| dc.description.abstract | Hutan produksi bekas tebangan atau logged-over area (LOA) umumnya menunjukkan variasi struktur dan komposisi tegakan yang sangat kompleks, yang sering kali berdampak pada penurunan produktivitas lahan. Penerapan sistem silvikultur tunggal dinilai kurang optimal dalam mengelola keragaman kondisi biofisik tersebut karena belum mempertimbangkan variasi kualitas areal bekas tebangan secara mendalam. Oleh karena itu, pendekatan Multisistem Silvikultur (MSS) menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pengelolaan hutan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biofisik dan merancang sistem pengelolaan hutan produksi (HP) menggunakan MSS di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Hutan Mulya, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Penelitian dilaksanakan pada April hingga Juni 2025 di kawasan PBPH Hutan Mulya. Prosedur kerja meliputi analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan data Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) tahun 2020 serta kegiatan verifikasi lapangan melalui ground checking pada blok Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025–2030. Parameter biofisik yang dianalisis mencakup kelerengan, jenis tanah berdasarkan kepekaan erosi, intensitas curah hujan, serta potensi sediaan tegakan dari jenis komersial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biofisik di lokasi penelitian didominasi oleh tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) seluas 40.465,59 ha (77,67%) yang bersifat peka terhadap erosi. Kondisi topografi kawasan bervariasi dari kelas datar hingga curam, dengan dominasi kelerengan agak curam dan sebaran sediaan tegakan jenis komersial berkisar antara 0 hingga 140,98 m3/ha. Berdasarkan kriteria tersebut, rancangan MSS mengimplementasikan empat zona utama dalam pengelolaan hutan: TPTI, TPTJ, THPB, dan Rehabilitasi. Implikasi penelitian ini memberikan panduan bagi pengelola dalam menetapkan zonasi silvikultur yang lebih presisi dan adaptif. Untuk mengoptimalkan rancangan tersebut, penerapan MSS disarankan dilakukan dengan pertimbangan mendalam terhadap kondisi biofisik spesifik setiap unit lahan. Dukungan terhadap suksesi alami perlu diperkuat melalui penanaman pengayaan (enrichment planting), pemeliharaan intensif, dan perlindungan tegakan. Selain itu, pemanfaatan GIS dalam metode penentuan sistem silvikultur juga harus dioptimalkan, agar memudahkan proses pengolahan data, klasifikasi dan penentuan sistem, serta visualisasi penerapan sistem. | |