| dc.contributor.advisor | Prasetyo, Lilik Budi | |
| dc.contributor.advisor | Setiawan, Yudi | |
| dc.contributor.advisor | Kusmana, Cecep | |
| dc.contributor.author | Rahadian, Aswin | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-07T04:28:51Z | |
| dc.date.available | 2026-07-07T04:28:51Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174145 | |
| dc.description.abstract | Perubahan iklim global telah mendorong upaya mitigasi komprehensif melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan kapasitas penyerapan karbon, dan penguatan kebijakan adaptif di berbagai sektor pembangunan. Salah satu jalur yang dapat berkontribusi dalam upaya tersebut adalah perlindungan dan restorasi ekosistem. Ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem lahan basah, memainkan peranan penting sebagai solusi iklim alami (Nature Climate Solutions) yang mampu menyerap dan menyimpan karbon biru secara efektif.
Ditinjau dari perspektif kewilayahan, Region Jawa merupakan region dengan tingkat kehilangan hutan mangove tertinggi di Indonesia, terutama zona pesisir pantai utara. Deforestasi dan degradasi hutan mangrove masih menjadi ancaman di region ini. Berbagai konsep perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove telah banyak diuji melalui studi ilmiah maupun pengalaman pembelajaran (lesson learned) dengan beragam skala dan entitas. Namun, hasilnya cenderung memberikan dampak parsial terhadap aspek multidimensi keberlanjutan. Hal tersebut menjadi tantangan besar untuk mengisi kesenjangan dampak, khususnya dampak sosial dan ekonomi.
Terbukanya pasar karbon global dan dukungan regulasi di level nasional, memberikan peluang upaya perlindungan dan restorasi untuk dapat memaksimalkan peran dan manfaat ekosistem mangrove agar berdampak menyeluruh pada dimensi ekologi, sosial, dan ekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, desain perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove berbasis jasa lingkungan karbon menjadi salah satu alternatif dan penting untuk diuji secara empiris terkait optimasi dampak intervensinya terhadap keseimbangan multidimensi keberlanjutan.
Tujuan utama penelitian ini adalah membangun desain perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove berbasis jasa lingkungan karbon yang optimal sebagai upaya mitigasi perubahan iklim untuk dapat memberikan alternatif manfaat nilai tambah pada aspek mitigasi perubahan iklim, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan keanekaragaman hayati. Tujuan utama dilalui dengan dicapainya tujuan antara, yaitu: (1) Menganalisis karakterisasi dinamika ekosistem mangrove serta responnya terhadap proksi perubahan zona intertidal dan laju deforestasi tidak terencana, (2) Membangun model alometrik tegakan mangrove muda dan jejak karbon daratan akresi berasosiasi tambak sebagai pengkayaan referensi faktor emisi dalam mengkuantifikasi potensi reduksi emisi, (3) Membangun skema prioritas pendekatan restorasi ekosistem mangrove berdasarkan tipologi lanskap pesisir, (4) Menganalisis potensi pengurangan emisi gas rumah kaca ekosistem mangrove pada skenario multi-intervensi, dalam kerangka desain optimasi berbasis jasa lingkungan karbon. Keempat analisis dalam penelitian ini saling terhubung dan membentuk kerangka konseptual yang holistik dalam pencapaian tujuan.
Secara garis besar kebaruan (novelty) penelitian tentang desain optimasi perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove berbasis jasa lingkungan karbon terletak pada pengembangan pendekatan integratif yang tidak hanya menempatkan mangrove sebagai objek konservasi ekologis, tetapi juga sebagai sistem penyedia jasa lingkungan karbon yang dapat dioptimalkan secara spasial, ekonomi, dan kelembagaan dalam mendukung mitigasi perubahan iklim. Selama ini, sebagian besar penelitian mangrove masih berfokus pada aspek parsial, seperti estimasi stok karbon, pendekatan perlindungan dan restorasi, atau valuasi ekonomi secara terpisah. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru dengan mengintegrasikan dinamika ekosistem, potensi serapan dan emisi karbon, prioritas pendekatan, serta skenario restorasi ke dalam satu kerangka desain optimasi berbasis jasa lingkungan karbon. Secara konseptual, penelitian ini memperkenalkan paradigma baru bahwa perlindungan dan restorasi mangrove tidak hanya dipandang sebagai kegiatan perbaikan ekosistem saja, akan tetapi mampu menghasilkan manfaat ekologis, sosial-ekonomi, dan iklim secara simultan.
