| dc.description.abstract | Industri fashion merupakan salah satu industri kreatif yang memberikan
kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi Produk
Domestik Bruto (PDB), ekspor, maupun penyerapan tenaga kerja. Saat ini industri
fashion tumbuh dan berkembang pesat, menciptakan ekosistem yang memberikan
dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif. Namun, daya saing industri ini
masih menghadapi tantangan besar, seperti ketergantungan pada impor bahan baku,
rendahnya kolaborasi antar pelaku rantai pasok, lemahnya pemanfaatan teknologi
digital, perubahan permintaan secara mendadak yang mempengaruhi perubahan
jumlah pemesanan bahan baku kepada supplier sehingga tidak semua supplier
mampu memenuhi pesanannya, ditemukan bahan baku yang cacat, lama waktu
pengiriman bahan baku kepada perusahaan dan produk yang dikembalikan kepada
perusahaan karena tidak sesuai dengan pesanan, banjirnya produk impor pakaian
jadi dan kurangnya inovasi produk. Kondisi tersebut dibutuhkan pendekatan
komprehensif yang mampu menggabungkan evaluasi kinerja, analisis kompetitif
serta pemodelan strategi untuk peningkatan daya saing industri fashion, untuk itu
dibutuhkan pengembangan Model Pengambilan Keputusan untuk Peningkatan
Daya Saing Industri Fashion dengan Pendekatan Kolaborasi Rantai Pasok. Model
yang diusulkan bertujuan untuk membantu pemangku kepentingan dalam
mengembangkan strategi berdasarkan data dan mendorong kolaborasi antara
berbagai kelompok. Studi ini menggunakan Metodologi Sistem Lunak (SSM),
sebuah metode untuk menganalisis masalah kompleks yang melibatkan banyak
orang dan organisasi, dengan tujuan membantu semua pihak yang terlibat mencapai
kesepakatan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method yang memadukan
analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Data
Envelopment Analysis (DEA) untuk menilai efisiensi operasional 23 perusahaan
fashion muslim di Jakarta sebagai Decision Making Units (DMU), sedangkan
analisis kompetitif dilakukan dengan menggunakan Porter’s Five Forces untuk
mengukur intensitas persaingan. Selanjutnya, penentuan bobot prioritas strategi
dilakukan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP) selanjutnya pengukuran
indikator kinerja rantai pasok diidentifikasi dan diukur dengan pendekatan Supply
Chain Operations Reference-Decision Support (SCOR-DS), dan Analytic Network
Process (ANP). Hasilnya kemudian dikombinasikan dengan Balanced Scorecard
(BSC) sebagai kerangka formulasi strategi, yang selanjutnya diwujudkan dalam
bentuk model pengambilan keputusan.
Temuan studi menunjukkan bahwa perusahaan mode menunjukkan tingkat
efisiensi yang bervariasi, dengan sekitar sepertiga di antaranya diklasifikasikan
sebagai efisien. Waktu tunggu, biaya produksi, ketepatan pengiriman, dan
kemampuan beradaptasi terhadap perubahan permintaan pasar merupakan faktor
utama yang menentukan baik efisiensi maupun daya saing. Analisis SCOR-DS
mengungkapkan bahwa indikator kinerja yang paling menentukan daya saing
adalah reliability (keandalan pengiriman), responsiveness (kecepatan merespons
permintaan), agility (kemampuan beradaptasi), cost (efisiensi biaya), dan asset
management (pengelolaan sumber daya). Analisis AHP dan ANP menunjukkan
bahwa prioritas strategi peningkatan kinerja lebih berfokus pada kolaborasi vertikal
(antara pemasok–produsen–distributor) dibandingkan kolaborasi horizontal (antar
produsen).
Kebaruan penelitian adalah pengembangan Model Pengambilan Keputusan
berbasis SSM yang mengintegrasikan analisis efisiensi operasional (DEA), tekanan
persaingan industri (Porter’s Five Forces), penentuan prioritas strategi kolaboratif
(AHP), penentuan keterkaitan antar elemen satu dengan yang lain (ANP) dan peta
strategi yang menghubungkan tujuan strategis dan indikator kinerja (BSC). Model
ini tidak hanya mampu bersifat evaluatif, tetapi juga mampu menghasilkan
rekomendasi strategis yang terstruktur dan siap diimplementasikan melalui model
pengambilan keputusan.
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pengambilan Keputusan
dengan pendekatan kolaborasi rantai pasok dapat meningkatkan efisiensi,
memperkuat daya saing, dan memberikan keunggulan strategis bagi industri
fashion Indonesia. Kontribusi penelitian ini bersifat teoritis dan praktis. Secara
teoritis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pengetahuan yang ada
mengenai integrasi Analisis Envelope Data (DEA), Lima Kekuatan Porter, Proses
Hirarki Analitis (AHP), Desain Referensi Operasi Rantai Pasokan dan Pasokan
(SCOR-DS), Proses Jaringan Analitis (ANP), dan metodologi Kartu Skor Seimbang
dalam pengembangan Model Pengambilan Keputusan di industri fashion. Secara
praktis, model pengambilan keputusan ini menyediakan alat strategis bagi
pemangku kepentingan industri dan berfungsi sebagai landasan untuk pembentukan
kebijakan pemerintah terkait industri mode nasional.
Namun, keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan datanya, yang
terbatas pada perusahaan mode Muslim yang beroperasi di Jakarta; oleh karena itu,
penerapan model ini memerlukan perluasan untuk mencakup wilayah geografis
lainnya. Selain itu, aspek sosial, lingkungan dan keberlanjutan belum digali secara
mendalam, sehingga menjadi peluang penelitian lanjutan. Dengan demikian,
penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan daya saing industri fashion
Indonesia dapat dicapai melalui kolaborasi rantai pasok yang efektif dan
pengambilan keputusan berbasis DSS. | |