Strategi Pengembangan Model Bisnis Hutan Kemasyarakatan melalui Triple Layered Business Model Canvas di Desa Pakis, Kabupaten Jember
Abstract
Pengembangan Perhutanan Sosial menuntut integrasi fungsi ekonomi, sosial, dan ekologis dalam model bisnis berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC), menganalisis faktor internal dan eksternal, serta merumuskan strategi pengembangan model bisnis berkelanjutan pada KTH Rengganis. Penelitian menggunakan pendekatan campuran melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model bisnis KTH Rengganis bertumpu pada dua usaha KUPS Kopi dan KUPS Wisata. Unit kopi masih didominasi penjualan komoditas primer dengan hilirisasi terbatas, sedangkan unit wisata memiliki kapasitas penangkapan nilai lokal yang lebih baik melalui jasa lingkungan. Analisis internal dan eksternal menghasilkan skor IFE 2,80 dan EFE 2,59 yang menempatkan organisasi pada posisi hold and maintain. Strategi prioritas meliputi business planning dan manajemen risiko (6,61), digitalisasi tata kelola usaha (6,10), serta penguatan kapasitas SDM dan kaderisasi generasi muda (5,57). Penguatan kelembagaan menjadi fondasi utama pengembangan model bisnis yang adaptif dan berkelanjutan. Social Forestry development requires the integration of economic, social, and ecological functions in a community-based business model. This study aims to identify the Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC), analyze internal and external factors, and formulate a strategy for developing a sustainable business model at KTH Rengganis. The study used a mixed approach through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The results show that KTH Rengganis' business model is based on two businesses: KUPS Kopi and KUPS Wisata. The coffee unit is still dominated by primary commodity sales with limited downstreaming, while the tourism unit has a better capacity to capture local value through environmental services. Internal and external analysis resulted in an IFE score of 2.80 and an EFE score of 2.59, placing the organization in a hold and maintain position. Priority strategies include business planning and risk management (6.61), digitalization of business governance (6.10), and strengthening human resource capacity and youth cadre development (5.57). Institutional strengthening is the main foundation for developing an adaptive and sustainable business model.
Collections
- UF - Forest Management [3230]