Penelitian ini mengungkap bahwa karakter dinamika ekosistem mangrove di Pantura Jawa menunjukan dinamika perubahan ekosistem yang kompleks di seluruh kategori trasisi perubahan, baik perluasan dan kehilangan zona intertidal sebagai habitat mangrove, maupun tingkat deforestasi dan reforestasi. Tipologi delta menunjukan laju penambahan daratan yang tinggi. Sebaliknya, tipologi pantai terbuka menunjukan tingginya laju kehilangan daratan. Dinamika tersebut secara kuantitatif berimplikasi pada keberagaman proksi perubahan, baik berdasarkan berdasarkan perbedaan zona dan tipologi. Luas intertidal terus meningkat kontribusi dari pada wilayah delta. Rata-rata laju akresi 916 ha/tahun (gross accretion rates), sementara oleh laju erosi 705 ha/tahun (gross erosion rates), maka relatif terjadi neraca positif terhadap keseimbangan sedimen (sediment balance) mencapai 211 ha/tahun. Pada level tutupan mangrove laju deforestasi terkuantifikasi sebesar 514 ha/tahun (gross deforestation rates) dan diikuti dengan laju reforestasi sebesar 486 ha/tahun (gross reforestation rates), maka laju deforestasi bersih di Pantura Jawa mencapai 28 ha/tahun.
Penelitian juga menunjukkan potensi besar ekosistem mangrove sebagai penyimpan karbon jangka panjang (long-term carbon sink), dimana kontribusi terbesar berasal dari simpanan pada lapisan tanah (soil organic carbon), yang menyumbang lebih dari 75% total stok pada ekosistem. Tingginya stok karbon pada lapisan tanah memberikan bukti bahwa mangrove mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang, tidak hanya di permukaan tetapi juga jauh di bawah permukaan tanah. Perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove menjadi sangat penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim, terutama karena gangguan di permukaan dapat menyebabkan emisi karbon dari lapisan dalam. Dinamika dan potensi besar simpanan karbon memberi sinyalemen terhadap bagaimana prioritas pendekatan perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove harus di implementasikan pada berbagai tipologi lanskap mangrove. Hasil analisis prioritas menunjukkan bahwa pada tipologi delta dan estuari, perlindungan melalui regenerasi alami dianggap lebih prioritas, mengingat penambahan lahan dan kolonisasi mangrove alami cenderung terjadi secara bertahap di lingkungan dinamis ini. Sementara tipologi laguna diprioritaskan untuk ekowisata mangrove. Pada zona interior penanaman intensif menjadi aktivitas yang diprioritaskan, dan pantai terbuka, memprioritaskan pembangunan struktur pantai alami atau integrasi pendekatan rekayasa struktur pada tahap awal atau sebelum penanaman, khususnya di daerah yang rawan erosi pantai.
Berdasarkan respon dari analisis dinamika, simpanan karbon sebagai faktor emisi, dan analisis prioritas pendekatan perlindungan dan restorasi, penelitian ini kemudian mensimulasikan skenario multi-intervensi, dengan mengintegrasikan perlindungan hutan mangrove, perbaikan sistem hidrologi dengan penanaman intensif, dan rekayasa ekologi dalam rangka mendorong penciptaan habitat dengan regenerasi alami. Rekayasa ekologi dengan regenerasi alami menjanjikan kinerja lima kali lebih baik daripada restorasi dengan penanaman. Temuan ini menyoroti pentingnya desain restorasi regenerasi alami di untuk memaksimalkan manfaat karbon biru.
Skenario multi-intervensi menawarkan potensi reduksi emisi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan intervensi tunggal, hasilnya potensi reduksi emisi dari optimasi skenario multi-intervensi mencapai 260 juta tCO2e pada tahun ke-30 dengan rata-rata 8,7 juta tCO2e/tahun. Kinerja tersebut menghasilkan nilai ekonomi pada harga pasar maksimun mencapai USD 6,3 milyar pada tahun ke-30 atau USD 210 juta per tahun. Hasil ini secara kelayakan ekonomi menghasilkan potensi reduksi emisi dengan fisibilitas tinggi dalam rangka menerapkan skema kredit karbon sukarela, yang akan memberikan serangkaian kontribusi dalam menjaga keberlangsungan ekologis, sosial ekonomi masyarakat, keanekaragaman hayati, serta kontribusi terhadap pembangunan negara. Di sisi lain, dalam konteks kebijakan nasional, berdasarkan simulasi pada tahun ke-5 (2030) potensi reduksi emisi pada penelitian ini mencapai 3,5 juta tCO2e atau 2,5% dari target zero net emission sebesar 140 juta tCO2e. Hal tersebut merupakan capaian yang sangat tinggi mengingat kontribusi sebesar itu hanya berasal dari ekosistem mangrove saja. Jika skenario tersebut secara optimal diimplementasikan pada skala nasional, berpotensi mereduksi emisi sebesar 765 juta tCO2e atau melampaui target net zero emission pada tahun 2030.
