Disertasi_S3 I3602211016_Retno Widihastuti
Date
2026Author
Widihastuti, Retno
Fatchiya, Anna
Muljono, Pudji
Syahyuti
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini berangkat dari permasalahan utama pada penyuluhan perikanan yang belum responsif terhadap gender, sehingga menimbulkan perubahan perilaku yang berdampak pada permasalahan keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis penyelenggaraan penyuluhan perikanan dari perspektif gender pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis perubahan perilaku terkait kognitif, konatif, dan keterampilan (psikomotorik) pelaku perikanan (nelayan, pembudidaya, serta pengolah dan pemasar) baik laki-laki maupun perempuan di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis keberlanjutan perikanan ditinjau dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; serta menganalisis strategi penyuluhan yang dibangun untuk mendukung perikanan berkelanjutan.
Penelitian ini dibangun atas integrasi beberapa pendekatan teoritis utama. Pertama, Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) digunakan untuk menjelaskan perubahan perilaku pada aspek kognitif, konatif, dan psikomotorik. Kedua, pendekatan Gender and Development (GAD) digunakan untuk menganalisis ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari program penyuluhan
Ketiga, perspektif ekofeminisme digunakan untuk memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, namun sering terpinggirkan dalam sistem pengelolaan sumber daya. Keempat, teori keberlanjutan perikanan (fisheries sustainability) digunakan untuk menilai dampak perubahan perilaku terhadap aspek ekologi (stabilitas produksi dan ekosistem), sosial (partisipasi dan keadilan), serta ekonomi (pendapatan dan ketahanan usaha).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research yang dikombinasikan dengan analisis deskriptif dan inferensial. Lokasi penelitian meliputi tiga wilayah pesisir, yaitu Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap, dengan total responden sebanyak 291 pelaku perikanan skala kecil yang terdiri dari nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Variabel penelitian meliputi: penyuluhan perikanan (materi, metode, akses, partisipasi, kontrol, manfaat); perubahan perilaku (kognitif, konatif, psikomotorik); keberlanjutan perikanan (ekologi, sosial, ekonomi). Analisis data dilakukan menggunakan: analisis deskriptif untuk melihat rerata skor dan distribusi perilaku; analisis gender; dan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antarvariabel.
Penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap berada pada kategori sedang (L: 48,3%; P:47,0%), atau belum sepenuhnya responsif terhadap perspektif gender; perubahan perilaku pelaku perikanan skala kecil berada pada kategori sedang yang dikontribusikan dari aspek kognitif (L:62,7%; P:52,9%), konatif (L:56,4%; P:56,5%), dan keterampilan (L:57,5%; P:54,1%), dapat dikatakan mampu meningkatkan pengetahuan pelaku perikanan, namun demikian, belum sepenuhnya mencerminkan transformasi perilaku yang kuat dalam praktik usaha perikanan sehari-hari; keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di tiga lokasi penelitian pada kategori sedang yaitu aspek ekologi (L:56,2%; P:52,4%), sosial (L:51,7%;P; 36,3%), dan ekonomi (L:44,0%; P:34,7%), dapat dikatakan bahwa praktik usaha perikanan yang dilakukan oleh pelaku perikanan telah mulai mengarah pada upaya pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, namun belum sepenuhnya mencapai kondisi yang optimal baik pada aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.
Faktor-faktor yang memengaruhi penyelenggaraan penyuluhan perikanan dalam penelitian ini adalah dukungan penyuluhan (T-value 7.830) dan nilai budaya masyarakat pesisir (T-value 2.883), atau hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan penyuluhan belum secara optimal mampu merefleksikan kapasitas dan frekuensi yang secara langsung menumbuhkan kesadaran pelaku perikanan dalam kegiatan penyuluhan. Nilai budaya masyarakat pesisir juga belum memiliki peran seutuhnya dalam memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyuluhan perikanan. Nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat pesisir pada dasarnya mencerminkan hubungan sosial masyarakat, relasi gender dalam rumah tangga perikanan, serta kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Nilai-nilai tersebut memengaruhi cara masyarakat memandang kegiatan penyuluhan perikanan serta memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola sumber daya perikanan. Strategi penyuluhan perikanan yang dibangun dalam penelitian ini adalah strategi penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan melalui pendekatan input–process–output–outcome.
Penelitian ini memiliki beberapa kebaruan utama pada model integratif, yaitu hubungan penyuluhan–perubahan perilaku–keberlanjutan dalam perikanan skala kecil dengan menggabungkan teori Theory of Planned Behavior (TPB), Gender and Development (GAD), dan ekofeminisme (lingkungan dan perempuan). Integrasi analisis gender dan analisis struktural dalam penelitian penyuluhan perikanan. Model penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan di penelitian. Strategi penyuluhan perikanan berperspektif gender untuk keberlanjutan perikanan adalah kebaruan strategis penelitian ini yang disusun menggunakan pendekatan input-process-output-outcome (David, 2011).
Collections
- DT - Human Ecology [645]

