Uji Preferensi Makan dan Peracunan Sekunder Burung Hantu (Tyto alba) akibat Konsumsi Tikus Terpapar Kumatetralil
Date
2026Author
MUKTI, GIGIH TRI JAYA
Priyambodo, Swastiko
Wiranti, Rahayu Woro
Metadata
Show full item recordAbstract
Kumatetralil merupakan rodentisida antikoagulan yang digunakan dalam mengendalikan populasi tikus di pertanian. Kumatetralil berpotensi menimbulkan dampak toksik tidak langsung terhadap predator non-target seperti burung hantu (Tyto alba). Penelitian ini bertujuan mengkaji preferensi makan burung hantu terhadap jenis umpan yang berbeda dan potensi terjadinya peracunan sekunder setelah makan tikus yang telah mengonsumsi kumatetralil. Pengamatan uji preferensi makan dilakukan selama 7 hari, sedangkan peracunan sekunder selama 45 hari untuk mengevaluasi perilaku konsumsi, gejala klinis, dan perubahan makroskopis organ. Hasil uji preferensi makan T. alba lebih menyukai burung puyuh dan mencit dibandingkan ikan nila dan katak sawah. Peracunan sekunder pada T. alba mengalami gejala klinis berupa perdarahan dari lubang kumlah dan perubahan makroskopis organ vital. Kumatetralil menimbulkan peracunan sekunder yang fatal terhadap T. alba dengan rata-rata kematian 15,5 hari pada perlakuan setiap hari dan 17,5 hari pada perlakuan selang satu hari. Diperlukan penyesuaian dosis aplikasi, kadar bahan aktif, dan regulasi pengelolaan kumatetralil agar meminimalkan dampak toksik pada organisme non-target. Coumatetralyl is an anticoagulant rodenticide widely used to control rodent populations in agricultural ecosystems. Coumatetralyl has the potential to cause indirect toxic effects on non-target predators such as barn owl (Tyto alba). This study aimed to evaluate the feeding preferences of T. alba toward different prey types and to assess the potential for secondary poisoning following the consumption of rats exposed to coumatetralyl. Feeding preference observations were conducted for seven days, while the secondary poisoning trial lasted for 45 days to evaluate feeding behavior, clinical signs of toxicity, and macroscopic changes in vital organs. The result of the preference test showed that T. alba preferred quail and mice compared to Nile tilapia and rice-field frogs. Secondary poisoning resulted in clinical manifestations characterized by hemorrhagic discharge from the oral cavity and macroscopic changes in vital organs. Coumatetralyl causes fatal secondary poisoning in T. alba with an average mortality of 15,5 days in daily treatment and 17,5 days in treatment every other day. It is necessary to adjust the application dose, active ingredient concentration, and coumatetralyl management regulations to minimize toxic effects on non-target organisms.
Collections
- UF - Plant Protection [2547]

