| dc.description.abstract | Wilayah pesisir Indo-Pasifik merupakan pusat keanekaragaman hayati
moluska laut, termasuk kelompok keong laut Strombus spp. yang memiliki nilai
ekologis dan ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Di perairan Indonesia,
Strombus spp. berperan sebagai komponen kunci ekosistem padang lamun dan
substrat berpasir, sekaligus menjadi sumber daya perikanan tradisional yang rentan
terhadap tekanan eksploitasi dan perubahan lingkungan. Namun demikian,
pemahaman yang terintegrasi mengenai variasi morfologi, dinamika reproduksi,
serta keterkaitannya dengan kondisi lingkungan pada Strombus spp. masih terbatas
dan cenderung terfragmentasi.
Disertasi ini bertujuan untuk mengkaji variasi biologis Strombus spp. secara
komprehensif melalui pendekatan integratif yang mencakup analisis morfologi,
biologi reproduksi, dan hubungan lingkungan–biologi. Kajian diawali dengan
telaah sistematis literatur (Systematic Literature Review/SLR) untuk memetakan
perkembangan penelitian Strombus spp. di tingkat global, regional Indo-Pasifik,
dan nasional. Selanjutnya, penelitian lapangan dilakukan di beberapa pulau pesisir
dengan fokus pada tiga spesies utama, yaitu Laevistrombus canarium,
Laevistrombus turturella, dan Strombus canarium.
Analisis morfologi menunjukkan adanya variasi proporsi dan karakter
cangkang antar spesies dan antar lokasi, yang mencerminkan respons terhadap
kondisi habitat dan potensi adaptasi lokal. Kajian biologi reproduksi mengungkap
perbedaan strategi reproduksi antar spesies, yang tercermin dari pola Tingkat
Kematangan Gonad (TKG), variasi Gonadosomatic Index (GSI), fekunditas absolut,
serta ukuran pertama matang gonad (Lm50). L. canarium dan L. turturella
menunjukkan kapasitas reproduksi yang relatif lebih tinggi dan terstruktur secara
temporal, sedangkan S. canarium memperlihatkan aktivitas reproduksi yang lebih
terbatas. Perbandingan antara ukuran pertama matang gonad dan ukuran tangkap
menunjukkan bahwa sebagian populasi berpotensi mengalami tekanan eksploitasi
sebelum mencapai kematangan seksual.
Keterkaitan antara karakter morfometrik relatif dan kondisi lingkungan
dieksplorasi melalui pendekatan multivariat menggunakan Principal Component
Analysis (PCA). Sebelum analisis dilakukan, seluruh parameter morfometrik
dinormalisasi terhadap panjang cangkang (Shell Length/SL) untuk mengurangi
pengaruh ukuran tubuh absolut dan menekankan variasi bentuk cangkang relatif
antar individu dan spesies. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel morfometrik
relatif dan lingkungan membentuk gradien utama dalam ruang multivariat yang
merepresentasikan diferensiasi bentuk cangkang pada masing-masing habitat.
Secara keseluruhan, disertasi ini menunjukkan bahwa variasi biologis
Strombus spp. mencerminkan struktur morfometrik yang terbentuk sepanjang
gradien lingkungan pesisir. Hasil PCA secara konsisten mengidentifikasi dua
komponen utama, yaitu gradien konfigurasi proporsi morfologi relatif (PC1) yang
dibentuk oleh kombinasi beberapa parameter dimensi cangkang (SL, BWL, AL,
xii
SW, SD, MW), serta gradien bentuk morfologi (PC2) yang dikendalikan oleh trade off antara ketebalan bibir (LT) dan jumlah pusaran (WA). Distribusi spesies
menunjukkan pola diferensiasi yang jelas, dimana L. canarium cenderung
menunjukkan konfigurasi morfologi dengan perkembangan dimensi cangkang dan
bibir luar yang lebih dominan, S. canarium lebih terkait dengan karakter jumlah
pusaran dan struktur ulir, sementara L. turturella bersifat intermediet dengan
tingkat tumpang tindih yang tinggi. Secara spasial, pola ini membentuk gradien dari
kondisi yang relatif homogen di Pulau Galang hingga diferensiasi konfigurasi
morfometrik relatif yang lebih terstruktur di Pulau Panjang, yang mengindikasikan
bahwa variasi morfologi berkembang secara bertahap sebagai respons terhadap
heterogenitas habitat. Temuan ini menegaskan bahwa struktur morfometrik
Strombus spp. merupakan hasil integrasi respons jangka panjang terhadap kondisi
lingkungan, serta memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan sumber daya
pesisir. | |