| dc.description.abstract | Budi daya tanaman bawang putih di Indonesia umumnya dikembangkan di daerah dataran tinggi dengan tanah yang subur. Bawang putih lokal merupakan hasil seleksi varietas oleh penangkar dan adaptasi terhadap kondisi agroekologi setempat. Varietas yang umum dibudidayakan adalah ‘Lumbu Putih’, ‘Lumbu Kuning’, dan ‘Lumbu Hijau’. Selain itu, terdapat varietas unggul yang dikembangkan secara spesifik di daerah tertentu, antara lain Tawangmangu Baru asal Tawangmangu, ‘Geol’ asal Temanggung, dan ‘Sangga Sembalun’ asal Sembalun.
Produksi bawang putih lokal di Indonesia pada 2015–2022 rata-rata 57.119 ton/tahun. Di sisi lain, rata-rata konsumsi mencapai 665.033 ton/tahun, menyebabkan ketergantungan terhadap bawang putih impor. Impor bawang putih sebagian besar dipasok dari Cina, Taiwan, dan Amerika Serikat. Tingginya volume impor ini berpotensi terintroduksinya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) melalui bahan perbanyakan tanaman. Pemerintah merumuskan kebijakan tata niaga dan perlindungan petani lokal melalui regulasi impor.
Kementerian Pertanian menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) melalui Permentan nomor 24 tahun 2018 yang mewajibkan importir menanam dan menghasilkan 5% bawang putih dari volume impor. Program RIPH pada periode 2017–2019 bawang putih impor varietas ‘Great Black Leaf’ (GBL) asal Cina digunakan sebagai bahan perbanyakan karena ketersediaan benih lokal sangat terbatas. Introduksi bawang putih impor pada program RIPH dapat menyebabkan infestasi OPTK A1 di lahan pertanaman bawang putih lokal. Laporan terkait keberadaan Ditylenchus spp. dan Aphelenchoides spp. pada tanaman bawang putih lokal perlu dikonfirmasi untuk mencegah risiko penyebaran dan menjadi salah satu faktor penghambat budi daya.
Pengamatan insidensi penyakit dan pengambilan sampel bawang putih lokal dilakukan di 43 lahan bekas penanaman bawang putih impor di Kabupaten Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) dan Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah). Informasi mengenai teknik budi daya dilakukan melalui wawancara 43 petani secara langsung. Pengambilan sampel tanah dan tanaman dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria tanaman kerdil secara mengelompok, serta memiliki ujung daun menguning dan terpilin. Data informasi hubungan budi daya dan agroklimat terhadap insidensi penyakit dianalisis dengan uji Chi-square. Bawang putih impor diperoleh dari Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) serta pasar tradisional yang dipilih dengan metode random sampling.
Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode flotasi sentrifugasi, pengabutan (mist chamber) dan modifikasi corong Baermann untuk sampel, tanah, sampel akar, serta sampel umbi dan daun. Ekstraksi DNA dilakukan dengan metode Holterman melalui homogenisasi 1–3 ekor nematoda ke dalam worm lysis buffer.
Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati karakteristik kunci spesies mulai dari bagian anterior hingga posterior, sementara pengukuran morfometrik nematoda dilakukan berdasarkan formula De Man. Identifikasi secara molekuler dilakukan dengan PCR menggunakan primer universal (D2A-D3B) yang menargetkan gen 28S rRNA pada nematoda. Konfirmasi spesies fitonematoda OPTK dilakukan dengan primer spesifik Ditylenchus destructor dengan target ITS-rDNA dan Aphelenchoides fragariae (AFragF1-AFragR1) yang menargetkan daerah internal transcribed space (ITS1) nematoda. Runutan DNA hasil amplifikasi menggunakan primer universal D2A-D3B dianalisis melalui penyejajaran berganda ClustalW menggunakan BioEdit versi 7.2.5 dan analisis homologi menggunakan software SDT versi 1.3. Konstruksi filogenetik dilakukan dengan metode Maximum likelihood dan model Kimura 2-parameter 1000 bootstrap pada perangkat lunak MEGA 12.0.
