| dc.description.abstract | Penelitian ini berangkat dari tantangan perubahan iklim, deplesi sumber
daya alam, dan peningkatan limbah yang menuntut transformasi menuju sistem
ekonomi yang lebih sirkular, regeneratif, dan berkelanjutan. Sektor kehutanan
memiliki peran strategis karena menyediakan biomassa kayu sekaligus jasa
ekosistem seperti karbon, air, biodiversitas, dan manfaat sosial-budaya. Namun,
penciptaan nilai masih dominan bertumpu pada kayu, sementara jasa ekosistem
belum banyak terinternalisasi dalam model bisnis. Di sisi hilir, industri furnitur
kayu berbasis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga menghadapi
inefisiensi material, limbah produksi, keterbatasan teknologi, dan model bisnis
linear.
Gap utama penelitian ini adalah terbatasnya kajian bioekonomi sirkular
yang menghubungkan pengelolaan hutan negara dan industri furnitur kayu dalam
satu kerangka hulu–hilir. Kajian yang ada masih banyak berfokus pada biomassa
dan efisiensi material, sedangkan integrasi jasa ekosistem, model bisnis, strategi
operasional, dan dinamika transisi industri belum banyak dikaji secara terpadu.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka transisi
bioekonomi sirkular pada rantai nilai kehutanan berbasis kayu.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus
multipel pada tingkat sistem dan operasional. Lokasi penelitian mencakup sektor
hulu di Perum Perhutani, khususnya Divisi Regional Jawa Tengah dan KPH
Randublatung, serta sektor hilir di sentra industri furnitur UMKM Kabupaten
Jepara. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, diskusi pemangku
kepentingan, dan analisis dokumen. Analisis dilakukan dengan memadukan
pendekatan jasa ekosistem, spektrum insentif, aktor–jaringan–sistem informasi,
prinsip Circular Bioeconomy Alliance, Multi Level Perspective (MLP)-SWOT,
EcoCanvas, Material Flow Analysis, dan strategi bioekonomi sirkular.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioekonomi sirkular kehutanan
berbasis kayu tidak hanya berkaitan dengan efisiensi biomassa, tetapi juga
kemampuan menghubungkan pengelolaan hutan, jasa ekosistem, aliran material,
model bisnis, dan strategi operasional. Penelitian ini menghasilkan kerangka dua
loop, yaitu loop nilai dan loop material. Loop nilai menekankan penerjemahan
nilai jasa hutan menjadi insentif yang dikembalikan untuk memperkuat
pengelolaan hutan. Loop material menekankan upaya mempertahankan nilai
biomassa kayu melalui efisiensi, pemanfaatan limbah, cascading use, reuse,
recycle, dan simbiosis industri. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan
strategi transisi bioekonomi sirkular hulu–hilir untuk memperkuat keberlanjutan,
daya saing, dan nilai tambah sektor kehutanan berbasis kayu di Indonesia. | |