| dc.description.abstract | Udang merupakan salah satu komoditas strategis pada sektor perikanan Indonesia yang memiliki peran penting dalam perdagangan global, peningkatan devisa negara, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi nasional. Sebagai salah satu produsen dan eksportir utama dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri udang, baik untuk pasar domestik maupun internasional. Namun demikian, posisi Indonesia dalam rantai nilai global udang masih menghadapi tantangan struktural, kelembagaan, dan daya saing. Struktur industri udang nasional masih didominasi oleh ekspor produk primer, khususnya udang beku, sementara distribusi nilai tambah terbesar dinikmati oleh sektor pengolahan dan eksportir. Di sisi hulu, petambak sebagai aktor utama produksi masih menghadapi kendala seperti tingginya biaya pakan, keterbatasan benur unggul, rendahnya adopsi teknologi, serangan penyakit, lemahnya akses pembiayaan, serta posisi tawar yang rendah dalam sistem pemasaran. Sementara itu, pada sisi hilir, industri udang Indonesia juga menghadapi tekanan berupa standar internasional yang semakin ketat, hambatan non-tarif seperti Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT), serta persaingan global yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut menunjukan perlunya transformasi menyeluruh melalui penguatan rantai nilai global yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Melihat kondisi dan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis rantai nilai global udang Indonesia secara komprehensif melalui enam dimensi utama, yaitu struktur rantai nilai, aktor rantai nilai, kelembagaan, tata kelola, cakupan geografis, dan upgrading rantai nilai. Penelitian ini secara khusus bertujuan memetakan struktur dan aktor yang terlibat dalam rantai nilai global udang Indonesia, menganalisis kelembagaan dan tata kelola yang membentuk hubungan antaraktor, mengevaluasi daya saing udang Indonesia dan potensi perdagangan udang Indonesia di pasar global serta merumuskan strategi upgrading kinerja rantai nilai untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam GVC udang dunia. Penelitian dilakukan di dua wilayah utama produksi, yaitu Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Kebumen dengan menggunakan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis dilakukan melalui pemetaan rantai nilai, pengukuran margin pemasaran antaraktor, analisis tata kelola berbasis kompleksitas transaksi, kodifikasi informasi, dan kapabilitas pemasok, serta analisis daya saing menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD), X-model, regresi data panel, dan analisis potensi perdagangan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa aktor rantai nilai global udang Indonesia terdiri atas petambak, pedagang besar, pedagang pengecer, industri pengolahan, eksportir, serta konsumen domestik dan internasional. Dalam aktor rantai nilai udang, petambak berperan sebagai produsen utama, namun nilai tambah yang diperoleh relatif lebih rendah dibandingkan aktor hilir seperti industri pengolahan dan eksportir. Nilai tambah terbesar terkonsentrasi pada sektor hilir karena kemampuan pengolahan, standarisasi mutu, akses pasar ekspor, serta penguasaan informasi pasar global. Temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih cenderung berada pada posisi produksi berbasis komoditas primer dengan keterbatasan di tingkat hulu. Ketimpangan distribusi nilai tambah ini menegaskan bahwa petambak masih menghadapi keterbatasan dalam menangkap manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai nilai global.
Penelitian menunjukkan pola tata kelola rantai nilai udang Indonesia cenderung modular. Petambak memiliki ketergantungan tinggi terhadap pedagang dalam akses pembiayaan, pemasaran, dan informasi pasar, sehingga posisi tawar petambak cenderung lemah. Kelembagaan formal seperti sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) serta standar ekspor internasional telah tersedia, namun implementasinya belum merata, khususnya pada petambak skala kecil dan menengah. Fragmentasi kelembagaan, lemahnya organisasi kolektif seperti koperasi, serta keterbatasan koordinasi antaraktor menyebabkan integrasi petambak ke pasar global belum optimal. Dengan demikian, penguatan kelembagaan menjadi faktor penting untuk memperbaiki posisi tawar dan kapasitas adaptif petambak dalam memenuhi standar global.
Pada dimensi cakupan geografis, penelitian memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki daya saing global yang relatif kuat di beberapa pasar utama, terutama Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Asia. Meskipun demikian, ekspor Indonesia masih sangat terkonsentrasi pada pasar tertentu, khususnya Amerika Serikat, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kebijakan perdagangan, fluktuasi permintaan, dan tekanan persaingan. Analisis daya saing dan aliran perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara potensial lainnya melalui strategi diversifikasi pasar. Faktor-faktor seperti GDP, jarak ekonomi, populasi, hambatan perdagangan dan daya saing terbukti memengaruhi aliran ekspor udang Indonesia. Oleh karena itu, penguatan posisi geografis perdagangan tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga strategi penetrasi pasar yang lebih adaptif dan terdiversifikasi.
Penelitian menegaskan bahwa strategi upgrading rantai nilai udang menjadi kunci utama dalam meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Process upgrading perlu dilakukan melalui penerapan Good Aquaculture Practices (GAP), penguatan CBIB, penggunaan benur unggul, efisiensi pakan, biosekuriti, dan modernisasi teknologi budi daya. Product upgrading dilakukan melalui diversifikasi produk olahan bernilai tambah tinggi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor udang beku. Functional upgrading diarahkan pada peningkatan kapasitas petambak melalui penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta keterlibatan lebih besar dalam proses distribusi dan pemasaran. Sementara itu, chain upgrading dapat dilakukan dengan perluasan pasar ekspor yang baru. Kombinasi keempat bentuk upgrading tersebut menjadi landasan strategis dalam meningkatkan daya saing, nilai tambah domestik, dan kesejahteraan aktor rantai nilai.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam rantai nilai global udang, namun posisinya masih belum optimal dalam penciptaan dan distribusi nilai tambah. Penguatan daya saing nasional memerlukan transformasi struktural yang tidak hanya berfokus pada peningkatan peningkatan produksi, tetapi pada penguatan sektor hulu, modernisasi teknologi, perbaikan kelembagaan, hilirisasi industri, dan diversifikasi pasar ekspor. Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan volume produksi dan ekspor, tetapi memperkuat nilai tambah domestik, meningkatkan kesejahteraan petambak, serta membangun industri udang nasional yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika perdagangan global. | |