Faktor budi daya dan agroklimat berhubungan dengan insidensi penyakit fitonematoda pada bawang putih lokal. Faktor tersebut meliputi penggunaan mulsa, penggunaan herbisida, jenis pengairan, tekstur tanah, pH tanah, suhu tanah, kemiringan lahan, serta ketinggian lahan. Pengamatan gejala penyakit akibat fitonematoda di lahan menunjukkan dua tipe gejala, yaitu nekrosis pada tajuk dan puru pada perakaran. Gejala nekrotik dan penyempitan daun dapat disebabkan oleh nematoda daun dari genus Aphelenchoides, sedangkan gejala puru pada perakaran disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Insidensi penyakit akibat fitonematoda di Lombok Timur menunjukkan seluruh varietas memiliki nilai insidensi relatif rendah <30%. Sebaliknya, di Temanggung insidensi penyakit cenderung lebih tinggi, terutama pada varietas ‘Geol’ yang mencapai 34,5%.
Analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler menunjukkan bahwa fitonematoda (OPTK) A2, yaitu A. fragariae ditemukan pada kedua sentra produksi bawang putih lokal. Spesies lain yang ditemukan adalah A. bicaudatus, A. varicaudatus, dan A. pseudogoodeyi. Selain itu, M. incognita dan D. ferepolitor hanya ditemukan dari sampel Temanggung. D. destructor adalah OPTK A1 yang ditemukan terintersepsi pada sampel bawang putih impor dari pasar tradisional dan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT).
Ciri morfologi Aphelenchoides yaitu bibir offset, metakorpus hampir memenuhi rongga tubuh, dan esofagus yang tumpang tindih atau overlap dengan usus. Pembeda antar spesies dapat dilihat dari bentuk mukro pada ujung ekor. Karakteristik morfometrik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa panjang tubuh (L), panjang stilet, rasio panjang dan lebar tubuh (a), rasio panjang tubuh dan panjang ekor (c), panjang ekor, serta panjang post uterine sac (PUS) dapat menjadi pembeda antar spesies pada betina. Morfologi M. incognita pada fase juvenil dua (J2) memiliki bentuk vermiform, bibir non offset, stilet pendek dengan knob tebal, dan ujung ekor memiliki hyaline. Morfologi D. ferepolitor bibir sedikit offset, stilet sangat pendek dengan knob kecil dan tebal, serta memiliki enam incisures pada bidang lateral.
Analisis molekuler pada enam spesies fitonematoda isolat Temanggung dan Lombok Timur dilakukan menggunakan primer D2A–D3B dengan target gen 28S rRNA (region D2–D3) berhasil teramplifikasi dengan fragmen berukuran ±780 pasang basa (pb). Hasil analisis penyejajaran pada masing-masing sekuens penelitian dengan sekuens pembanding menunjukkan adanya variasi nukleotida. Nilai pairwise identity pada masing-masing isolat berada di atas 90% dan memiliki kekerabatan terhadap isolat pembanding dari berbagai negara dan inang yang berbeda. Tingginya tingkat kemiripan ini mengindikasikan bahwa isolat yang diperoleh dari kedua lokasi memiliki kekerabatan yang dekat dengan spesies yang telah dilaporkan sebelumnya, meskipun berasal dari inang dan lokasi geografis yang berbeda. Konfirmasi spesies A. fragariae menggunakan primer spesifik AFragF1-AFragR1 berhasil teramplifikasi dengan ukuran fragmen ±169 pb. Selain itu, konfirmasi spesies D. destructor dari bawang putih impor menggunakan primer spesifik dengan gen target ITS-1 berhasil teramplifikasi dengan ukuran fragmen ±780 pb. | |