Show simple item record

dc.contributor.advisorSuharjito, Didik
dc.contributor.authorTYASADIRA, HEKSA RAHMANIA
dc.date.accessioned2026-06-11T08:33:19Z
dc.date.available2026-06-11T08:33:19Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173370
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan menggambarkan penggunaan media sosial oleh petani Hutan Desa Malasari dan penyuluh kehutanan dalam pertukaran informasi mengenai pengelolaan hutan, menjelaskan informasi yang diperoleh petani melalui media sosial, serta menjelaskan hubungan pola penggunaan media sosial dengan karakteristik petani. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 50 petani yang dipilih secara purposive sampling menggunakan kuesioner dan wawancara, serta dilengkapi dengan wawancara terhadap empat penyuluh Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif dan melalui uji korelasi rank Spearman. Hasil menunjukkan bahwa 72% petani memiliki ponsel pintar untuk berkomunikasi, berbelanja online, dan mencari informasi pengelolaan hutan, terutama tentang budidaya tanaman. Petani mengakses informasi pengelolaan hutan melalui Whatsapp, YouTube, dan Google, sedangkan penyuluh hanya menggunakan Whatsapp untuk menyampaikan informasi. Tingkat pendidikan adalah karakteristik yang berhubungan signifikan dengan frekuensi (r? = 0,339) dan preferensi (r? = 0,410) penggunaan media sosial. Strategi penyuluhan yang efektif dilakukan dengan mempertahankan penyuluhan tatap muka dan mengintegrasikan Whatsapp untuk berkonsultasi jarak jauh.
dc.description.abstractThis study aimed to describe the use of social media by forest farmers and forest extension agents in Malasari Village in exchanging forest management information, identify the information obtained by farmers through social media, and examine the relationship between social media use patterns and farmers’ characteristics. Data were collected through a survey of 50 farmers selected using purposive sampling, employing questionnaires and interviews, and were complemented by interviews with four forestry extension agents in Bogor Regency. Data were analyzed using descriptive statistics and Spearman’s rank correlation test. The results showed that 72% of farmers owned smartphones, which were used for communication, online shopping, and accessing forest management information, especially about plant cultivation. Farmers obtained forest management information through WhatsApp, YouTube, and Google, whereas extension agents only used WhatsApp as their sole platform for information sharing. Education level was the only characteristic significantly associated with both the frequency (r? = 0.339) and preference (r? = 0.410) of social media use. Effective extension strategies should combine face-to-face extension activities with the use of WhatsApp for remote consultation.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePenggunaan Media Sosial dalam Penyuluhan Kehutanan (Kasus di Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor)id
dc.title.alternativeThe Use of Social Media in Forestry Extension (A Case Study in Malasari Village, Nanggung District, Bogor Regency)
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordhutan desaid
dc.subject.keywordmedia sosialid
dc.subject.keywordpengelolaan hutanid
dc.subject.keywordpenyuluhan kehutananid
dc.subject.keywordpetani hutanid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record