| dc.description.abstract | Suaka Margasatwa Pulau Rambut (SMPR) merupakan pulau kecil di Kepulauan Seribu yang dikenal sebagai habitat penting bagi burung air. Namun berbagai gangguan ekologis seperti aktivitas manusia, akumulasi sampah laut, serta peristiwa tumpahan minyak berpotensi memengaruhi kondisi ekosistem dan keanekaragaman fauna lain, termasuk reptil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi populasi biawak air Asia (Varanus salvator), pola distribusi, serta mendata keberadaan reptil lain dalam konteks pascainsiden tumpahan minyak di Pulau Rambut. Pengumpulan data dilakukan melalui survei sensus menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES) pada 49 grid pengamatan yang mencakup berbagai tipe habitat di pulau tersebut. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah individu untuk estimasi populasi, kelas umur, aktivitas individu saat dijumpai, lokasi bersarang, kondisi lingkungan, serta titik koordinat perjumpaan untuk analisis distribusi spasial. Selama 24 hari pengamatan tercatat sebanyak 392 perjumpaan biawak air Asia dengan estimasi jumlah populasi tertinggi mencapai 35 individu. Rata-rata ukuran populasi harian diperkirakan sebesar 16,33 individu, dengan rata-rata perjumpaan sekitar 8 individu per grid pengamatan (n=49). Perbandingan dengan data tahun-tahun sebelumnya menunjukkan adanya penurunan estimasi populasi yang signifikan hingga 228 individu dengan kepadatan populasi sebesar 5,06 individu per hektar. Struktur umur populasi didominasi oleh individu dewasa tua (47,4%), sedangkan proporsi juvenil relatif rendah (17,3%). Aktivitas biawak saat perjumpaan didominasi oleh mobilitas (34,44%), diikuti aktivitas mencari makan (28,57%) dan berenang (15,31%), sedangkan aktivitas seperti kawin, menggali tanah, dan minum tergolong jarang dijumpai. Analisis distribusi spasial menghasilkan pola penyebaran yang tidak merata dan cenderung berkelompok (clumped), dengan konsentrasi populasi di beberapa spot habitat tertentu. Analisis feses menunjukkan keberadaan sisa pakan alami dan juga ditemukan material plastik. Selain biawak air Asia, penelitian ini mencatat keberadaan 7 spesies reptil lain, lebih rendah dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 11 spesies pada tahun 2018. Simpulan dari penelitian ini menegaskan adanya perubahan populasi dan distribusi dari biawak air Asia maupun reptil lain yang berkorelasi secara spasial dan temporal. Hal tersebut diduga dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor seperti dampak kontaminasi tumpahan minyak, akumulasi sampah laut, serta tekanan perubahan iklim, namun tidak dapat disimpulkan sebagai hubungan kausal langsung. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang pencemaran dan perubahan iklim terhadap struktur populasi serta keberlanjutan ekosistem pulau kecil. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengelolaan konservasi Pulau Rambut yang selama ini lebih berfokus pada burung air, agar juga mempertimbangkan peran penting reptil sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. | |