Analisis Spasial Temporal LE-H Sebagai Indikator Status Air Wilayah dan Potensi Kekurangan Air Pada Lahan Pertanian
Abstract
Peningkatan jumlah penduduk dan dampak perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional, sehingga diperlukan perencanaan dalam program cetak sawah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan potensi kekurangan air dan status air wilayah. Penelitian dilaksanakan dengan fokus wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan periode tahun 2000-2024. Data yang digunakan meliputi curah hujan, kelembapan tanah, fluks panas laten (LE) dan sensibel (H) bersumber dari Earthdata Giovanni dan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode selisih LE-H, Evaporative Fraction (EF), dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan variasi karakteristik energi permukaan yang signifikan antar wilayah. Kalimantan Tengah dikategorikan sebagai energy-limited regime dengan nilai Evaporative Fraction (EF) rata-rata 0,964 yang stabil. Sebaliknya, wilayah NTT dan NTB menunjukkan water-limited regime dengan nilai EF masing-masing 0,645 dan 0,709, serta menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap fenomena ENSO. Sumatera Selatan diidentifikasi sebagai transitional regime dengan nilai EF 0,927. Analisis korelasi Pearson antara kelembapan tanah dan LE-H menunjukkan hubungan terkuat di NTT (0,861) dan NTB (0,814), diikuti oleh Sumatera Selatan (0,712), dan terendah di Kalimantan Tengah (0,673) karena kondisi tanah basah yang melebihi batas evapotranspirasi. Simpulan penelitian ini wilayah dengan resiliensi rendah seperti NTT dan NTB memerlukan penguatan infrastruktur irigasi, sementara wilayah stabil seperti Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan memerlukan konservasi tata guna lahan untuk menjaga keseimbangan hidrologis. Increasing population and the impacts of climate change present serious challenges to national food security, necessitating meticulous planning for paddy field expansion (cetak sawah) programs. This study aims to analyze the comparison of potential water shortages and regional water status. The research focuses on East Nusa Tenggara (NTT), West Nusa Tenggara (NTB), Central Kalimantan, and South Sumatra, utilizing data from the 2000-2024 period. Data include rainfall, soil moisture, as well as latent (LE) and sensible (H) heat fluxes sourced from Earthdata Giovanni, with data analysis utilizing the LE-H difference method, Evaporative Fraction (EF), and Pearson correlation. The results reveal significant variations in surface energy characteristics across regions. Central Kalimantan is categorized as an energy-limited regime with a stable average Evaporative Fraction (EF) of 0.964. Conversely, NTT and NTB exhibit a water-limited regime with EF values of 0.645 and 0.709, respectively, and show high sensitivity to ENSO phenomena. South Sumatra is identified as a transitional regime with an EF value of 0.927. Pearson correlation analysis between soil moisture and LE-H indicates the strongest association in NTT (0.861) and NTB (0.814), followed by South Sumatra (0.712), and the lowest in Central Kalimantan (0.673) due to wet soil conditions exceeding the evapotranspiration limit. This study concludes that regions with low resilience, such as NTT and NTB, require strengthened irrigation infrastructure, while stable regions like Central Kalimantan and South Sumatra necessitate land-use conservation to maintain hydrological balance.