Berdasarkan penilaian dampak sosial-ekonomi, perlindungan dan restorasi ekosistem berbasis jasa lingkungan karbon berpeluang besar memberikan dampak terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat pesisir secara bertahap, dimana pada fase pertama berpotensi menyediakan kebutuhan dasar dan membangun mata pencaharian alternatif, fase kedua mengembangkan mata pencaharian menjadi usaha berkelanjutan yang dikelola kelompok masyarakat, dan fase ketiga kelompok masyarakat memiliki pendapatan yang andal dan berkelanjutan.
Tantangan utama dalam implementasi adalah keterbatasan insentif ekonomi untuk mendorong perubahan penggunaan lahan pada kawasan pesisir yang telah berkembang menjadi sentra budidaya perikanan. Meskipun hasil analisis biaya-manfaat menunjukan bahwa perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove secara ekonomi layak untuk diusahakan, namun jika dibandingkan dengan nilai ekspor udang skema karbon belum cukup kompetitif untuk menjadi instrumen utama dalam mendorong penghentian atau konversi kegiatan budidaya yang telah memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan pendekatan teknis restorasi ekosistem mangrove yang tidak berimplikasi pada penurunan produksi dalam praktik budidaya perikanan, supaya budidaya dan pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan selaras memberikan benefit dan co-benefit secara bersamaan. | |
| dc.description.abstract | Global climate change has driven comprehensive mitigation efforts through the reduction of greenhouse gas emissions, enhancement of carbon sequestration capacity, and strengthening of adaptive policies across various development sectors. One pathway that can significantly contribute to these efforts is ecosystem protection and restoration. Mangrove ecosystems, as one of the most important coastal wetland ecosystems, play a crucial role as a Nature-based Climate Solution by effectively capturing and storing blue carbon.
From a regional perspective, Java is the region experiencing the highest rate of mangrove forest loss in Indonesia, particularly along the northern coastal zone. Deforestation and degradation of mangrove forests continue to pose major threats throughout this region. Various concepts and approaches to mangrove protection and restoration have been tested through scientific studies and practical lessons learned at different scales and institutional settings. However, their outcomes have generally produced only partial impacts on the multidimensional aspects of sustainability. This condition presents a major challenge in addressing impact gaps, particularly regarding social and economic dimensions.
The emergence of the global carbon market, combined with supportive national regulations, provides an opportunity to maximize the role and benefits of mangrove ecosystems through protection and restoration initiatives that generate comprehensive ecological, social, and economic outcomes. Therefore, the design of mangrove protection and restoration based on carbon ecosystem services represents an important alternative that warrants empirical examination regarding the optimization of intervention impacts across multiple dimensions of sustainability.
The primary objective of this research is to develop an optimal carbon ecosystem service-based design for mangrove protection and restoration as a climate change mitigation strategy capable of generating additional benefits in terms of climate mitigation, community welfare, and biodiversity conservation. This objective is pursued through the achievement of four intermediate objectives: (1) analyzing the dynamics of mangrove ecosystems and their responses to changes in intertidal zones and unplanned deforestation rates; (2) developing allometric models for young mangrove stands and assessing the carbon footprint of accretion-associated aquaculture lands to enrich emission factor references used in quantifying emission reduction potential; (3) establishing a priority framework for mangrove restoration approaches based on coastal landscape typologies; and (4) analyzing the greenhouse gas emission reduction potential of mangrove ecosystems under multi-intervention scenarios within a carbon ecosystem service-based optimization framework. These four analyses are interconnected and collectively form a holistic conceptual framework for achieving the research objectives.
The novelty of this research on the optimization design of mangrove protection and restoration based on carbon ecosystem services lies in the development of an integrative approach that positions mangroves not only as objects of ecological conservation but also as carbon ecosystem service providers that can be spatially, economically, and institutionally optimized to support climate change mitigation. Previous mangrove studies have largely focused on isolated aspects such as carbon stock estimation, restoration approaches, or economic valuation. In contrast, this research introduces a novel framework that integrates ecosystem dynamics, carbon sequestration and emission potentials, restoration prioritization, and restoration scenarios into a single optimization design based on carbon ecosystem services. Conceptually, this study proposes a new paradigm in which mangrove protection and restoration are viewed not merely as ecosystem rehabilitation activities but as integrated interventions capable of simultaneously generating ecological, socio-economic, and climate benefits.
The findings reveal that mangrove ecosystem dynamics along the northern coast of Java exhibit complex patterns across all categories of ecosystem transition, including both expansion and loss of intertidal habitats as well as varying rates of deforestation and reforestation. Deltaic landscapes demonstrate high rates of land accretion, whereas open-coast typologies experience substantial land loss due to erosion. These dynamics have significant quantitative implications for the diversity of change proxies across different zones and landscape typologies. Intertidal areas continue to expand, primarily driven by deltaic regions. The average gross accretion rate reaches 916 ha/year, while the gross erosion rate is approximately 705 ha/year, resulting in a positive sediment balance of 211 ha/year. At the mangrove cover level, gross deforestation is estimated at 514 ha/year, accompanied by gross reforestation of 486 ha/year, yielding a net deforestation rate of 28 ha/year across the northern coast of Java.
