompleks QRS (p = 0,01), amplitudo S wave (p = 0,04) dan amplitudo T wave (p = 0,04). Kelompok norepinefrin menunjukkan kecenderungan durasi QRS yang lebih pendek dibandingkan kelompok resusitasi cairan. Temuan ini kemungkinan berkaitan dengan peningkatan aktivitas simpatis dan perbaikan perfusi miokard setelah pemberian norepinefrin, meskipun durasi QRS juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti konduksi intraventrikular dan kondisi miokard. Perubahan S wave dan T wave mencerminkan perbedaan kondisi hemodinamik dan repolarisasi ventrikel antar kelompok terapi. Parameter EKG lainnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan yang dikaitkan dengan heterogenitas respons biologis individual dan keterbatasan ukuran sampel (n = 3 per kelompok). Ekokardiografi dan EKG terbukti sebagai modalitas diagnostik yang saling melengkapi dalam memantau perubahan fungsi jantung pada model syok septik. Kata kunci: ekokardiografi, elektrokardiografi, norepinefrin, resusitasi cairan, syok septik
dc.description.sponsorshipPenelitian ini didukung oleh dr. Aridamuriany Dwiputri Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A(K) dan dr. Andriamuri Primaputra Lubis, M.Ked(An), Sp.An KIC sebagai penyedia dana penelitian.
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleEfek Terapi Resusitasi Cairan dan Norepinefrin pada Kondisi Syok Septik terhadap Gambaran Jantung Babi Domestikid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordekokardiografiid
dc.subject.keywordelektrokardiografiid
dc.subject.keywordnorepinefrinid
dc.subject.keywordresusitasi cairanid
dc.subject.keywordsyok septikid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record