Kajian Sosial-Ekonomi Ketergantungan Masyarakat Hutan Pada Pekerjaan Penyadapan Getah Pinus
Abstract
Di berbagai daerah di Indonesia, banyak ditemui masyarakat sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan, termasuk hasil hutan bukan kayu, salah satunya getah pinus. Sebagian masyarakat sekitar hutan, menjadikan kegiatan penyadapan getah pinus sebagai pekerjaan utama, yang dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan yang mengelola hutan di wilayahnya. Masyarakat yang bekerja sebagai penyadap sebagian besar merupakan generasi kedua atau ketiga dari keluarga yang telah lama bekerja sebagai penyadap. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mendorong masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus dan mengidentifikasi latar belakang masyarakat yang bertahan menjadi penyadap getah pinus secara turun-temurun. Penelitian dilakukan di TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan prinsip ketercukupan data (data saturation), yaitu ketika informasi yang diperoleh sudah dianggap cukup dan tidak ada hal baru yang muncul. Pekerjaan turun-temurun serta mudah dilakukan menjadi faktor yang dominan menjadi alasan masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus. Jam kerja yang tidak terikat menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar penyadap memilih tetap menjadi penyadap getah pinus meskipun hasil yang didapatkan sering kali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. In various regions in Indonesia, many forest communities depend on forest products for their livelihoods, including non-timber forest products, one of which is pine resin. Most forest communities make pine resin tapping their primary occupation, conducted in collaboration with companies that manage the forests in their area. Most tappers are second or third generation members of families with long-standing tapping families. This study aims to analyze the factors that drive forest communities to choose pine resin tapping and to identify the background of those who persist in their hereditary pine resin tapping practices. The research was conducted at TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. The sample size was determined based on the principle of data saturation, which occurs when the information obtained is considered sufficient and no new information is available. Hereditary and easy-to-do work are the dominant factors behind why forest communities choose to work as pine resin tapping. Flexible working hours are among the reasons why most tappers choose to remain pine resin tapping, even though the income is often insufficient to meet their daily needs.
Collections
- UT - Forest Management [3222]

