Niat dan Keputusan Pembelian Makanan Lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
Abstract
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki keragaman pangan lokal yang berpotensi mendukung ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi daerah. Namun, konsumsi makanan lokal masih menghadapi berbagai kendala, seperti dominasi beras, persepsi makanan lokal kurang praktis, keterbatasan ketersediaan produk, serta rendahnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumen terhadap makanan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi konsumen terhadap niat beli dan dampaknya terhadap keputusan pembelian, serta merumuskan strategi pengembangan agribisnis makanan lokal di NTT. Persepsi konsumen diukur melalui sikap terhadap perilaku, norma subjektif, kontrol perilaku, harga, ketersediaan produk, dan kepedulian terhadap makanan lokal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dan Importance Performance Map Analysis (IPMA). Data diperoleh melalui survei daring terhadap 240 responden yang berdomisili di NTT, berusia minimal 17 tahun, serta pernah membeli dan mengonsumsi makanan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel berperan dalam membentuk niat beli makanan lokal. Niat beli selanjutnya terbukti berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Harga dan ketersediaan produk menjadi faktor penting dalam mendorong pembelian, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan daya beli dan akses distribusi. Kepedulian terhadap makanan lokal juga turut memperkuat niat beli melalui nilai budaya, identitas lokal, dan dukungan terhadap perekonomian daerah.
Penelitian ini mengembangkan model perilaku yang mengintegrasikan faktor psikologis dan faktor kontekstual untuk menjelaskan niat dan keputusan pembelian makanan lokal. Model tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku konsumen di wilayah dengan karakteristik sosial ekonomi dan infrastruktur yang khas. Implikasi penelitian menekankan pentingnya peningkatan ketersediaan produk, penguatan sistem distribusi, serta penetapan harga yang terjangkau. Penguatan identitas budaya dalam pemasaran juga diperlukan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap makanan lokal. Bagi pemerintah daerah, temuan ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan agribisnis makanan lokal UMKM di Provinsi NTT. Keberhasilan pengembangan makanan lokal tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga oleh persepsi dan perilaku konsumen. Oleh karena itu, pendekatan yang berorientasi pada konsumen menjadi penting untuk mendorong pengembangan agribisnis makanan lokal yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi daerah.
Collections
- MF - Economic and Management [3245]