The study also demonstrates the substantial potential of mangrove ecosystems as long-term carbon sinks, with the largest contribution originating from soil organic carbon, which accounts for more than 75% of total ecosystem carbon stocks. The high carbon storage capacity within deep soil layers provides strong evidence that mangroves can retain carbon over extended periods, not only aboveground but also deep beneath the soil surface. Consequently, mangrove protection and restoration are critically important within climate change mitigation strategies, as disturbances to surface ecosystems may trigger carbon emissions from deeper soil layers. The observed ecosystem dynamics and substantial carbon storage potential provide important guidance regarding the prioritization of protection and restoration approaches across different mangrove landscape typologies.
Priority analysis indicates that within deltaic and estuarine environments, protection through natural regeneration should be prioritized, given that land accretion and natural mangrove colonization commonly occur in these dynamic environments. Meanwhile, lagoon typologies are considered highly suitable for mangrove ecotourism development. Intensive planting is prioritized within interior zones, whereas open-coast environments require the implementation of nature-based coastal protection structures or integrated engineering interventions during the initial stages, particularly in areas highly vulnerable to coastal erosion.
Based on the results of ecosystem dynamics analysis, carbon stock assessments as emission factors, and restoration priority evaluations, this study subsequently simulated multi-intervention scenarios integrating mangrove forest protection, hydrological restoration combined with intensive planting, and ecological engineering designed to facilitate habitat creation and natural regeneration. Ecological engineering coupled with natural regeneration demonstrates performance that is five times greater than conventional planting-based restoration. This finding highlights the importance of restoration designs centered on natural regeneration to maximize blue carbon benefits.
The multi-intervention scenario offers substantially greater emission reduction potential compared with single-intervention approaches. The optimized scenario generates an estimated emission reduction of 260 million tCO2e by Year 30, with an average annual reduction of 8.7 million tCO2e. At maximum market prices, this performance translates into an economic value of approximately USD 6.3 billion by Year 30, or USD 210 million annually. These results indicate a high level of economic feasibility for implementing voluntary carbon credit schemes, which would contribute significantly to ecological sustainability, community livelihoods, biodiversity conservation, and national development objectives.
From the perspective of national policy, simulations for Year 5 (2030) indicate that the proposed interventions could achieve emission reductions of approximately 3.5 million tCO2e, equivalent to 2.5% of the national net-zero emission target of 140 million tCO2e. This represents a remarkable contribution considering that such reductions originate solely from mangrove ecosystems. If optimally implemented at the national scale, the proposed scenario could potentially reduce emissions by approximately 765 million tCO2e, exceeding Indonesia’s net-zero emission target for 2030.
Based on socio-economic impact assessments, carbon ecosystem service-based mangrove protection and restoration have considerable potential to gradually improve the socio-economic conditions of coastal communities. During the first phase, interventions are expected to support basic needs and establish alternative livelihood opportunities. The second phase focuses on transforming these livelihoods into sustainable community-managed enterprises. In the third phase, community groups are projected to achieve reliable and sustainable sources of income.
The primary challenge for implementation lies in the limited economic incentives available to encourage land-use transitions in coastal areas that have already developed into major aquaculture production centers. Although cost-benefit analyses indicate that mangrove protection and restoration are economically feasible, carbon finance remains insufficiently competitive when compared with the economic value generated by shrimp exports. Consequently, carbon schemes alone are unlikely to serve as the primary instrument for promoting the cessation or conversion of aquaculture activities that currently provide substantial direct economic benefits to local communities and private sector actors. Therefore, there is a pressing need to develop technical approaches to mangrove restoration that do not compromise aquaculture productivity. Such approaches would enable sustainable aquaculture practices and mangrove ecosystem management to coexist, ensuring that both direct benefits and broader co-benefits can be generated simultaneously. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Desain Optimasi Perlindungan dan Restorasi Ekosistem Mangrove Berbasis Jasa Lingkungan Karbon | id |
| dc.title.alternative | Design Optimization for Mangrove Ecosystem Protection and Restoration through Carbon-Based Ecosystem Services | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | Blue carbon mangrove | id |
| dc.subject.keyword | dinamika ekosistem | id |
| dc.subject.keyword | jasa lingkungan karbon | id |
| dc.subject.keyword | nilai ekonomi karbon | id |
| dc.subject.keyword | simulasi multi-intervensi | id |
| dc.subtype | Dissertations | |