| dc.description.abstract | IRFAN SAID. Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif terhadap Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan. Dibimbing oleh DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI dan ANNISA UTAMI SEMINAR.
Kegemukan pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi obesitas pada remaja telah meningkat secara signifikan, dengan dampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan metabolik, dan masalah psikologis. Di Indonesia, pada tahun 2018, prevalensi kegemukan pada remaja usia 13-15 tahun tercatat sebesar 16%, dengan 4,8% di antaranya mengalami obesitas. Penyebab utama kegemukan pada remaja adalah pola makan yang tidak sehat, seperti tingginya konsumsi makanan cepat saji yang kaya akan lemak, gula, dan garam, serta rendahnya tingkat aktivitas fisik. Faktor tidak langsung, seperti pengetahuan gizi dan sikap terhadap pola makan, juga berperan penting dalam meningkatkan risiko obesitas. Edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, telah dipertimbangkan sebagai sarana efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan memengaruhi perubahan perilaku makan serta aktivitas fisik remaja. Media sosial memungkinkan penyampaian informasi yang menarik, interaktif, dan mudah diakses, yang dapat mendorong remaja untuk mengubah kebiasaan makan mereka serta meningkatkan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Kegemukan pada remaja telah menjadi masalah kesehatan yang signifikan, dengan prevalensinya yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa penyebab utama kegemukan pada remaja adalah ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, yang dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat dan rendahnya aktivitas fisik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, dapat mempengaruhi perubahan perilaku makan dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.
Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan metode pre-post test control group. Subjek penelitian terdiri dari remaja berusia 15-17 tahun yang dipilih dari dua sekolah di Jakarta Selatan, yang memiliki prevalensi obesitas tinggi. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah survei pendahuluan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kegemukan pada remaja, seperti pola makan, aktivitas fisik, pengetahuan, sikap, dan status gizi. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor yang paling signifikan terkait kegemukan adalah rendahnya tingkat aktivitas fisik dan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, gula, dan lemak. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan media edukasi pada tahap selanjutnya.
Pada tahap kedua, dikembangkan media edukasi berbasis TikTok, yang terdiri dari video pendek yang menarik dan informatif tentang pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik. Media ini dirancang khusus agar sesuai dengan karakteristik remaja dan diterima dengan baik oleh mereka. Uji coba terhadap media edukasi ini menunjukkan respons yang sangat positif dari remaja, dengan tingkat keterlibatan yang tinggi.
Tahap ketiga adalah intervensi dengan menggunakan media edukasi TikTok yang berlangsung selama enam minggu. Kelompok intervensi mendapatkan edukasi melalui media tersebut, sementara kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah intervensi untuk menilai perubahan perilaku makan, aktivitas fisik, dan status gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan berat badan (BMI) pada kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan, dengan rata-rata BMI sebelum intervensi adalah 30,8±5,4 kg/m², yang turun menjadi 29,8±5,7 kg/m² setelah intervensi, dengan nilai P<0,01. Selain itu, aktivitas fisik kelompok intervensi meningkat secara signifikan, dengan rata-rata perubahan aktivitas fisik sebesar 8,9±4,3 menit/hari, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan sebesar -13,8±3,3 menit/hari, dengan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P<0,001). Selain itu, asupan lemak pada kelompok intervensi juga mengalami penurunan yang signifikan.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis media interaktif, seperti TikTok, efektif dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku makan, dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Oleh karena itu, media sosial dapat dijadikan sarana yang efektif untuk penyuluhan gizi, membantu remaja mengubah kebiasaan makan mereka dan meningkatkan tingkat aktivitas fisik, yang pada gilirannya dapat membantu mengatasi masalah obesitas pada remaja | |
| dc.description.abstract | IRFAN SAID. The Effect of Interactive Media-Based Nutrition Education on Eating Behavior and Physical Activity of Overweight Adolescents. Supervised by DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI and ANNISA UTAMI SEMINAR.
Obesity in adolescents is a health problem that is increasing around the world, including in Indonesia. The prevalence of obesity in adolescents has increased significantly, with adverse long-term health impacts, including an increased risk of degenerative diseases such as type 2 diabetes, hypertension, metabolic disorders, and psychological problems. In Indonesia, in 2018, the prevalence of obesity in adolescents aged 13-15 years was recorded at 16%, with 4.8% of them being obese. The main cause of obesity in adolescents is an unhealthy diet, such as high consumption of fast food rich in fat, sugar, and salt, as well as low levels of physical activity. Indirect factors, such as nutritional knowledge and attitudes towards diet, also play an important role in increasing the risk of obesity. Nutrition education based on interactive media, especially using social media such as TikTok, has been considered as an effective means to increase knowledge and influence changes in adolescents' eating behavior and physical activity. Social media allows for the delivery of engaging, interactive, and accessible information, which can encourage teens to change their eating habits as well as increase physical activity. This study aims to test the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents.
This study aims to analyze the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents. Childhood obesity has become a significant health problem, with its prevalence steadily increasing around the world, including in Indonesia. Data show that the main cause of obesity in adolescents is an imbalance between energy intake and energy expenditure, which is affected by an unhealthy diet and low physical activity. Therefore, this study aims to explore whether nutrition education based on interactive media, particularly using social media such as TikTok, can influence changes in eating behavior and increase physical activity in obese adolescents.
This study uses a quasi-experimental design with a pre-post test control group method. The study subjects consisted of adolescents aged 15-17 years who were selected from two schools in South Jakarta, which had a high prevalence of obesity. The research was conducted in three stages. The first stage is a preliminary survey to identify factors that affect obesity in adolescents, such as diet, physical activity, knowledge, attitudes, and nutritional status. The survey results showed that the most significant factors related to obesity were low levels of physical activity and consumption of fast food that was high in calories, sugar, and fat. These findings are the basis for the development of educational media at the next stage.
In the second stage, TikTok-based educational media was developed, which consisted of interesting and informative short videos about healthy eating and the importance of physical activity. This media is specifically designed to fit the characteristics of teenagers and be well received by them. This trial of educational media showed a very positive response from adolescents, with a high level of engagement.
The third stage is an intervention using TikTok educational media which lasts for six weeks. The intervention group received education through the media, while the control group did not receive the intervention. Measurements were taken before and after the intervention to assess changes in eating behavior, physical activity, and nutritional status. The results showed that the change in body weight (BMI) in the intervention group showed a significant decrease, with the mean BMI before the intervention being 30.8±5.4 kg/m², which dropped to 29.8±5.7 kg/m² after the intervention, with a P value of < 0.01. In addition, the physical activity of the intervention group increased significantly, with an average change in physical activity of 8.9±4.3 minutes/day, while in the control group there was a decrease of -13.8±3.3 minutes/day, with significant differences between the two groups (P<0.001). In addition, fat intake in the intervention group also decreased significantly.
Overall, the results of this study show that nutrition education based on interactive media, such as TikTok, is effective in increasing knowledge, changing eating behaviors, and increasing physical activity in obese adolescents. Therefore, social media can be used as an effective means for nutrition counseling, helping adolescents change their eating habits and increase physical activity levels, which in turn can help overcome the problem of obesity in adolescents | |