Show simple item record

dc.contributor.advisorSoedomo, Sudarsono
dc.contributor.authorRIENI, NURVICA BERLIANA
dc.date.accessioned2026-06-10T00:21:22Z
dc.date.available2026-06-10T00:21:22Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173312
dc.description.abstractPemerintah Indonesia mengembangkan pasar karbon untuk mendukung penurunan emisi. Namun, fluktuasi harga karbon menghambat pergeseran keputusan pengelolaan hutan dari produksi kayu ke konservasi karbon. Penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi pembayaran karbon terhadap kelayakan ekonomi dan daur optimal hutan tanaman Acacia mangium, serta mengestimasi harga karbon minimum untuk menggeser keputusan pengelolaan. Analisis menggunakan model Faustmann untuk menghitung Net Present Value pada tiga skenario: (A) pengelolaan berbasis produksi kayu; (B) integrasi pembayaran penyerapan dan penyimpanan karbon; (C) keputusan akhir daur antara penebangan dan konservasi karbon. Tanpa pembayaran karbon, daur optimal tercapai pada umur 10 tahun dengan Net Present Value Rp27,25 juta/ha. Integrasi pembayaran karbon meningkatkan kelayakan ekonomi hingga Rp78,98 juta/ha pada umur tersebut dan memperpanjang daur hingga 21 tahun. Estimasi harga karbon minimum yang diperlukan agar pembayaran karbon mampu menggeser keputusan pengelolaan dari produksi kayu menjadi konservasi karbon sebesar Rp43.805,11/tCO2e/tahun. Integrasi pembayaran karbon berpotensi menjadi instrumen pengelolaan hutan lestari jika harga pasar stabil di atas ambang minimum.
dc.description.abstractThe Indonesian government has developed a carbon market to support emission reduction targets. However, carbon price fluctuations hinder the shift in forest management decisions from timber production to carbon conservation. This study analyzes the impact of carbon payment integration on the economic feasibility and optimal rotation period of Acacia mangium plantation forests, and estimates the minimum carbon price required to shift management decisions. Analysis employed the Faustmann model to calculate Net Present Value across three management scenarios: (A) timber production only; (B) integration of carbon sequestration and storage payments; and (C) end-of-rotation decisions between harvesting and carbon conservation. Without carbon payments, optimal rotation occurs at 10 years with Net Present Value Rp27.25 million/ha. Carbon payment integration yields Net Present Value Rp78.98 million/ha and extends optimal rotation to 21 years. The minimum carbon price required to shift management from timber production to carbon conservation is Rp43,805.11/tCO2e/year. Carbon payment integration can become a sustainable forest management instrument if market prices remain stable above this threshold.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Kelayakan Ekonomi Pengelolaan Hutan Tanaman dengan Integrasi Pembayaran Karbonid
dc.title.alternative
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordhutan tanamanid
dc.subject.keywordpembayaran karbonid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record